oleh

Dilarang ke Kantor BPKD Aceh Tamiang, Datok : Memangnya Kami Pulang Bawa Virus

-Aceh-425 views

PENANEGERI, Aceh Tamiang – Setelah mendapat informasi ada 19 orang datok penghulu (kades) mengalami demam dan batuk pilek. Kepala Badan Pengelolaan Kekayaan Daerah (BPKD) Kabupaten Aceh Tamiang (Atam) untuk sementara waktu melarang para datok yang baru saja kembali dari dinas luar (DL) ke Bandung, Jawa Barat datang ke Kantor BPKD setempat demi mencegah peyebaran corona virus yang tengah mewabah saat ini.

Pernyataan tertulis Kepala BPKD Atam Yusriati tersebut, beredar di WhatsApp grup datok penghulu se Aceh Tamiang.

Hal itu memancing reaksi sejumlah datok yang baru saja kembali dari luar daerah tersebut. Mereka merasa resah dan menyatakan komplain karena pulang dianggap membawa virus.

“Pernyataan Kepala BPKD Atam ini dinilai sangat lebay (berlebihan). Kami merasa sehat-sehat saja. Waktu kami berangkat kalau kami terkena corona pasti tidak dikasih, begitu juga saat pulang kita diperiksa,” ucap datok penghulu Kampung Kebun Medang Ara, Kecamatan Karang Baru, Zulkifli saat dikonformasi wartawan, Minggu (22/3).

Menurutnya, sejumlah datok menyesalkan pernyataan Yusriati yang seolah menuding para datok seakan-akan tertular corona selama berada di Bandung.

Zulkifli mengaku sudah menelepon Kepala BPKD untuk mengklarifikasi peryataannya yang muncul di WA grup datok.

“Ibu itu (Yusriati) meralat tidak ada bilang menular. Para datok jangan telalu respek atas peryataannya. Sementara datok-datok sudah resah seolah-olah kami membawa virus itu,” timpal Zulkifli menirukan percakapan saat menelepon Kepala BPKD.

Datok Zulkifli membenarkan, memang untuk mengantisipasi corona telah ada imbauan pemerintah selama 14 hari tetap berada dirumah, tidak datang dikeramaian dan jangan berinteraksi langsung. Tapi disi lain, bila datok tidak boleh datang ke Kantor BPKD maka segala administrasi pencairan ADD dan urusan di kampung jadi terhambat.

Mewakili para datok yang pergi Bimtek ke Bandung, Zulkifli menyarankan, agar Kepala BPKD Atam bisa membuktikan siapa saja ke 19 orang datok yang sakit deman dan batuk itu. Jangan sampai, tegasnya, datok yang pergi bimtek bersatu menghadap Yusriati ke kantornya minta penjelasan.

“Supaya jangan bikin blunder peryataannya. Kalau kami tidak sehat, mana bisa pulang karena langsung dikarantina di Bandara,” tegas Zulkifli sembari menyatakan, kami pun berangkat dalam urusan negara, kalau tidak disuruh mana mungkin kami berangkat sendiri.

Asep, salah seorang datok lainnya, mengaku terkejut saat membaca peryataan Kepala BPKD di grup WA datok. Jika statement itu benar akan diberlakukan datok tidak boleh datang ke kantor dinas, maka para datok sama halnya seperti diisolasi.

“Saya terkejut juga macem kita ini sudah terjangkit HIV AIDS saja. Mohon diklarifikasi lah, karena batuk pilek belum tentu kena corona,” tutur Asep datok Kampung Alur Baung, Karang Baru.

Kepala BPKD Aceh Tamiang Yusriati yang dikonfirmasi wartawan melalui telepon selulernya membantah melarang datok datang ke kantornya. Dia juga menyatakan, selama ini tidak ada pencairan ADD yang terhambat.

“Bukan melarang atau khawatir tertular corona. Maksudnya jika masalah administrasi kan, ada perangkat di kampung yang kemarin tidak pergi ke Bandung bisa berkoordinasi dengan kami di BPKD untuk proses pencairan ADD. Tidak ada yang kita hambat, bahkan staf kami siap datang ke kampung-kampung,” sanggahnya.

Menurut Yusriati, setiap hari pihaknya tetap melakukan pencairan dana desa meski ditengah ancaman wabah virus corona. Diakuinya, peryataannya tersebut hanya untuk menghindari interaksi langsung sesuai imbauan pemerintah yang sedang berjalan. Konon lagi, sebagian datok penghulu memiliki riwayat bepergian.

“Tapi janganlah pernyataan saya itu disalah artikan takut tertular. Saya juga tahu sakit batuk pilek belum tentu dia suspect. Tentang ada 19 datok mengalami deman dan batuk pilek, itu saya ada dapat informasi,” tandasnya. (Acin)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *