oleh

BPBA Gelar Kegiatan Simulasi “Aplikasi Cared” Penggunaan Informasi Bencana

PENANEGERI, Banda Aceh – Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) menggelar kegiatan simulasi “Aplikasi Cared” penggunaan informasi bencana, di Aula Kantor BPBA Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh, Senin (10/7).

Kepala BPBA dalam kesempatan tersebut diwakili Kabid Logistik, Saril menyampaikan rasa bangga karena dipercayai untuk menjadi tuan rumah kegiatan simulasi “Aplikasi Cared” dari Osaka University.

Dirinya berharap kepada para peserta yang sudah hadir agar mengikuti simulasi “Aplikasi Cared” ini karena simulasi “Aplikasi Cared” ini adalah aplikasi yang pertama kali digunakan di Aceh.

“Aplikasi ini sangat mudah digunakan dan dapat memahami perkembangan bantuan yang sedang berlangsung,” katanya.

Profesor Tsukamoto dari Respect Program, Osaka University pada paparannya menyampaikan bahwa “Cared” adalah sistem yang dapat menyajikan data untuk tiap-tiap daerah memperkirakan kondisi daerah bencana, serta membuat perencanaan bantuan darurat serta dapat diakses dalam beberapa bahasa.

“Cared akan membubuhkan titik di peta dalam tiga warna, yakni kuning dan hijau sesuai dengan tingkat keparahannya melalui ponsel pintar atas pertanyaan seputar kondisi lokasi,” paparnya.

Sesuai fungsinya sebagai sensor manusia, Cared dapat mengumpulkan informasi dari Line pengguna. Hasil analisis informasi divisualisasikan dan ditayangkan dalam data statistik berupa grafik dan tampilan pada peta.

“Cared” dapat mengumpulkan informasi mitigasi bencana dalam cakupan area luas wide area, serta perencanaan terkait bantuan bencana. Pasca bencana sistem dapat menganalisis kondisi korban bencana secara kronologis setiap minggunya, sehingga pengguna dapat memahami perkembangan bantuan bencana yang sedang berlangsung.

“Sebagai langkah mitigasi bencana terhadap warga asing di Jepang, bekerja sama dengan kedutaan besar dan konsulat jenderal, Cared dapat menganalisis korban bencana, dapat dipergunakan sebagai pedoman bencana bagi wisatawan asing,” lanjutnya.

Pedoman umum tentang tiap-tiap jenis bencana dapat diakses dalam 12 bahasa yaitu Bahasa Indonesia Jawa, Inggris, Jepang, Korea, Mandarin, Prancis, Jerman, Thailand, Portugis, Spanyol, Vietnam dan Tagalog. Jumlah bahasa akan ditingkatkan menjadi sekitar 20 bahasa sebelum Olimpiade Tokyo tahun 2020.

Sistem ini juga dapat membantu dalam mempertimbangkan tindakan yang perlu diambil pada saat terjadinya puncak infeksi dan dapat digunakan dalam pemetaan penyebaran penyakit menular pada ternak, seperti penyakit mulut dan kuku. Selain itu, pemetaan bahaya salju juga dapat dimanfaatkan oleh manajemen di pos masuk gunung.

Pengguna dapat mengirim informasi keselamatan baik sebagai SMS maupun e-mail ke sejumlah penerima. Sistem konfirmasi keselamatan ditampilkan dalam warna yang berbeda.

“Apabila tiba-tiba terperangkap di dalam situasi berbahaya seperti bencana dan teror, pengguna dapat menggunakan menu “Tombol Panik” dan mengirimkan rekaman suara hingga 10 detik”, sambung Tsukamoto.

Di Jepang, Cared dapat digunakan sebagai alat laporan oleh warga yang tinggal di 520.000 lokasi rawan longsor. Laporan juga dapat dilakukan ketika menemukan tanda-tanda mata air atau mendengar suara gemuruh di daerah pegunungan. [PN 0007].

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *