oleh

Hamas Peringatkan Israel jangan ‘Melanggar Batas’ Masjid Al- Aqsa

PENANEGERI, Desk Internasional – Ditengah aksi Demontrasi di depan kompleks masjid Al-Aqsa, HAMAS Palestina telah memperingatkan Israel agar tidak  melintasi “garis merah” yakni kompleks Masjid al-Aqsa, dalam aksi demonstrasi penduduk Jalur Gaza di hari kedua dalam aksi solidaritas dengan para jamaah Muslim guna memprotes langkah-langkah keamanan baru di situs suci Al Aqsa.

Bagi Warga Palestina situs suci masjid Masjid Al Aqsa adalah sebuah ‘red line’ atau garis batas tegas, agar Israel tak mengusik situs Suci Al-Aqsa/Al-Quds.

Hampir satu minggu setelah serangan yang memicu ketegangan, pejabat Israel memutuskan apakah akan melakukan tindakan keamanan baru yang lebih ketat.

Warga Palestina khawatir jika Israel mencoba merebut kembali situs suci Al-Aqsa dengan diam-diam.

“Bagi musuh Zionis yang saya katakan secara terbuka dan jelas: Masjid Al-Aqsa dan Yerusalem adalah garis merah (red line). Sesungguhnya mereka adalah garis merah,” ujar Ismail Haniyeh, pemimpin Hamas, mengatakan pada hari Kamis (20/7), yang merujuk agar Israel tak mengusik situs masjid Al-Aqsa/Al Quds.

“Penutupan dan pengenaan hukuman kolektif terhadap penduduk Yerusalem dan tempat kesucian kita tidak akan ditolerir,” lanjutnya.

Aksi Demonstrasi telah diselenggarakan sepanjang hari oleh HAMAS, Jihad Islam dan kelompok lainnya, menuntut agar Israel menghapus detektor logam yang terpasang di pintu masuk Al-Aqsa.

Kelompok tersebut menyebut mereka “agresi Israel” dan memperingatkan agar pembatasan keamanan dihentikan.

Protes hari Kamis (20/7) di Gaza dan di luar Al-Aqsa telah memicu bentrokan antara pasukan Israel dan warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki dan Yerusalem Timur mengenai langkah-langkah keamanan baru di Al-Aqsa.

Juga pada hari Kamis, orang-orang terus berdoa dan sholat di luar kompleks al-Aqsa.

Warga Palestina memprotes keras pembatasan akses masuk, karena ketatnya pengamanan untuk masuk beribadah di kompleks Al-Aqsa

Saat ketegangan meningkat pada Kamis malam (20/7), sebanyak 22 orang warga Palestina terluka dalam bentrokan dengan pasukan keamanan Israel, dua di antaranya terluka serius setelah ditembak oleh peluru karet, menurut Bulan Sabit Merah Palestina.

Detektor logam dan pintu putar dipasang di tempat suci setelah tembakan mematikan di sana pada hari Jumat minggu lalu (14/7).

Dalam insiden tersebut, dua petugas keamanan Israel tewas dalam serangan yang diduga dilakukan oleh tiga warga Palestina, yang dibunuh oleh polisi Israel setelah terjadi kekerasan.

Menjelang sholat Jum’at, pemerintah Israel sedang mempertimbangkan apa yang harus dilakukan selanjutnya dengan langkah-langkah keamanan baru.

Pada hari Rabu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berbicara melalui telepon dari Hongaria dengan kepala keamanan Israel untuk mendengar penilaian dan rekomendasi mereka, menurut sebuah pernyataan dari kantornya.

Dinas keamanan internal Israel, Shin Bet, telah merekomendasikan agar detektor logam dilepas, namun polisi Yerusalem mengatakan bahwa penghalang harus tetap di tempat.

PM Netanyahu mengatakan pada hari Jumat bahwa dia tidak ingin mengubah status quo, yang memberi umat Islam kontrol agama atas majelis dan orang Yahudi hak untuk berkunjung, tapi tidak berdoa di sana.

Tapi orang-orang Palestina merasa curiga dan khawatir kalau Israel akan mencoba merebut Kompleks masjid Al-Aqsa tersebut dengan diam-diam.

Situs ini menampung Masjid Al-Aqsa dan kubah batu suci, situs tersuci ketiga Islam setelah Mekkah dan Madinah, serta reruntuhan Kuil Yahudi

Orang-orang Muslim mengetahui situs tersebut sebagai al-Haram al-Sharif, atau Tempat Suci, sementara orang Yahudi merujuk sebagai Temple Mount.

Presiden Palestina Mahmoud Abbas telah mempercepat kunjungannya ke China pada hari Rabu untuk kembali ke Palestina untuk menghadapi ketegangan yang meningkat.

Kantornya mengatakan bahwa dia telah berhubungan dengan para pemimpin Arab dan internasional untuk mencoba “mencegah kemerosotan situasi”.

Sementara itu, pada hari Rabu (19/7), pemimpin tertinggi Muslim Yerusalem meminta semua masjid di kota tersebut ditutup pada hari Jumat (22/7) untuk memprotes tindakan keamanan baru tersebut.

Mufti Agung Muhammad Hussein mengatakan bahwa agar umat Islam Palestina berkumpul di luar gerbang Masjid Al-Aqsa untuk ibadah sholat Jum’at.

Setelah serangan dugaan Jumat (14/7) lalu, Israel menutup daerah tersebut, mencegah sholat Jum’at di Masjid Al-Aqsa untuk pertama kalinya dalam beberapa dasawarsa. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *