oleh

Dua Pentolan Milisi Pemberontak Ditewaskan Militer Filipina di Marawi

PENANEGERI, Desk Internasional – Isnilon Hapilon, komandan tertinggi Abu Sayyaf Grup dan Omarkhayam Maute dari Grup Maute, serta tujuh militan lainnya, tewas pada hari Senin (16/10), setelah pasukan militer Filipina melancarkan operasi besar-besaran di kota Marawi yang terkepung. Hal ini dinyatakan oleh Jenderal Eduardo Ano, komandan tertinggi militer Filipina, dalam konferensi pers, Senin (16/10).

Jenderal Eduardo Ano menjelaskan bahwa kedua pentolan pemberontak yang tewas tersebut tidak pernah berniat untuk menyerah, dan mereka memberitahu kepada sandera yang lolos, bahwa : “Kami tidak akan menyerah. Kami akan mati bertempur”.

Ada hadiah sebesar $ 5 juta yang dikeluarkan oleh pemerintah AS untuk penangkapan Hapilon. Pemerintah Filipina juga telah menawarkan $ 200.000 untuk penangkapannya, dan $ 100.000 untuk penangkapan Omarkhayam secara terpisah.

Jenderal Ano mengatakan puluhan milisi, termasuk milisi warga negara asing, diperkirakan masih tetap bersembunyi di salah satu bagian wilayah di Marawi, dan mereka diyakini masih menahan sandera.

Tapi dengan kematian Hapilon dan Maute, “ini hanya masalah waktu, sebelum pengepungan akan berakhir,” kata Ano, mengacu pada pertempuran selama lima bulan terakhir yang telah menyebabkan lebih dari 1.000 orang tewas, sekitar 600.000 lainnya mengungsi, dan mengakibatkan Marawi, kota bersejarah ini hancur porak poranda akibat pertempuran.

Baca Juga  Darurat Militer di Marawi Kemungkinan Belum akan Berakhir

Pengepungan Marawi dimulai saat militer dan polisi mencoba untuk menjalankan surat perintah penangkapan terhadap Isnilon Hapilon pada bulan Mei. Hapilon kemudian membentuk aliansi dengan Grup Maute, dan melancarkan perlawanan.

Hal itu mendorong Presiden Rodrigo Duterte untuk menyatakan keadaan darurat militer di Mindanao.

Ketenaran Hapilon telah berlangsung hampir dua dekade sebagai salah satu komandan tertinggi Abu Sayyaf di pulau Basilan dan Sulu, di mana kelompok tersebut terlibat dalam penculikan dan pemancungan sandera, termasuk beberapa orang sandera asing.

Beberapa operasi militer telah dilakukan terhadap kelompok tersebut, yang sebelumnya disebut sejalan dengan al-Qaeda.

Tapi Hapilon berhasil menghindari beberapa kali serangan militer.

Hapilon kemudian dikabarkan setia kepada ISIL (juga dikenal sebagai ISIS),dan menjadi komandan independen Asia Tenggara.

Awal tahun ini, dia dan anak buahnya pindah ke provinsi Lanao del Sur untuk bergabung dengan Grup Maute yang terinspirasi ISIL/ISIS. Kelompok ini dipimpin oleh  Omarkhayam Maute dan Abdullah Maute. Abdullah dan dua saudara laki-laki Maute lainnya dilaporkan telah terbunuh oleh serangan militer Filipina pada bulan September lalu. (*)

Komentar

Berita Terbaru