oleh

Dengan 74 Peluru di Tubuh, Hope Jalani Operasi Tulang

-Aceh-145 views

PENANEGERI, Banda Aceh Seminggu berada dalam perawatan tim Sumatran Orangutan Conservation Programme (SOCP) di Pusat Karantina dan Rehabilitasi Orangutan di Sibolangit, Sumatera Utara, orangutan betina asal Subulussalam yakni Hope yang ditembaki 74 peluru dan mengalami patah terbuka tulang bahu akhirnya menjalani operasi tulang bahu, Minggu (17/3).

Operasi Hope dilakukan tim medis SOCP bersama Dr Andreas Messikommer yang merupakan seorang ahli bedah tulang dan saraf pada manusia yang berasal dari Swiss. Dr Andreas pun sering membantu YEL dan PanEco sebagai tenaga relawan, jika ada kasus-kasus bedah tulang yang rumit pada orangutan.

Operasi Hope membutuhkan waktu lebih dari tiga jam. Dalam prosesnya, ditemukan juga tulang bahu yang patah mengakibatkan robeknya kantong udara (air sac) Hope. Tulang bahu dan kantong udara yang robek ini sudah mengalami infeksi lokal, sehingga tim melakukan penanganan pada area yang terinfeksi terlebih dahulu.

Tim juga melakukan penutupan luka luka lain yang berada pada bagian-bagian tubuh Hope seperti di tangan dan kaki.

Dokter Hewan Senior YEL-SOCP, drh Yenny Saraswati menyampaikan, dalam operasi ini pihaknya belum dapat mengeluarkan peluru yang ada pada tubuh Hope.

“Karena kami memprioritaskan untuk melakukan penanganan tulang bahu, mengingat risiko infeksi pada bagian tersebut,” ujarnya.

Sepanjang proses operasi, kondisi Hope diketahui cukup stabil.

“Saat ini, Hope masih dalam perawatan pasca operasi dan diharapkan semoga proses penyembuhan pasca operasi ini juga bisa berjalan baik,” kata Yenny.

Supervisor Rehabilitasi dan Reintroduksi untuk YEL-SOCP, drh Citrakasih Nente mengatakan, karantina dan rehabilitasi orangutan yang dilakukan dimaksudkan untuk memeriksa secara intens kondisi kesehatan orangutan dan merehabilitasi mereka, baik secara fisik maupun mental (psikologis).

“Namun untuk Hope ini meskipun nantinya berhasil diselamatkan, Hope tidak akan dapat dilepasliarkan lagi di alam, mengingat kondisinya yang buta total di kedua matanya akibat peluru.Keadaan ini membuat Hope menjadi salah satu kandidat yang akan dipindahkan ke fasilitas Orangutan Haven yang saat ini sedang dalam proses pembangunan, untuk mengoptimalkan kesejahteraannya selama hidup,” ungkapnya.

Selain operasi pada Hope, Dr Andreas berdama tim SOCP juga terlebih dahulu melakukan operasi pada bayi orangutan yang berumur sekitar 3 hingga 4 bulan yang diberi nama Brenda.

Baca Juga  Album Perdana Fira “'Cinta Berubah Makna” Siap Menyapa Warga Aceh

Brenda mengalami patah lengan atas kiri (tulang humerus) dan dievakuasi minggu lalu oleh seorang anggota TNI dari area pembukaan lahan di Aceh Barat Daya (Abdya).

Anggota TNI tersebut kemudian menghubungi pihak BKSDA Aceh melaporkan keberadaan bayi tersebut. Tim BKSDA Aceh dan SOCP pun kemudian bergerak pada hari Senin (11/3/) lalu ke Abdya dan membawa Brenda ke Pusat Karantina dan Rehabilitasi Orangutan Sibolangit guna mendapat perawatan intensif.

Dr Andreas Messikommer yang bekerjasama dengan tim medis SOCP sebagai relawan dalam operasi Hope dan Brenda telah berkali-kali membantu melakukan operasi penanganan kasus-kasus patah tulang pada orangutan.

Semua penanganan kasus pada orangutan tersebut dilakukan Dr Andreas secara sukarela. Keterlibatan Dr Andreas dalam menangani kasus orangutan diawali pasca tsunami Aceh tahun 2004 silam, dimana saat itu Dr Andreas bekerjasama dengan YEL dan PanEco sebagai salah satu relawan untuk menangani korban tsunami di Aceh dan Medan.

Saat itu, sebagian besar kasus-kasus bedah berat pada manusia (seperti bedah tulang, amputasi, grafting kulit dan lainnya) dibawa ke Medan dan Dr. Andreas bekerjasama dengan beberapa ahli bedah Indonesia di 5 Rumah Sakit di Medan dan Langsa untuk melakukan operasi pada sekitar 40 korban tsunami.

Pada saat bersamaan, Direktur SOCP, Ian Singleton yang juga terlibat dalam penanganan korban tsunami dan berkeja bersama Dr Andreas di lapangan meminta bantuan Andreas untuk menangani salah satu orangutan kecil yang menderita hernia di Pusat Karantina dn Rehabilitasi Orangutan Sibolangit.

Dari kejadian itu, Dr Andreas kemudian menjadi relawan PanEco, sebuah organisasi lingkungan hidup berkantor pusat di Swiss yang bekerjasama dengan Yayasan Ekosistem Lestari menjalankan program pelestarian Orangutan Sumatera yang dikenal dengan nama Program SOCP.

Dr Andreas Messikommer menyatakan, kalau tidak salah lebih dari 15 orangutan yang ditangani bersama-sama tim SOCP sejak tahun 2005, termasuk operasi Hope dan Brenda ini.

“Kasus-kasus orangutan yang kami bantu begini semuanya memprihatinkan, tetapi setelah saya mendengar dari kawan-kawan di SOCP bahwa orangutan yang saya bantu tangani, kualitas hidupnya menjadi jauh lebih baik atau bahkan dilepasliarkan dan menghasilkan keturunan di hutan, ini membuat saya sangat gembira,” katanya.

Baca Juga  Dugaan Kasus Money Politik Dihentikan, Panwaslih Bireuen Diadukan ke DKPP

Direktur SOCP, Dr Ian Singleton menyampaikan keprihatinannya atas masih maraknya penggunaan senapan angin yang mengakibatkan banyaknya satwa liar dilindungi yang menjadi korban.

“Kondisi Hope masih sangat serius dan tim medis SOCP tetap bekerja keras untuk mengupayakan keselamatanya. Kami sedih sekali menghadapi kasus seperti ini, terutama karena ini bukan kasus pertama. Kami telah menerima dan merawat cukup banyak orangutan yang tubuhnya penuh dengan puluhan bahkan ada yang lebih dari seratus peluru akibat ditembak oleh masyarakat,” ungkapnya.

“Susah bagu kami memahami di tahun 2019 ini masih saja ada sebagian masyarakat yang menembak seekor satwa seperti Hope bersama bayinya yang baru saja dilahirkan. Sulit dimengerti ada orang yang menembak orangutan dengan sangat brutal tanpa merasa bersalah!,” tegasnya.

Menanggapi kasus Hope, Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara Dr Ir Hotmauli Sianturi mengatakan, orangutan dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 yang melarang setiap orang untuk menangkap, melukai, membunuh, memelihara dan memperdagangkan satwa yang dilindungi.

Pelanggaran terhadap aturan itu dapat dikenai hukuman masa tahanan maksimal 5 tahun dan denda sampai 100 juta rupiah.

“Untuk itu, kami mengimbau kepada para pihak agar tidak menganggu satwa liar dilindungi atau akan menerima konsekuensi hukumnya sesuai dengan Undang-undang,” jelasnya.

Sementara, Kepala BKSDA Aceh, Sapto Aji Prabowo, S.Hut, M.Si. juga menambahkan, dirinya sangat berterima kasih kepada tim medis SOCP, khususnya kepada dr. Andreas yang telah berhasil melakukan operasi kepada Hope dan Brenda.

BKSDA Aceh berkomitmen untuk membantu penyidik Balai Gakkum Sumatera maupun Polda Aceh mengungkap kasus penganiayaan Hope dan anaknya. “Saya berharap bisa segera diungkap,” kata Sapto.

Terkait penggunaan senapan angin, Dirjen KSDAE dan BKSDA Aceh telah bersurat ke Kapolda Aceh agar dapat dilakukan penertiban peredarannya sebagaimana diatur dalam Peraturan Kapolri Nomor 8 Tahun 2012 sehingga tidak ada lagi kasus “Hope-Hope” yang lain.

“Kepada masyarakat yang mengetahui kejadian konflik orangutan dengan manusia juga atau lainnya, segera melapor ke Call Center BKSDA Aceh di nomor kontak 085362836024,” jelas Sapto.

Penggunaan senapan angin untuk berburu satwa liar seperti Hope ini terus menambah korban. Dalam kurun waktu 10 tahun, SOCP telah menangani setidaknya 18 orangutan yang menjadi korban peluru senapan angin.

Baca Juga  Empat Guru Berprestasi di Bireuen Wakili Aceh ke Tingkat Nasional

Dari 18 orangutan korban ini, total terhitung 482 peluru yang melukai bahkan menewaskan spesies yang terancam punah ini. Peraturan Kapolri Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api

menjelaskan, senapan angin hanya digunakan untuk kepentingan olahraga menenmbak sasaran atau target (Pasal 4 ayat 3) dan hanya digunakan di lokasi pertandingan dan latihan (Pasal 5 ayat 3).

Produk hukum ini tidak hanya mengatur mengenai penggunaan senjata api, tetapi juga termasuk juga penyimpanan, pembelian dan kepemilikannya.

Untuk diketahui, Orangutan Sumatera (Pongo abelii) adalah spesies yang berbeda dari kerabatnya di Kalimantan (Pongo pygmaeus).

Pada November 2017 lalu, para ilmuwan telah mengumumkan kepada dunia tentang

keberadaan spesies ketiga orangutan, jenis yang baru di Sumatra, yaitu orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis)yang yang berada hanya di Ekosistem Batang Toru, Sumatra Utara : http://www.batangtoru.org/orangutan/

Hanya ada sekitar 13.500 Orangutan Sumatra dan kurang dari 800 Orangutan Tapanuli yang masih hidup di alam liar dan kedua spesies tersebut terdaftar sebagai Terancam Punah oleh Badan Konservasi Internasional (IUCN) dalam Daftar Merah Spesies Terancam.

Program Konservasi Orangutan Sumatera (www.sumatranorangutan.org) adalah program kerja sama yang dilaksanakan oleh Yayasan ‘PanEco’ yang berbasis di Swiss (www.paneco.ch), LSM Indonesia

‘Yayasan Ekosistem Lestari’ (www.yel.or.id), dan Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia (Ditjen KSDAE Kemenlhk RI; www.ksdae.menlhk.go.id).

SOCP aktif dalam semua aspek konservasi orangutan di Sumatera termasuk rehabilitasi dan reintroduksi orangutan bekas peliharaan illegal untuk membentuk populasi liar baru, pendidikan dan penyadartahuan tentang konservasi lingkungan, survei-survei dan pemantauan populasi liar serta erlindungan dan pemulihan habitat.

Sejak tahun 2001, SOCP telah menerima kurang lebihi 370 orangutan di pusat karantina dan rehabilitasi orangutan di dekat Medan, Sumatera Utara. Lebih dari 170 diantaranya telah dilepasliarkan ke pusat reintroduksi SOCP di Jambi dan lebih dari 110 orangutan lainnya dilepasliarkan ke hutan Jantho, Aceh Besar.

Komentar

Berita Terbaru