oleh

Darurat Militer di Marawi Kemungkinan Belum akan Berakhir

PENANEGERI, Desk Internasional-Pihak Militer Filipina (AFP-Armed Forces of the Philippines) pada hari Jumat (14/7) mengatakan bahwa situasi darurat militer pada krisis di Marawi belum akan berakhir sebelum Presiden Duterte menyampaikan pidato second State of the Nation Address (Sona) Atau Pidato Kenegaraan Negara Bagian Kedua (Sona) Presiden Rodrigo Duterte pada 24 Juli 2017.

Juru Bicara Angkatan Bersenjata Filipina (AFP) Restituto Padilla Jr. mengatakan bahwa pemerintah memerlukan 10 sampai 15 hari untuk mendapatkan kembali kendali atas bangunan di Kota Marawi yang diduduki oleh teroris Maute.

Padilla mengatakan sekitar 600 bangunan belum diamankan di Kota Marawi, dengan militer membersihkan atau telah mengamankan rata-rata 40 sampai 50 bangunan sehari sejauh ini.

“Ya, jadi kita masuk dalam 10 sampai 15 hari Presiden. Tapi 10 sampai 15 hari berada di luar Sona, jadi jangan berharap hal itu terjadi sebelum Sona, “katanya saat briefing Mindanao Hour di MalacaƱang.

Pada hari Rabu, Duterte mengatakan bahwa ia membutuhkan 15 hari lagi untuk menyelesaikan krisis Marawi, batas waktu yang ditentukan sendiri yang mungkin melampaui batas 60 hari darurat militernya di Mindanao, yang akan berakhir pada 22 Juli.

Tapi menurut Padilla apakah militer akan merekomendasikan perpanjangan darurat militer mengingat situasi di Kota Marawi, hal ini masih dipertimbangkan.

“Saat ini, penilaiannya ada pada tahap penutupnya dan akan diberikan kepada Kepala Staf yang kemudian akan melakukan pemeriksaan atas rekomendasi tersebut dan akhirnya diserahkan ke Menteri Pertahanan Nasional untuk diajukan ke Panglima Tertinggi,” kata dia .

“Menteri adalah administrator darurat militer dan harus memasukkan informasinya ke dalam dokumen,” tambahnya.

Presiden Duterte, yang sebelumnya mengatakan bahwa dia tidak akan melepaskan darurat militer sebelum Pidato Kenegaraan (Sona) keduanya, mengatakan bahwa dia akan menunggu rekomendasi militer untuk memperpanjang pernyataan tersebut atau tidak.

Pada hari Jumat pagi (14/7), Juru Bicara Presiden Ernesto Abella mengatakan bahwa sejumlah 392 orang teroris telah tewas sementara 93 orang pasukan pemerintah tewas dalam pertempuran tersebut. Abella menambahkan bahwa 45 warga sipil tewas dalam bentrokan yang dimulai pada 23 Mei 2017 setelah anggota Kelompok Maute yang disebutnya terkait ISIS menyerang Kota Marawi dalam upaya untuk membentuk sebuah kekhalifahan di sana. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *