oleh

Clement Kenang Situasi Ibrahimovic di PSG

PENANEGERI, Sepakbola – Zlatan Ibrahimovic “menyukai” salah satu momen apa yang dilakukan Carlo Ancelotti saat melatih Paris Saint-Germain, menurut Paul Clement.

Manajer Swansea City itu telah bekerja secara ekstensif sebagai asisten pelatih Ancelotti dan menikmati periode sukses di ibukota Prancis, memenangkan gelar Ligue 1 musim 2012-13, yang pertama sejak 1994.

Ibrahimovic adalah bagian penting dari kebangkitan awal PSG setelah pengambilalihan oleh Qatar Sports Investments pada tahun 2011 dan kemudian menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang masa klub.

Striker tersebut, yang kembali menandatangani kontrak dengan Manchester United bulan lalu, menikmati hubungan yang kuat dengan Ancelotti namun pelatih berpengalaman itu mengakui tahun lalu bahwa Ibrahimovic menanggung beban kekalahan saat di Coupe de France di tahun 2013.

“Ini seperti gerak lambat, terbang di udara dan jatuh dan Zlatan hanya mencoba mendapatkan apa yang dia inginkan,” ungkap Clement sembari mengatakan bagaimanapun saya yakin Ibrahimovic kesal dengan hasil tersebut, dilansir The Daily Mail, Sabtu (9/9).

“Ada kalanya beberapa pemain memang ingin meluapkan kemarahan, Zlatan melakukan itu, dia memukul beberapa kotak dan terlihat sangat kesal. Dan saya juga cukup kaget ketika Ancelotti melakukan hal yang sama,” tambahnya.

Meski sempat mendapat kesan bagus terkait Ibrahimovic, Clement yakin hari-hari Ancelotti yang meluapkan amarah di ruang ganti sekarang sudah lama berlalu.

“Pemain berpikir dan menganalisa jauh lebih banyak hal sekarang. Ada unsur intelektual. Bagi saya, beberapa hal berubah dan kondisi menjadi jauh lebih tenang setelah kekalahan itu. Saya ingat seorang pelatih yang sering berteriak kepada pemain untuk memberikan instruksi, dan apa yang mereka dapat ? mereka hanya menggelengkan kepala,” sambung Clement.

Clement juga ditanya apa momen yang berkesan ketika masih mendampingi Ancelotti di Paris, dan dia menambahkan: “Kemenangan. Jelas disana ada banyak hal tentang kemenangan dan membangun sebuah tim dari awal.

“Saya dan Ancelotti mencoba membuka ide-ide baru untuk mencapai tujuan klub dan hasilnya memuaskan. Kemudian dia pergi ke Madrid karena dia ingin mengambil kesematan itu, saya mengikutinya hingga ke Jerman. Tapi pada akhirnya, saya ingin mengembangkan karir saya sendiri,” tandasnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *