oleh

Dua Penceramah Dilarang Masuk Singapura

PENANEGERI, Desk Internasional – Dua orang penceramah bernama Ismail Menk warga Zimbabwe, dan Haslin Baharim warga Malaysia, tidak diizinkan memasuki Singapura, demikian pernyataan Kementerian Dalam Negeri Singapura (Ministry of Home Affairs), Senin (30 /10).

Menurut laporan Straits Times, Kementerian Dalam Negeri Singapura mengatakan bahwa keputusan dibuat dengan terlebih dahulu berdialog dengan Majelis Agama Islam Singapura (MUIS), Singapore Tourism Board dan Maritime and Port Authority of Singapore.

Mufti Ismail Menk adalah seorang penceramah terkemuka dengan jutaan pengikut di seluruh platform media sosialnya.

Singapura melarang Mufti Ismail Menk, seorang penceramah Islam yang terkenal, memasuki Singapura, karena pemerintah berpendapat bahwa pandangannya bisa memicu perselisihan antar agama.

Menk, seorang pengkhotbah Zimbabwe dengan lebih dari dua juta pengikut di Twitter, dan Haslin bin Baharim, seorang ilmuwan Malaysia, dilarang memasuki Singapura untuk memberikan ceramah yang dijadwalkan akan diadakan pada akhir November.

Keduanya dijadwalkan untuk berceramah tentang pesiar bertema religius, yang berangkat dan berakhir di Singapura dari tanggal 25 sampai 29 November,

“Pandangan mereka tidak dapat diterima dalam konteks masyarakat multi-ras dan multi-agama di Singapura,” kata Kementerian Dalam Negeri Singapura tersebut, seperti dikutip Kantor Berita Al Jazeera.

Menurut Islamic Cruise, (Pelayaran Islam), yang menyelenggarakan pelayaran tersebut, Menk dijadwalkan untuk memberikan serangkaian ceramah mengenai pelayaran lima hari, termasuk satu yang berjudul “Navigating Towards Paradise”, dengan hasil dari acara tersebut akan dibagikan kepada orang-orang yang kurang mampu.

Syeikh Ismail Menk yang terkenal dengan nama Mufti Menk dan memiliki jutaan pengikut di media sosial twitter, merupakan seorang da’i internasional yang berasal dari negara Zimbabwe, Afrika. Mufti Menk adalah Direktur Daar ul Ilm (Pusat Pendidikan Islam) dari Majlisul Ulnama yang melayani kebutuhan pendidikan bagi populasi Muslim Zimbabwe. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *