oleh

Dokter yang Rawat Setnov Ditetapkan Menjadi Tersangka

PENANEGERI, Jakarta – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan salah seorang dokter RS Permata Hijau, bernama dr. Bimanesh Sutarjo, sebagai tersangka. Selain Bimanesh, KPK juga menetapkan pengacara bernama Fredrich Yunadi SH sebagai tersangka.

Bimanesh merupakan dokter yang merawat mantan Ketua DPR Setya Novanto setelah kecelakaan mobil di kawasan Permata Hijau, Jakarta Selatan, November 2017. Sedangkan Fredrich Yunadi SH pernah menjadi pengacara pada kasus Setya Novanto.

KPK menetapkan keduanya sebagai tersangka kasus dugaan merintangi penyidikan.

Wakil Ketua KPK, Basaria Panjaitan mengumumkan dua tersangka tersebut dalam kasus dugaan tindak pidana menghalangi penyidikan perkara Setya Novanto.

Penetapan tersangka Fredrich dan Bimanesh disampaikan Wakil Ketua KPK Basaria Pandjaitan dalam jumpa pers di gedung KPK, Kuningan, Jakarta, Rabu (10/1).

Basaria menyatakan, KPK telah menemukan bukti permulaan yang cukup untuk meningkatkan status penyelidikan menjadi penyidikan, dan menetapkan keduanya sebagai tersangka kasus ini.

“Penyidik meningkatkan status FY dan BST dari penyelidikan ke penyidikan. FY ini seorang advokat dan BST seorang dokter,” kata pimpinan KPK Basaria Panjaitan, di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (10/1).

Baca Juga  OTT di Banjarmasin, KPK Tangkap Ketua DPRD dan Dirut PDAM

Kedua tersangka itu yakni Fredrich Yunadi, pengacara dan Bimanesh Sutarjo, dokter di RS Medika Permata Hijau, disangkakan melanggar Pasal 21 Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undang-Undang No 20 tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.

Sebagai bentuk pemenuhan hak kedua tersangka, KPK telah mengirimkan Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) pada Selasa (9/1).

Kedua tersangka juga telah dicegah selama enam bulan kedepan untuk tidak berpergian ke luar negeri, sejak 8 Desember 2017.

Bimanesh dan Fredrich disangkakan melanggar Pasal 21 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP.

Wakil Ketua KPK Basaria Pandjaitan menyatakan, Bimanesh diduga merekayasa data medis Novanto.

Bimanesh diduga bekerja sama dengan mantan pengacara Novanto, Fredrich Yunadi, memasukkan Novanto ke rumah sakit untuk dilakukan rawat inap setelah kecelakaan.

“FY dan BST diduga bekerja sama untuk memasukkan tersangka SN ke rumah sakit untuk dilakukan rawat inap dengan data medis yang diduga dimanipulasi,” kata Basaria.

Baca Juga  KPK Segel 8 Mobil Mewah Bupati Hulu Sungai Tengah

Dia menambahkan, KPK menduga data medis terdakwa kasus e-KTP, Setya Novanto, dimanipulasi. Ini yang menjadi dasar bagi KPK menetapkan mantan pengacara Setya Novanto, Fredrich Yunadi, dan dokter RS Medika Permata Hijau, Bimanesh Sutarjo, sebagai tersangka.

Tanggapan IDI

Secara terpisah, Sekretaris Jenderal Ikatan Dokter Indonesia, Adib Khumaedi mengimbau kepada dokter supaya bekerja sesuai standar dan etika profesi.

Pihak IDI juga bekerjasama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“IDI bersama KPK dalam rangka proses pemberantasan korupsi bersama-bersama,” kata dokter Adib Khumaedi.

“Dan ini apa yang dilakukan menjaga keprofesian pelayanan kedokteran sesuai kaidah di dalam standar dan etika profesi,” kata Adib, kepada wartawan, Rabu (10/1).

Sehingga, di dalam melakukan pelayanan medis, kata dia, siapapun harus dilayani sesuai dengan ketentuan-ketentuan di dalam aturan profesi kedokteran.

Apabila, seorang dokter berpegang teguh kepada standar dan etika, menurut dia, tidak ada penyimpangan yang dilakukan saat bekerja.

“Kami selalu mengimbau teman sejawat agar bekerja sesuai standar profesi yang ada di dalam standar pelayanan kemudian di dalam standar etika tanpa ada hal-hal yang bisa mengintervensi di dalam melakukan pelayanan keprofesian,” tambahnya.

Baca Juga  KPK Akan Periksa lagi Anggota DPRD Kota Malang, selain Ketua DPRD Kota Malang

Adib Khumaedi, mengimbau kepada dokter supaya bekerja sesuai standar dan etika profesi.(*)

Komentar

Berita Terbaru