oleh

Gajah Putih Kerajaan Linge Tampil di PKA ke VII

PENANEGERI, Aceh – Dataran Tinggi Gayo adalah satu daerah yang memiliki nilai sejarah di Provinsi Aceh, salah satu sejarah yang paling melegenda di daerah penghasil kopi nomor satu didunia ini adalah sejarah gajah putih. Pada perhelatan akbar Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke- VII, kontingen Aceh Tengah dipercayakan mengarak gajah putih dan kuda, guna memeriahkan pawai pembukaan PKA tersebut, Senin (6/8) dengan rute mengelilingi Kota Banda Aceh.

Ketua panitia PKA Aceh Tengah, Uswatudin, kepada Penanegeri.com menjelaskan, persiapan untuk pawai yang dilaksanakan sudah dipersiapkan dengan sedemikuan rupa, dengan harapan, Negeri Gayo tampil secara maksimal.

“Alhamdulillah, berjalan lancar, gajah putih dan penunggangnya yang berpakaian adat kerawang Gayo, mampu menyedot pandangan para penonton dan wisatawan yang hadir,” ujar Uswatudin sembari tersenyum.

Salman Yoga, salah seorang budayawan Gayo, yang dinobatkan sebagai penunggang gajah putih lengkap dengan pakaian adat Gayo tersebut mengatakan, dirinya sangat bangga dan berterimakasih karena telah ditunjuk menjadi penunggang gajah putih tersebut. Menurut Salman, hal itu merupakan salah satu momen indah untuk menunjukan kepada generasi muda saat ini tentang betapa bermarwahnya daerah Gayo dimasa Kejayaan Kerajaan Linge dahulu.

“Alhamdulilah, gajah yang saya tunggangi seperti tahu bahwa dia akan ditunjukan ke publik sebagai gajah kebesaran Aceh, yang berasal dari Gayo, hingga saya sangat nyaman menungganginya dan ini adalah momen yang tepat untuk segarkan kembali ingatan generasi muda, tentang betapa hebatnya tanoh gayo dahulu kala,” tutur Salman.

Gajah putih beserta lima ekor kuda Gayo disalupi (kain berbentuk pelana) dengan pakaian kerawang Gayo. Sementara itu, lima ekor kuda ditunggani oleh joki cilik yang juga berasal dari Takengon, ibu kota Aceh Tengah. Dimana, sambil menunggang kuda, ke lima joki tersebut juga membawa bendera kerajaan Linge yang diarak keliling Banda Aceh.

“Tadi, selain memperkenalkan gajah putih kepada para hadirin yang menonton, saya juga membacakan Titah Reje (Raja) Linge kepada Paduka Yang Mulia Sultan Iskandar Muda Raja Kerajaan Aceh Darusaalam dimasa itu, hal ini bertujuan untuk mengenang kembali betapa dekatnya hubungan antara Reje Linge dan Sultan saat itu,” jelas Salman.

Ketua seksi pawai budaya dan mobil hias, Joni, mengatakan lima penunggang kuda sengaja disematkan pakaian  kebesaran adat Gayo, hal itu bertujuan untuk memperkenalkan baju kebesaran yang digunakan oleh para raja-raja yang memerintah daerah Gayo diera kejayaannya. Khusus untuk mobil hias, kontingen Aceh Tengah menampilkan ciri khas kedaerahan daerah yang terletak ditengah pegunungan Aceh ini.

“Ciri khas yang kita maksud adalah, mobil itu sengaja kita hias dengan rumah spesifik Gayo (supu serule). Rumah Gayo yang kita tampilkan tadi atapnya terbuat dari daun serule, yang merupakan daun khas yang benar-benar berasal dari Gayo,” tandas Joni.

Seperti diketahui, sosok gajah putih yang tergambar dalam legenda tersebut kini menjadi lambang Kodam Iskandar Muda. Sebagai wujud kecintaan serta sebuah penghormatan akan asal muasal gajah putih yang melegenda hingga mendunia dimasa Kerajaan Aceh dibawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda ini, pada PKA ke VII, Aceh Tengah dipercaya membawa gajah berwarna putih yang diselimuti sebuah kain berbentuk bendera Kerajaan Linge berkeliling kota Banda Aceh.

Saat diarak dalam pawai, gajah putih tersebut didampingi lima ekor kuda yang juga didatangkan langsung dari daerah berhawa sejuk tersebut.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *