oleh

Indonesia ‘Darurat Hoax’

PENANEGERI, Jakarta – Indonesia ditengarai sudah masuk dalam ‘darurat Hoax’, alias saking banyaknya informasi hoax/hoaks yang beredar.

Kepala Bareskrim Polri Komjen Pol Ari Dono Sukmanto mengatakan, banyaknya konten hoaks, ujaran kebencian dengan mengaitkan suku, agama, ras dan golongan (SARA) menunjukkan Indonesia secara ironis telah memasuki darurat kejadian luar biasa (KLB) akal sehat.

Kepala Bareskrim Polri itu menilai, para pelaku penyebaran konten hoaks secara ironis mengidap gangguan kejiwaan sehingga tidak mampu menggunakan akal sehatnya.

“Apa namanya kalau bukan sakit jiwa karena sukanya menggoreng isu hoaks lalu gorengan itu dimakan. Kemudian yang memakannya jadi ikut-ikutan menyebar hoaks?” kata Komjen Ari, menggambarkan perumpamaan yang ironis dan satire melalui siaran persnya, Jumat (23/2).

Berdasarkan penelusuran Bareskrim Polri, penyebaran hoax mengenai penyerangan tokoh agama tersebut dilakukan melalui beberapa jejaring media sosial, mulai dari Facebook, Google+, Twitter, hingga situs berbagi video Youtube.

“Adapun akun-akun yang membahas hal tersebut dimotori oleh beberapa akun yang sudah dikantongi oleh Polri. Jadi, siap-siap saja jika masih terus menyebarkan hoax seperti itu,” Komjen Ari menandaskan.

Maka penggoreng isu hoaks dan ujaran kebencian itu jauh lebih berbahaya dari pada pengidap sakit jiwa yang kini oleh masyarakat justru dituduh sebagai pembuat onar.

Belakangan, muncul serentetan isu penyerangan terhadap pemuka agama yang diduga dilakukan orang dengan gangguan jiwa. Sebagian besar dari kabar tersebut ternyata hoaks.

Karenanya secara perumpamaan yang ironis, Indonesia saat ini terjangkit darurat kejadian luar biasa (KLB) akal sehat.

“Ada kejadian luar biasa (KLB) saat ini yaitu terbaliknya logika masyarakat,” kata Komjen Ari, dengan sangat prihatin akibat banyaknya ujaran kebencian (hate speech) antar golongan dan info hoaks yang bertebaran.

Kepala Bareskrim Komjen Ari Dono Sukmanto sangat merasa sangat prihatin dengan maraknya penyebaran ujaran kebencian (hate speech), kemudian informsi hoax atau kabar bohong.

Komjen Ari sangat prihatin dengan ulah para ‘penggoreng’ isu hoaks hingga ujaran kebencian (hate speech), juga ujaran hasutan tentang suku, agama, ras, dan golongan (SARA) yang menurutnya sudah keterlaluan.

“Saat penggoreng, penyebar hoax hingga pelaku ujaran kebencian justru menjadi pahlawan. Sementara pengidap penyakit kejiwaan yang sebenarnya menjadi tertuduh bahkan dihakimi oleh massa. Indonesia darurat KLB akal sehat dan hati yang bersih,” papar Komjen Ari menambahkan.

Kasus terbaru, Bareskrim mengungkapkan ujaran kebencian atau penghinaan melalui media sosial di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau.

Tersangka berinisial MKN (57), seorang wiraswasta. Ia diduga membuat konten SARA, penghinaan terhadap Kepala Negara hingga Ibu Negara Iriana Jokowi.

“Sebutan apa yang paling tepat bagi lelaki yang berani menghina seorang wanita, yaitu Ibu Negara? Kalau lahir dari bukan ibu, sih, enggak apa-apa,” ujar Komjen Ari sangat prihatin.

Komjen Ari menyebut ada pihak yang sengaja “menggoreng” isu teror dan penyerangan tokoh agama. Dia bahkan mengklaim telah mengantongi aktor penyebar berita bohong itu.

“Hasil penyelidikan menemukan fakta bahwa itu semua hoax. Tujuan hoax itu justru untuk menggiring opini bahwa negara ini sedang berada dalam situasi dan kondisi yang seolah-olah bahaya. Di titik ini, masyarakat sebenarnya justru terjebak dalam skenario dari sutradara hoax itu,” ujar Komjen Ari melalui keterangan tertulisnya, Jakarta, Kamis (22/2).

Sejak Januari hingga Februari 2018, polisi menangkap 26 pelaku penyebaran hoaks dengan bentuk penggiringan opini masing-masing. Ari mengatakan, tujuannya jelas untuk memprovokasi masyarakat.

Oleh karena itu, Ari menegaskan agar masyarakat luas jangan mau diprovokasi. Sebaliknya, masyarakat juga jangan ikut-ikutan memprovokasi dengan menyebarkan kabar hoaks (bohong/palsu). (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *