oleh

Di Bireuen, Lelaki Non Muslim Asal Medan Meringis Saat Dicambuk 24 Kali

PENANEGERI, Bireuen – Lelaki berinisial MMS (22) asal Mulia Rejo, Sunggal, Deli Serdang, Medan, Sumetara Utara harus pasrah dan meringis kesakitan setelah rotan cambuk algajo mendarat 24 kali ditubunya setelah terbukti melanggar qanun ikhtilath (bermesraan_red) dengan pasangannya, NAF (18) warga Kota Juang, Bireuen.

Kedua pasangan non mohrim itu di eksekusi cambuk didepan umum, tepatnya di halaman Masjid Agung Sultan Jeumpa Bireuen, Kamis (5/3) siang.

Sebelum rotan menghujam tubuh MMS yang beragama non muslim itu, awalnya algojo wanita yang telah disiapkan itu ikut mencambuk NAF sebanyak 24 kali, terakhir Ia ikut dipapah oleh tim dokter ke amabulan yang telah disiapkan Kejaksaan Negeri Bireuen.

Kepala Kejaksaan Negeri Bireuen, M Junaedi SH, MH melalui Kasi Pidum Teuku Hendra Gunawan SH kepada Penanegeri.com menjelaskan, kedua pasangan ini ditangkap dan diamankan Polisi, Satpol PP dan WH dari kamar sebuah wisma, di dalam kota Bireuen, Kamis (21/11) silam.

“Kedua terpidana ini terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana perbuatan ikhtilath dan uqubat cambuk ini dilaksanakan untuk menjalankan putusan Mahkamah Syari’ah Bireuen nomor 1/JN/2020/MS.Bir tanggal 11 Februari 2020,” jelasnya.

Menurut Hendra, dalam Pasal 25 ayat (1) Qanun Aceh Nomor 6 tahun 2014 tentang hukum jinayah, dengan cara menghukum para terpidana oleh karena itu dengan Uqubat Ta’azir cambuk masing-masing 28 kali.

Teuku Hendra Gunawan juga menambahkan, keduanya dicambuk 24 kali, karena telah dikurangi masa tahanan selama 104 hari. Maka uqubat ta’zir cambuk keduanya dikurangi 4 kali berdasarkan Pasal 23 ayat (2) dan ayat (3) Qanun Nomor 7 tahun 2014 tentang hukuman acara jinayat sehingga terpidana dicambuk 24 kali.

“Keduanya dikenakan hukuman 28 kali cambuk, tapi setelah dipotong selama masa tahanan 4 kali, maka masing-masing harus menjalani 24 kali cambuk dan setelah itu keduanya bebas,” ucapnya.

Sebelum prosesi uqubat itu dilaksanakan, Plt Bupati Bireuen, Dr H Muzakkar A Gani, SH, MSi diwakili Staf Ahli Bupati, Husaini SH, MM dalam arahanya mengatakan, hukum cambuk bukan hanya hukuman fisik semata terhadap pelanggar, tapi untuk kita semua, bahwa Ikhtilath dilarang dan diharamkan dalam ajaran Agama Islam.

Hukuman, lanjutnya, dilakukan bukanlah merupakan sebuah penzhaliman kepada saudara, akan tetapi sebagai upaya edukasi bagi masyarakat agar meninggalkan segala bentuk kejahatan yang merugikan, serta memelihara keluarga dan keturunannya dari perbuatan yang tercela.

“Kita berharap, dengan adanya pelaksanaan hukuman cambuk ini dapat menjadi pelajaran bagi kita semua, agar tidak melakukan pelanggaran terhadap Syariat Islam,” pungkasnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *