oleh

Ini Hasil Pemeriksaan Induk Orangutan Subulussalam Usai Dievakuasi

-Aceh-68 views

PENANEGERI, Banda Aceh – Induk orangutan Sumatera (Pongo abelii) yang berhasil dievakuasi Tim BKSDA Aceh Seksi Wilayah 2 Subulussalam bersama WCS-IP dan OIC di perkebunan warga di Gampong Bunga Tanjung, Kecamatan Sultan Daulat, Subulussalam telah selesai diperiksa, Rabu (13/3).

Orangutan yang diberi nama Hope utu saat ini masih menjalani perawatan di Pusat Karantina Orangutan di Sibolangit, Sumatera Utara. Sementara anak orangutan yang mati juga telah dikuburkan di wilayah itu.

“Dari hasi pemeriksaan di Pusat Karantina Orangutan, Hope memiliki berat badan 35,68 kilogram, kondisi rambut kusam dan kulit bersisik dengan status dehidrasi lebih dari 10 persen,” ujar Kepala BKSDA Aceh, Sapto Aji Prabowo, Rabu (13/3).

Kemudian, bagian mulut Hope terlihat bengkak dengan banyak bekas luka dan memar. Mata kanan terlihat bengkak dan sudah mengalami kerusakan permanen (bagian mata sudah mengecil berwarna putih susu) yang mungkin kerusakannya terjadi lebih dari 2 hingga 3 bulan yang lalu.

“Mata kiri rusak dengan pendarahan di bagian kornea dan pupil, diakibatkan tembakan 3 butir peluru senapan angin,” lanjut Sapto.

Baca Juga  Penunjukan Caretaker Ketua Umum Kadin Langsa Langgar Ketentuan 

Hope juga memiliki luka lebam di seluruh tubuh, terutama bagian kedua tangan, luka sayatan terbuka di beberapa bagian seperti bagian tangan kanan dengan lebar luka 10 sentimeter, tangan kiri luka di bagian jari-jari dengan lebar luka 2 hingga 3 sentimeter, kaki kanan luka terbuka di bagian paha atas dengan lebar luka 10 sentimeter yang mana luka terlihat seperti luka sayatan benda tajam.

“Kemudian telapak kaki kanan luka terbuka yang mengakibatkan kerusakan di bagian tendang dengan lebar luka 5 sentimeter namun luka cukup dalam, kaki kiri luka selebar 4 sentimeter dengan kedalaman satu sentimeter di daerah ruas jari telunjuk. Luka di bagian bahu kiri selebar luka satu sentimeter, namun cukup dalam dengan kedalaman lebih dari 10 sentimeter mengenai tulang,” jelasnya.

Hasil pemeriksaan dengan x-ray, ditemukan peluru senapan angin sebanyak 74 butir yang tersebar di seluruh badan. Hope juga mengalami patah tulang Clavicula kiriter buka yang dalam artian tulang mencuat keluar dari kulit serta retak tulang pelvis kiri dengan keretakan kurang lebih 2 sentimeter.

Baca Juga  Proyek di Bireuen Belum Juga Ditender

“Kondisi Hope masih belum stabil sehingga masih akan berada di kandang treatment untuk mendapatkan perawatan intensif 24 jam,” jelas Sapto.

Orangutan sumatera (Pongo abelii) merupakan salah satu jenis satwa liar yang dilindungi dari Kelompok Mamalia Primata Famili Hominidae berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.106/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 tentang Perubahan Kedua Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.20/Menlhk/ Setjen/Kum.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar Yang Dilindungi, yang saat ini dalam ancaman kepunahan.

“Kejadian di Subulussalam ini merupakan kejadian keempat penggunaan senapan angin untuk menyerang orangutan di wilayah Aceh, selama kurun waktu 2010-2014. Kejadian pertama di Aceh Tenggara, kedua di Aceh Selatan, ketiga di Aceh Timur dan terakhir di Subulussalam ini,” ungkapnya.

BKSDA Aceh mengecam keras tindakan biadab yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang menganiaya satwa liar yang dilindungi undang-undang yaitu orangutan sumatera (Pongo abelii) di Gampong Bunga Tanjung Kecamatan Sultan Daulat, Subulussalam ini ehingga orangutan terluka parah dengan 74 butir peluru senapan angin bersarang di tubuhnya serta menyebabkan bayi orangutan mati karena kekurangan nutrisi dan syok berat.

Baca Juga  Jika Terbukti Lalai, DPRA Akan Panggil Pihak SUPM Ladong Aceh Besar 

“BKSDA Aceh telah berkoordinasi dengan Dirjen Penegakan Hukum LHK melalui Balai Penegakan Hukum LHK Wilayah Sumatera untuk mengusut tuntas kasus kematian bayi orangutan sumatera dan penganiayaan induknya di Subulussalam ini. Balai Gakkum Wilayah Sumatera didukung BKSDA Aceh, berkomitmen untuk dapat mengungkap kasus ini,” tegas Sapto.

BKSDA juga akan berkoordinasi dengan Kapolda Aceh agar dapat dilakukan penertiban peredaran senapan angina ilegal, karena dalam Peraturan Kapolri Nomor 8 Tahun 2012 disebutkan bahwa penggunaan senapan angin hanya untuk olahraga dan harus disertai dengan izin resmi.

“Penyadartahuan masyarakat juga akan lebih massif dilakukan dengan melibatkan tokoh masyarakat, perangkat gampong, media massa serta media sosial dan juga melibatkan aparat penegak hukum. BKSDA Aceh mengucapkan terima kasih kepada seluruh mitra dan masyarakat yang membantu dalam evakuasi orangutan Hope,” tambahnya.

Komentar

Berita Terbaru