oleh

Bom Bunuh Diri meledak pada Konvoi Bus di Syria

PENANEGERI, Desk Internasional- Setidaknya  duapuluh orang lebih tewas pada Sabtu (15/4) ketika sebuah ledakan dashyat menghantam konvoi bus di daerah Rashidin di pinggiran Aleppo, di mana bus  telah menunggu untuk menyeberang dari wilayah yang dikuasai pemberontak, ke kota yang dikuasai pemerintah Bashar al- Assad.

Konvoi bus ini  membawa orang-orang yang telah dievakuasi dari dua desa Syiah yakni al Fuaa dan Kafrya, Syria,  yang dikuasai pemberontak untuk menuju kawasan kota Allepo yang dikuasai pemerintah Bashar Al-Assad.

Mereka telah menunggu sejak Jumat untuk menyeberang dari wilayah yang dikuasai oposisi pemberontak, ke kota yang dikuasai pemerintah, ketika pembom bunuh diri menyerang.

Pengungsi, bersama ratusan pejuang pro-pemerintah, telah meninggalkan dua kawasan yakni al Fuaa dan Kafrya yang dikuasai pemberontak di barat laut provinsi Idlib, di bawah kesepakatan pertukaran, di mana ratusan gerilyawan pemberontak oposisi Sunni dan keluarga mereka pindah dari daerah yang dikuasai pemerintah di dekat Damaskus.

Warga al Fuaa dan Kafrya telah dikepung oleh pasukan pemberontak sejak Maret 2015, dan akhirnya dalam sebuah kesepakatan antara pemberontak oposisi dan pemerintah, warga  al Fuaa dan Kafrya dievakuasi ke daerah yang dikendalikan pemerintah Bashar al-Assad,  dalam sebuah kesepakatan yang dicapai antara pemerintah Suriah dan pihak oposisi.

Baca Juga  Salah sasaran, 18 Personil SDF tewas karena Serangan Udara Koalisi AS

Tapi penundaan dalam perjanjian telah menyebabkan semua orang yang tengah dievakuasi terjebak di dua titik transit di pinggiran Aleppo sejak akhir Jumat (14/4).

Perjanjian tersebut merupakan kesepakatan yang baru terjadi selama beberapa bulan terakhir pertikaian.

Di tengah situasi penundaan  dan ketika konvoi hendak meninggalkan wilayah yang dikuasai pemberontak, sebuah  van tiba-tiba  meledak di tengah konvoi bus. Cuplikan dari adegan menunjukkan  asap hitam membumbung tebal.

Ledakan itu menghantam bus di daerah Rashidin di pinggiran Aleppo ini. Kendaraan telah menunggu sejak Jumat untuk menyeberang dari wilayah yang dikuasai pemberontak ke wilayah kota yang dikuasai pemerintah  Bashar al- Assad.

Konvoi itu membawa warga dan pejuang pro-pemerintah dari desa-desa Syiah yang terkepung oleh pemberontak di al-Fuaa dan Kefraya di provinsi dekat propinsi Idlib.

Konvoi  ini adalah dalam rangka kesepakatan pertukaran dengan ratusan gerilyawan Sunni (oposisi) dan keluarga mereka yang diberikan perjalanan yang aman dari Madaya, sebuah kota yang dikepung pemerintah Bashar al Asaad  di dekat Damaskus.

Baca Juga  Turki dan Russia Dorong Terciptanya Zona Aman di Syria

Tapi penundaan dalam perjanjian telah menyebabkan semua orang yang dievakuasi terjebak di titik transit di pinggiran Aleppo sejak akhir Jumat.

Menurut kantor berita Reuters (15/4), warga al-Fuaa dan Kefraya sedang menunggu di daerah Rashidin.

Sedangkan para pemberontak dan penduduk Madaya, dekat Damaskus, sedang menunggu di garasi bus di Ramousah yang dikuasai pemerintah, beberapa mil jauhnya. Mereka akan diangkut ke kubu oposisi di provinsi Idlib.

Ketika itulah ledakan bom bunuh diri ini terjadi, dan menghancurkan sedikitnya empat bus dan beberapa mobil di dekatnya.

Serangan itu mengancam akan membatalkan  kesepakatan antara dua pihak yang bertikai untuk mengevakuasi 30.000 orang dari empat kota  yakni : Madaya, Al-Zabadani, Kefraya and Al-Fuaa, yang telah saling dikepung oleh kedua belah pihak selama bertahun-tahun.

Kawasan Madaya dan Al-Zadabani, yang keduanya terletak sekitar 40 kilometer barat laut Damaskus, saat ini dikepung oleh pasukan pemerintah Bashar al Assad, sementara kawasan Kefraya dan Al-Fuaa di provinsi Idlib barat laut Syria, tetap dikepung oleh pasukan oposisi.

Baca Juga  Drone Iran Ditembak jatuh AS di Suriah

Akibat ledakan bom bunuh diri ini  kesepakatan pertukaran perpindahan antar pihak tersebut telah terhenti, menyebabkan  ratusan orang dari kedua belah pihak  terdampar di dua titik transit di pinggiran kota.

Belum jelas siapa pihak yang bertanggung jawab atas ledakan ini, justru masih terjadi saling tuding diantara kedua belah pihak yang bertikai. (*)

 

Komentar

Berita Terbaru