oleh

Bupati Amru : Dua Event Besar Ditutup Hari Ini

PENANEGERI, Gayo Lues – Bupati Kabupaten Gayo Lues, H Muhammad Amru mengatakan, dua event besar yang berlangsung di Gayo Lues, akan ditutup hari ini.

Dua event itu diantaranya, GAMIFest yang dibuka di Kabupaten Aceh Tengah pada 14 September 2018 lalu serta Festival Bejamu Saman “Roa Lo Roa Ingi” (Dua hari dua malam) yang dikemas dalam program Indonesiana, sejak 2 Oktober 2018 kemarin, yang pembukaannya dilakukan di Gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta, yang diawali dengan seminar Tari Saman.

Hal itu dikatakan Muhammad Amru, saat menyampaikan sambutannya, di acara penutupan GAMIFest dan Indonesiana, yang berlangsung di Stadion Seribu Bukit, Blangkejeren, Sabtu (24/11).

Dijelaskannya, kedua event tersebut merupakan usaha yang strategis, dalam rangka mempercepat pembangunan di empat wilayah tengah yaitu, Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah, Aceh Tenggara dan Kabupaten Gayo Lues.

“Isu strategis ini, tentu menyahuti keinginan Presiden Republik Indonesia, Joko Wododo, untuk membangun Indonesia dari pinggiran,” jelas Amru.

Namun demikian, sambungnya, pinggiran bukan hanya dari pedesaan, melainkan wilayah yang jauh dari jangkauan Pusat Pemerintahan di Jakarta, seperti, pedalaman di Provinsi Aceh yakni wilayah Tengah Aceh, yang menjadi pekerjaan rumah paling besar Pemerintah Indonesia saat ini.

Baca Juga  Tim PHO Beserta TP4D Tinjau Proyek Irigasi Kute Lesung

“Kami tidak ingin, pekerjaan besar bangsa ini hanya ditanggung oleh Pemerintah Pusat, akan tetapi, kami juga ikut bertanggung jawab atas semua itu,” beber Bupati.

Oleh sebab itu, dengan kemampuan yang ada, Isu Strategis yang di beri nama GAMIFest merupakan bentuk usaha pengembangan dan memperbaiki diri, dalam mendongkrak berbagai ketertinggalan.

“Dengan program GAMIFest ini, kami terus berupaya, agar wilayah tengah menjadi kawasan starategis pembangunan nasional,” tutur Amru seraya menambahkan, upaya yang dilakukan akan sia-sia, jika semua elemen masyarakat tidak ikut dan bergandeng tangan dalam melakukan perbaikan diwilayah Tengah Aceh ini, terutama Pemerintah Pusat.

“Alang Bertulung, Berat Berbantu”. Inilah istilah leluhur masyarakat Gayo, yang artinya, berat Sama-sama dipikul, ringan Sama-sama dijinjing. “Dibutuhkan sebuah kebersamaan, dalam menyingsingkan lengan baju dalam mengejar ketertinggalan pembangunan, baik pembangunan ekonomi maupun budaya,” timpal Amru.

“Kuatas Mubintang Tujuh, Kutuyuh Kal Pitu Mata”. Artinya, penyelenggara pemerintahan dipusat, merupakan tokoh guru dan panutan, dalam menjalankan roda pemerintahan, “kami masyarakat yang berada dikawasan ini, sebagai anak yang siap menerima belai kesejukan tangan dingin Pemerintah Jakarta, untuk mendapatkan setitik harapan perbaikan dimasa mendatang,” tandasnya.

Baca Juga  Penyebab Kematian Zaki Masih Misterius

Tampak hadir dalam penutupan dua ivent itu yakni, perwakilan Dirjen Kebudayaan RI, Siswanto, perwakilan Deputi Koordinasi Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pamuji lestari MSC, Wakil Bupati Gayo Lues, H. Said Sani, Sekda Gayo Lues, H. Thalib, S.Sos. MAP, para perwakilan Kementerian, para Forkopimda Gayo Lues, perwakilan Forkopimda Aceh Tengah, Aceh Tenggara, Bener Meriah serta ribuan masyarakat.

Komentar

Berita Terbaru