oleh

Crutchlow “Sakit” Jadi Pembalap Tunggal LCR Honda

PENANEGERI, Moto GP – Cal Crutchlow telah mengakui bahwa dia merasa “sakit” sebagai satu-satunya pembalap tim LCR Honda di Moto GP, dan akan menyambut siapapun yang akan menjadi rekannya di tahun 2017.

Tim yang dipimpin Lucio Cecchinello menjalani perlombaan dengan satu pembalap dan sudah menjadi eksistensinya, namun baru saja menggunakan dua pembalap pada tahun 2015 sebelum kembali menggunakan Crutchlow pada tahun 2016 sebagai pbalap tunggal.

Namun, LCR telah diberi pilihan oleh ketua MotoGP untuk menambah motor kedua saat siap, dengan slot grid berjumlah 24 dan terakhir di kelas utama yang dipesan untuk tujuan itu.

Pembalap asal Jepang, Takaaki Nakagami, telah muncul sebagai pesaing kuat untuk bergabung dengan Crutchlow di LCR musim depan, dengan promotor Honda dan seri Dorna diyakini ingin mempromosikan kandidat juara Moto2 tersebut.

Crutchlow mengatakan bahwa dia akan menyambut prospek seperti itu, karena dia merasa terbebani ketika membawa seluruh harapan tim LCR.

“Saya ingin rekan setim untuk tahun depan. Saya muak menjadi satu-satunya pembalap yang diandalkan. Terlalu banyak tekanan untuk saya. Saya lebih suka mereka berkonsentrasi pada orang lain. Saya tahu kedengarannya bodoh, tapi pada akhirnya, semuanya pasti menjadi beban Anda. Orang-orang di garasi hanya mempersiapkan untuk satu pembalap, jadi lebih baik jika ada dua pembalap. Ini lebih menekankan persiapan tapi saya pikir itu lebih baik,” ungkap Crutchlow dikutip dari motorsport.com, Rabu (12/7).

Setelah menandatangani kontrak dengan pabrikan Honda untuk dua tahun ke depan, Crutchlow percaya bahwa ia dapat berperan dalam membuat RC213V menjadi motor yang lebih mudah diatur untuk dikendarai seorang rookie.

Dia menunjuk contoh juara Moto2, Tito Rabat, yang bergabung dengan Marc VDS Honda pada tahun 2016 namun telah berjuang untuk memberi kesan di level tertinggi sejauh ini.

“Motornya sangat khusus untuk dikendarai. Kapan Anda melihat seorang pria datang dari pabrikan lain dan masuk ke Honda dan melakukannya dengan baik ? Tentu saja Casey Stoner saja yang mampu melakukan hal semacam itu,” tegas pembalap asal Inggris itu.

Dikatakannya, Tito mencetak angka terbanyak dalam musim Moto2, dia sangat cepat. Sekarang yang dia lakukan hanyalah mencoba mengikuti orang karena dia tidak bisa mendapatkan lap time. Dia mengganti kepala kru tiga kali, dia seperti tersesat.

“Saya akan mencoba dan membantu rekan setim saya jika dia adalah rookie seperti yang saya lakukan dengan Jack (Miller), tapi tidak semudah itu, mereka perlu membangun motor yang mudah dikendarai,” tambah Crutchlow.

“Mungkin itu salah satu pekerjaan saya, untuk membangun motor yang lebih mudah dikendarai. Ketika kita mengambil beberapa pembalap muda dalam beberapa tahun, mudah-mudahan mereka akan merasa lebih mudah untuk menyesuaikan diri dengan motor ini,” pungkasnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *