oleh

Dianggap Cemarkan Lingkungan, FMPTL Demo PT GFM

-Unjuk Rasa-88 views

PENANEGERI, Aceh Tenggara – Puluhan masyarakat yang tergabung dalam Forum Masyarakat dan Pemuda Tanggap Lingkungan (FMPTL) menggelar aksi unjuk rasa di PT Gala Fila Mandiri (GFM), Desa Mbacang Racun Kecamatan Lawe Bulan, Aceh Tenggara, Rabu (26/7).

Amatan Penanegeri.com, koordinator aksi, Zonifar Anggara Selian, SE melalui pengeras suara menyampaikan sejumlah tuntutan masyarakat.

“Menurut pantauan kami, aktivitas pengerokan material Galian C oleh PT Gala Fila Mandiri di Daerah Aliran Sungai (DAS) Lawe Kisam mengakibatkan degradasi di DAS tersebut, sehingga banyak irigasi yang berada di hulu sungai tepatnya di daerah Desa Kati Jeroh dan Desa Lembah Alas ambruk dan tidak berfungsi lagi serta mengakibatkan rusaknya sistem pengairan ratusan lahan pertanian, khususnya di wilayah Deleng Pohkisen,” ujarnya.

Dikatakan, pihaknya juga menilai kawasan sekitar tempat berdirinya PT GFM tersebut merupakan kawasan Minapolitan sehingga tidak boleh dicemari industri apapun,  namun faktanya sesuai dengan hasil investigasi kami banyak petani budidaya ikan mengeluh dan merasa dirugikan akibat pencemaran limbah beracun B3 yang mengalir kekolam petani tersebut dari sungai Lawe Kisam.

“Kami juga mengidentifikasi kawasan tersebut adalah kawasan lindung geologi, dimana seharusnya tidak boleh berdiri seperti industri AMP tersebut,” tegas orator.

Menurutnya, sisa aktifitas tidak hanya membuat lingkungan jadi kumuh namun dapat juga mengancam keselamatan jiwa warga sekitarnya karena setiap hari menghirup gas karbon yang sangat beracun yang ditimbulkan oleh limbah asap dari PT GFM.

“Kami juga menilai berdirinya PT GFM telah melanggar Qanun Aceh Tenggara Nomor : 01 tahun 2013 tentang rencana tata ruang wilayah Aceh Tenggara tahun 2013-2033. Yamg mana telah diatur seperti sistem jaringan sumber daya air pada pasal 19 ayat (3), diantaranya Kecamatan Lawe Sumur seluas 1.018 Ha, Kecamatan Lawe Bulan seluas 1.130 Ha, dan Kecamatan Deleng Pohkisen seluas 1.047 Ha. Dimana daerah ini seharusnya tidak boleh dicemari oleh industri apapun,” sambung kordinator dalam orasinya.

Ia menambahkan, menurut Qanun Aceh Tenggara nomor 01 tahun 2013 tentang rencana tata ruang wilayah Kabupaten Aceh Tenggara tahun 2013-2033 Bab VII Pasal 32 juga mengatakan pengembagan kawasan industri seharusnya diarahkan ke Kecamatan Babul Makmur dan Kecamatan Leuser.

Sementara itu, menanggapi aspirasi yang disampaikan massa aksi, Direktur PT GFM, Iskiki Handoko menyampaikan, bahwa aspirasi dari massa yang melakukan unjuk rasa akan dipelajari lebih lanjut.

“Berdirinya PT GFM didasari karena seringnya terjadi banjir di Desa Kandang Belang dan Desa Kutambaru,” tandasnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *