oleh

Gadjah Puteh Pertanyakan Langkah Pemulangan 4 PDP ke Aceh Tamiang

-Aceh-185 views

PENANEGERI, Aceh Tamiang – Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Gadjah Puteh mempertanyakan langkah pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang terkait rencana pemulangan empat pasien dalam pemantauan (PDP) Covid-19 yang dinyatakan negatif hasil pemeriksaan swab Balitbangkes Aceh.

Lembaga ini meminta agar PDP Covid-19 yang negatif harus dikarantina kembali setibanya di Aceh Tamiang selama 14 hari agar terputus rantai penyebarannya. Hal itu dikarenakan tidak ada suatu kejelasan posisi PDP saat di karantina RSUZA Banda Aceh bercampur dalam satu ruangan atau tidak.

“Berdasarkan video yang beredar mereka berlima tampak berada dalam satu ruangan selama menunggu hasil swab masing-masing PDP. Sementara satu di antara mereka ternyata positif. Jadi sangat diragukan mengenai penempatan ruang isolasi, jika mereka satu ruangan maka berpotensi terjadi penyebaran baru, karena pasti ada interaksi di dalam,” kata Direktur Eksekutif LSM Gadjah Puteh, Said Zahirsyah dalam keterangan pers yang diterima Penanegeri.com, Jumat (1/5).

Gadjah Puteh menilai, selama ini juru bicara (Jubir) Pemda Aceh Tamiang Agusliayana Devita terlalu maju dalam menyiarkan informasi ke media massa. Jika melihat Surat Edaran Menteri Kesehatan (SE Menkes) NOMOR HK.02.01/MENKES/199/2020 Tentang Komunikasi Penangan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Maka, Jubir perkembangan Covid di daerah bukanlah Kabag Humas Pemkab, melainkan dari Dinas Kesehatan tiap daerah.

“Dalam surat Menkes sudah jelas, jubir covid daerah berasal dari dinkes, karena pihak dinkes yang paham artikulasi dan hal terkait kemedisan. Jadi Kabag Humas jangan salah kaprah. Sehingga berdampak ketidakjelasan informasi akibat kurang paham,” timpalnya.

Said juga menambahkan, terkait rencana pemulangan PDP, Pekmab Aceh Tamiang terkesan tanpa memikirkan kecemasan masyarakat yang lain. Artinya, sebut Said, bukan hanya pemulangan pasien yang perlu dilaksanakan, tetapi pelaksanaan karantina 4 pasien negatif tersebut di ruang isolasi khusus dan terpisah sangatlah penting.

“Jadi jubir Pemda itu jangan asbun (asal bunyi), sebab kita tidak ada yang tahu dengan siapa saja pasien telah dan akan berinteraksi jika dipulangkan ke kampung masing-masing. Bahwa interaksi sosial tanpa menimbang penerapan social distancing, juga dapat menjadi media penularan Covid-19 ini,” ketusnya.

Oleh karenanya, Said menyarankan, rencana pemulangan pasien negatif tersebut kiranya perlu dilakukan langkah-langkah yang lebih serius dengan memanfaatkan gedung yang telah dirancang dan direncanakan untuk dijadikan ruang isolasi sementara ODP/PDP di lingkungan Kabupaten Aceh Tamiang.

“Kami dengar bekas kantor UPTD Pendiikan Non Formal dekat gedung SKB dan GOR Aceh Tamiang akan dijadikan tempat isolasi. Kalau itu benar kita sangat mendukung langkah dan upaya pemda ini,” ujarnya.

Di sisi lain, menurut Said, sejauh ini BPBD Aceh Tamiang belum ada yang mempublikasikan soal skenario penanganan bencana pandemi Covid-19 ini. Perencanaan skenario ini diperlukan agar masyarakat layak atau tidak layak untuk percaya kepada pemerintah dalam menangani pandemi virus Corona.

“Diskenario itu nantinya dapat berguna agar masyarakat termasuk ODP dan PDP tau apa-apa saja yang perlu dilaksanakannya secara mandiri, dan bagian mana yang perlu mengikuti instruksi pemerintah,” terangnya.

Pihaknya merasa miris skenario penanganan bencana Covid-19 di Aceh tak kunjung disiarkan ke publik, padahal biaya penanganan wabah ini sangat besar.

“Setelah berbulan-bulan sejak pandemi ini dinyatakan sebagai bencana nasional bahkan internasional, tapi skenario penanganan bencana Covid-19 belum diketahui masyarakat secara umum,” tandas Said yang akrab disapa Waled itu.

Sebelumnya, seperti diberitakan sejumlah media, Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang melalui juru bicara pemda, Agusliayana Devita, Kamis (30/4) sekira pukul 14.00 WIB mendapatkan info dari Tim Informasi Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Aceh Tamiang, bahwa enam orang PDP asal Aceh Tamiang yang telah dirujuk ke RSUZA Banda Aceh untuk dilakukan uji swab tenggorokan, terdiri dari 5 PDP laki-laki dan 1 PDP perempuan telah diketahui hasil labnya.

Dari hasil swab Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Aceh, didapatkan 1 PDP positif dan 4 PDP negatif, sementara untuk 1 PDP belum memperoleh hasil swabnya.

Agusliayana Devita menyebut, saat ini pihak RSUD dan Dinas Kesehatan Aceh Tamiang akan melakukan koordinasi lebih lanjut untuk kepulangan 4 PDP dengan hasil negatif dan perawatan lanjutan untuk 1 orang PDP Positif Covid-19.

“Di mana, kondisi kesemua PDP secara umum sehat,” kata dia.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *