oleh

Hingga Kini 500 Tewas di Marawi

PENANEGERI, Desk Internasional – Jumlah korban tewas dalam konflik di Marawi selama hampir 2 bulan terakhir ini telah menembus angka 500 orang tewas, demikian menurut data resmi pemerintah Filipina.

Pihak Istana Malacañang mengatakan pada hari Minggu malam tanggal 9 Juli 2017, bahwa hingga kini  sejumlah 507 orang telah meninggal sejak krisis di Marawi dimulai pada tanggal 23 Mei.

Dari 507 orang yang meninggal, 379 adalah teroris, demikian menurut Asisten Komunikasi Presiden, Marie Banaag yang dikutip oleh ABS-CBN, Minggu (9/7).

Jumlah korban tewas sipil mencapai 39, sementara korban tewas dari pihak tentara pemerintah sekarang berada di posisi 89, kata Banaag.

Serangan pemerintah di Marawi City akan memasuki minggu kedelapan pada hari Selasa, 11 Juli 2017, namun milisi Maute yang disebut terkait dengan kelompok Teroris ISIS tidak menunjukkan tanda-tanda menyerah meski ada pemboman dan operasi darat pasukan Filipina yang tanpa henti.

Dari jumlah awal pasukan sekitar 500 orang milisi, setelah konflik berjalan 2 bulan, militer mengatakan jumlah teroris yang masih bersembunyi di kota tersebut sekarang mencapai sekitar 80 orang.

Ini termasuk pemimpin kelompok Maute dan pemimpin senior Abu Sayyaf Isnilon Hapilon.

Militer telah mengalami masa-masa sulit untuk merebut kembali bagian-bagian Marawi yang masih dikendalikan oleh para milisi, karena penembak jitu dari sisi musuh masih bersembunyi di sekitar zona konflik. Pasukan pemerintah juga berhati-hati dalam maju menuju posisi musuh karena adanya jebakan ranjau dan peledak.

Sementara pemerintah telah menetapkan jumlah korban tewas sipil di 39, militer yakin ini bisa “meningkat secara signifikan” karena tentara belum mencapai bagian lain kota di mana beberapa warga sipil yang terjebak dikhawatirkan telah dieksekusi.

Juru Bicara Angkatan Bersenjata Brigadir Jenderal Restituto Padilla, bagaimanapun, menolak klaim bahwa jumlah korban tewas sipil dikurangi oleh pemerintah.

“Banyak tuduhan yang bisa dilontarkan, itulah mengapa ada seruan agar kita bersikap sangat bijaksana terhadap apa yang kami yakini,” katanya. “Kami tidak menaikkan jumlah korban sampai kami yakin tentang kematian tersebut,” katanya

Bentrokan meletus di kota Marawi yang mayoritas Islam pada 23 Mei 2017 lalu, ketika kelompok milisi yang dipimpin oleh kelompok Maute dan Abu Sayyaf merebut bagian-bagian di dalam Kota Marawi

Bentrokan tersebut telah mendorong Presiden Rodrigo Duterte untuk menempatkan seluruh Mindanao di bawah kondisi darurat militer.

Akibat bentrokan berkepanjangan di Marawi, kota yang memilki banyak Masjid ini telah mengalami kerusakan hebat di sana-sini.

Sekitar sejumlah 400.000 penduduk sipil dari Marawi dan daerah-daerah terpencil juga telah mengungsi akibat pertempuran tersebut. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *