oleh

DK PBB : Mengintegrasikan 14.000 Ex Kombatan di Kolombia Menjadi Tantangan

PENANEGERI, Internasional – Upaya perdamaian di Kolombia (Colombia) tetap tertantang oleh tugas untuk mengintegrasikan kembali 14.000 orang mantan kombatan (eks kombatan) pemberontak.

Hal ini dinyatakan oleh Jean Arnault, Wakil Khusus Sekretaris Jendral PBB (Secretary-General’s Special Representative) di negara tersebut pada hari Rabu 10 Januari 2018, saat dia juga melapor ke Dewan Keamanan, bahwa PBB akan ‘mengikuti dengan seksama’ laporan  gencatan senjata yang tidak berhasil antara Tentara Pembebasan Nasional/National Liberation Army (Ejército de Liberación Nacional – ELN) dan Pemerintah Kolombia.

“Sementara blok bangunan stabilisasi diberlakukan, kita tidak dapat melupakan tantangan reintegrasi,” ujar Jean Arnault, Wakil Khusus Sekretaris Jendral (Secretary-General’s Special Representative), mengatakan kepada Dewan Keamanan PBB, saat mempresentasikan laporan triwulanan pertama mengenai kegiatan PBB Misi Verifikasi di Kolombia (UN Verification Mission in Colombia), yang dia angkat.

Misi tersebut, yang memulai operasinya pada tanggal 26 September 2017, didirikan untuk memverifikasi komitmen Pemerintah dan Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia-Tentara Rakyat/Revolutionary Armed Forces of Colombia-People’s Army (Fuerzas Armadas Revolucionarias de Colombia—Ejército del Pueblo, FARC-EP) untuk mengintegrasi kembali mantan anggota FARC-EP (Fuerzas Armadas Revolucionarias de Colombia—Ejército del Pueblo), ke dalam masyarakat, dan untuk memastikan keamanan di wilayah yang paling terpengaruh oleh konflik yang berlangsung puluhan tahun, yang diakhiri dengan kesepakatan damai antara kedua belah pihak pada bulan November 2016.

Baca Juga  DK PBB Gelar Pertemuan untuk Bahas Situasi di Iran

Arnault mengatakan bahwa reintegrasi politik dari bekas organisasi gerilya tersebut pada jalurnya, mencatat bahwa pemilihan parlemen dan presiden yang akan datang tahun ini dan pemilihan lokal dan departemen dalam waktu kurang dari dua tahun akan menjadi kesempatan bagi partai FARC yang baru untuk mendapatkan kursi.

“Tapi kami terus memandang dengan prihatin reintegrasi sosio-ekonomi terhadap 14.000 mantan kombatan,” katanya, menjelaskan bahwa banyak di antara mereka masih dipenjara dan sangat frustrasi dengan proses reintegrasi.

Presiden Juan Manuel Santos Calderón telah mengambil langkah penting untuk mengakui perlunya akses ke kepemilikan tanah sebagai insentif utama untuk reintegrasi.

Bagi mereka, banyak anggota FARC telah menunjukkan dengan alasan bahwa mereka bersedia dan mampu terlibat dalam pertanian, perlindungan lingkungan dan substitusi tanaman.

Ini adalah perkembangan yang menjanjikan, tapi hanya itu saja. Beberapa bulan ke depan harus menjadi kesempatan untuk “berbelok di tikungan,” dan membuat proses yang rapuh lebih awet.

Mengenai gencatan senjata sementara antara Pemerintah dan Tentara Pembebasan Nasional (ELN), Arnault menekankan bahwa tuntutan untuk penangguhan tindakan militer yang terus berlanjut telah bulat, dan menegaskan kembali perlunya tetap menjaga rendahnya tingkat kekerasan seperti yang terlihat di masa tiga bulan lalu. Sementara juga menganjurkan gencatan senjata yang lebih jelas dan lebih dapat diandalkan.

Baca Juga  DK PBB Minta Pemerintah Myanmar Akhiri Kekerasan di Rakhine

“Sayangnya, baru saja diumumkan bahwa serangan terhadap jaringan pipa oleh ELN baru saja dilanjutkan. Kami akan mengikuti perkembangan yang ketat dan meminta Dewan untuk memberikan informasi,” kata Arnault, seperti dirilis oleh situs berita resmi PBB, hari Rabu (10/1).

Sementara itu, Juru Bicara PBB Stéphane Dujarric mengatakan kepada wartawan di New York bahwa Sekretaris Jenderal PBB akan melakukan perjalanan ke Bogotá, Kolombia, pada tanggal 13 Januari 2018 untuk mendukung upaya perdamaian.

Pada hari Sabtu, Sekjen PBB Antonio Guterres akan bertemu dengan Presiden, pejabat Pemerintah dan angkatan bersenjata, serta dengan pimpinan FARC dan Gereja Katolik.

Pada hari Minggu, Sekretaris Jenderal akan berkunjung ke Departemen Meta (Meta Department), di mana agendanya mencakup kunjungan ke wilayah teritorial untuk pelatihan dan reintegrasi mantan kombatan FARC.

Ketika ditanya apakah kepala PBB akan bertemu dengan ELN, Dujarric mengatakan “Kami khawatir dengan insiden pagi ini – sebuah serangan terhadap pipa minyak. Kami jelas-jelas mengikuti perkembangan ini dengan sangat ketat dan kami terus memberikan informasi kepada Dewan Keamanan.” (*)

Komentar

Berita Terbaru