oleh

Feature Sejarah : 40 Tahun Lalu, Presiden Komunis Afganistan Mati Ditangan Agen Mata-Mata

PENANEGERI, Documentary History – Dilansir dari laman detik.com, tanggal ini 40 tahun yang lalu, Presiden Kedua Afganistan Hafizullah Amin tewas dibunuh oleh agen mata-mata KGB Osnaz Uni Soviet. Amin dibunuh ketika Uni Soviet sedang melancarkan invasinya di Afganistan.

Dilansir dari Encylopedia Britannica, pHafizullah Amin lahir pada 1 Agustus 1929, di Paghmān, Afghanistan. Amin dilahirkan dalam keluarga Ghilzay Pashtun.

Setelah menyelesaikan pendidikan menengahnya, Amin lantas berkuliah di Universitas Kabul. Dia kemudian melanjutkan studi pascasarjananya di Universitas Columbia di New York.

Usai kembali dari perantauan, ia bekerja sebagai dosen. Dia kemudian bergabung dengan organisasi Wikh-e Zalmayan (Kebangkitan Pemuda), organisasi persaudaraan Afganistan yang fokus pada reformasi. Lalu, pada tahun 1963 menjadi anggota Partai Demokratik Rakyat Afghanistan (PDPA) yang dipimpin oleh Nur Mohammad Taraki. PDPA merupakan partai politik berhaluan kiri alias komunis.

Pada tanggal 27 April 1978, Amin perlahan menjadi orang kuat di PDPA. Dia sempat dituduh merekayasa kudeta yang menjatuhkan pemerintahan Mohammad Daud Khan. Tuduhan itu pun lalu ditepis oleh Amin. Sebagai anggota Fraksi Rakyat (Khalq) dari PDPA, dia berpartisipasi dengan Taraki dalam mengeluarkan anggota fraksi Banner (“Parcham”) dari posisi kekuasaan yang sebenarnya dalam pemerintahan.

Taraki menjadi Presiden dan Perdana menteri, dan Amin diangkat sebagai Wakil Perdana Menteri. Namun kekuatan Amin terus tumbuh, hingga pada 27 Maret 1979, ia mengklaim posisi perdana menteri Taraki, meskipun Taraki tetap menjabat sebagai presiden.

Pada saat itu, Afganistan semakin tidak stabil. Apalagi ketika rakyat Afghanistan turun ke jalan untuk memprotes reformasi Marxis pemerintah, yang banyak di antaranya dinilai merusak budaya tradisional Islam Afghanistan.

Pada 14 September 1979, Taraki tewas usai mendapatkan luka tembak. Dilansir dari laporan The New York Times, Taraki ditembak saat memimpin rapat dewan revolusi. Amin sempat disebut-sebut sebagai dalang dari pembunuhan ini. Pasalnya, setelah Taraki tewas, jabatan Presiden Afganistan langsung diteruskan oleh Amin.

Namun, karier kepresidenan Amin tak berjalan mulus. Pandangan nasionalis dan upaya Amin untuk meningkatkan hubungan dengan Pakistan dan Amerika Serikat membuat Uni Soviet kehilangan kepercayaan.

Soviet kemudian melancarkan invasinya ke Afghanistan pada 24 Desember 1979. Dikutip dari tulisan berjudul ‘The Take-Down of Kabul: An Effective Coup de Main’ karya seorang peneliti militer dari Fort Leavenworth, Kansas, Lester W Grau, Soviet mencoba mengintervensi kepemimpinan Amin dan hendak menggantinya dengan ‘kandidat Moskow’.

Soviet melalui tim agen KGB osnaz, merencanakan pembunuhan terhadap Amin. Tim ini awalnya berencana membunuh Amin saat ia sedang berada di Istananya, Tadzh-Bek, Kabul. Tempat ini dinilai strategis untuk membunuh Amin.

“Istana itu terletak di sebuah bukit bertingkat di pinggiran selatan kota dan tidak jalan pintas ke sana. Sebaliknya, jalan berbelit-belit melingkari bukit ke pintu masuk istana,” tulis Lester.

Alih-alih menaruh curiga pada Soviet, pada 27 Desember 1979, Amin justru mengadakan pesta makan siang dengan beberapa anggota Politbiro Komunis Afghanistan dan kementeriannya (bersama keluarga mereka) ke istananya yang mewah.
Acara itu merupakan acara resmi yang menandai ulang tahun berdirinya PDPA dan kembalinya Sekretaris Komite Sentral PDPA, Pandsheri dari Moskow. Amin bahkan percaya Soviet puas perubahan kepemimpinan di negara itu.

“Perpecahan Soviet sudah dalam perjalanan ke sini. Para penerjun payung telah mendarat di Kabul. Semua berjalan dengan baik. Saya selalu berkomunikasi melalui telepon dengan Kamerad Gromiko (Andrei Andreyevich Gromyko–salah satu politikus komunis Soviet), dan kami sedang mendiskusikan cara terbaik untuk memberi tahu dunia tentang bantuan militer Soviet ini kepada dunia,” tutur Amin sebagaimana dikutip oleh Lester.

Tanpa disangka, dalam pesta itu, makanan yang dihidangkan telah dicampur racun.
Makanan itu disiapkan oleh seorang koki Soviet. Amin dan beberapa tamu lain kemudian pingsan untuk mengonsumsi makanan itu. Namun, nyawa Amin masih bisa tertolong setelah mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit.

Masih di hari itu, Amin mendapatkan serangan mendadak dan akhirnya meninggal usai keluar dari rumah sakit. Mulanya, informasi kematian Amin masih sukar dikonfirmasi. Hingga akhirnya berita kematian ini dibenarkan oleh rekan separtai Amin, Sayed Muhammad Gulabzoi.

Gulabzoi sempat disebut-sebut sebagai orang yang diperintahkan oleh Soviet untuk memimpin operasi pembunuhan terhadap Amin. Namun, sebagaimana dikutip dari buku berjudul ‘Afghanistan: The Soviet Invasion and the Afghan Response, 1979-1982’ karya Mohammed Kakar, Gulabzoi membantahnya.

Namun pembunuhan terhadap Amin dibenarkan oleh Komandan KGB, Nikolai Berlev. Dikutip dari buku ‘The Wars of Afghanistan: Messianic Terrorism, Tribal Conflicts, and the Failures of Great Powers’ karya Peter Tomsen, Berlev menyebut, saat itu Amin sedang hendak melawan sembari memegang senjata, sebelum akhirnya pasukan yang dipimpin Nikolai melampari Amin dengan bom granat.

Amin kemudian digantikan oleh Babrak Karmal, rekan separtainya. Babrak adalah politikus komunis pilihan Uni Soviet. (*/dtc)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *