oleh

Cisah Minta Polisi Tangkap Pelaku Pembongkaran Makam

-Aceh-188 views

PENANEGERI, Lhokseumawe – Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Center of Information for Samudra Pasai Heritage (Cisah), meminta kepada polisi untuk segera menangkap pelaku pembongkaran makam ulama Teungku Raja Amad, di Gampong Leubok Tuwe, Kecamatan Meurah Mulia, Kabupaten Aceh Utara, pada Senin (28/1) lalu.

Polisi haruus segera menangkap pelaku, karena sudah meresahkan masyarakat. Saat ini pelaku belum ketemu dan juga belum diketahui modusnya apa dan hal seperti ini belum pernah terjadi.

“Sementara, Dinas Kebudayaan sudah meninjau ke lokasi makam, ingin melihat langsung kondisi makam tersebut,” sebut Ketua Center of Information for Samudra Pasai Heritage (Cisah) Abdul Hamid.

Abdul Hamid yang akrab disapa Abel itu berharap, situs ini harus segera dicagarkan, agar makam Teungku Raja Amad, ada satu juru pelihara yang bisa merawat, mengontrol dan membersihkan makam tertua di Asia Tenggara tersebut, karena kondisi saat ini tak terawat dan terkesan terbengkalai.

“Harapan kita semua, pemerintah pusat segera meregistrasi makam Teungku Raja Amad, karena ini situs emergensi, situs penting, ini adalah situs makam Islam tertua di Asia Tenggara berdasarkan catatan, tulisan yang tertera di batu nisan tersebut,” tuturnya.

Saat ini, lanjutnya, makam tersebut belum terdaftar ke situs cagar budaya, padahal ini situs penting, Kita juga berharap makam itu diperbaiki sebagus mungkin, kerena itu adalah situs penting bagi sejarah Islam yang dimiliki Aceh.

Menurut catatan Cisah, makam yang disebut makam Teuku Raja Ahmad, secara tulisan dibatu nisan tidak tertulis nama, namun ini bisa dilihat dari ukiran ayat Al’quran serta pesan singkat yang diukir dibatu nisan yang artinya, “Orang yang berbahagia lagi syahid, dicintai oleh khalayak ramai, wafat pada tahun 622 H/1226 M.

Sambungnya, jika melihat dari angka tahunnya itu, sangat luar biasa sekali, untuk saat ini, catatan sejarah yang menyebutkan tahun 622 H/1226 M, belum kita temukan di Asia Tenggara, inilah satu-satunya yang ada di Gampong Leubok Tuwe makamnya ini priode terawal untuk Islam di Asia Tenggara.

“Inilah buktinya, oleh karena itu jika tidak terpelihara dengan bagus, ditakutkan hilang sejarahnya dan sangat disayangkan jika hal tersebut terjadi. Pasalnya banyak pengunjung dari luar negeri juga berziarah ke makam tersebut seperti dari Malaysia, Brunei, dan dari luar kota yakni Sulawasi, Kalimantan dan berbagai wilayah lainnya,” pungkas Abdul Hamid.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *