oleh

Ini Jejak Sindikat Penyelundupan Sabu 50 Kilogram Jaringan Malaysia-Aceh yang Dihukum Mati

PENANEGERI, Banda Aceh – Empat sindikat pengedar 50 kilogram sabu jaringan Malaysia-Aceh divonis hukuman mati. Barang haram itu diambil dari Malaysia dan dipasok ke Aceh beberapa waktu lalu. Hingga kini, sang pemilik pun masih buron.

Dalam kasus penyelundupan sabu jaringan internasional ini, polisi menangkap lima orang tersangka yang memiliki peran berbeda.

Pengadilan Negeri (PN) Banda Aceh memvonis empat orang terdakwa dengan hukuman mati yakni M Albakir, Azhari, Abdul Hannas dan Mahyudin. Sementara, satu terdakwa lainnya yakni Razali M Dia alias Doyok divonis oleh hakim dengan hukuman penjara seumur hidup.

Sidang putusan diselenggarakan di PN Banda Aceh, Senin (18/3) kemarin. Para terdakwa pun disidang dalam berkas terpisah.

Pada 3 Juni 2018 lau, Abdul Hannas alias Annas sedang berada di rumahnya di Gampong Tanjong, Kecamatan Idi Rayeuk, Aceh Timur ketika dihubungi temannya Abu, sekitar pukul 16.00 WIB. Dalam pembicaran, Abu pun menawarkan pekerjaan kepada Annas untuk mengambil sabu sebanyak 50 kilogram di Penang, Malaysia.

Baca Juga  YARA Minta Polisi Tahan Pelaku Perkosaan Anak di Baitussalam

Saat itu, Abu menjanjikan upah sebesar Rp 5 juta per kilogramnya kepada Annas. Direncanakan, uang itu nantinya akan dibagi terdakwa kepada Mahyuddin sebesar Rp 1,5 juta dan terdakwa Razali M Dia alias Doyok mendapat bagian Rp 1 juta.

Dua hari berselang, tepatnya pada 5 Juni 2018, terdakwa Annas menghubungi Mahyudin sekitar pukul 08.00 WIB dan menawarkan pekerjaan itu (mengambil sabu di Penang, Malaysia) kepada Mahyudin.

Annas kembali menghubungi Abu dan memberitahukan bahwa Mahyudin siap bekerja sama. Abu pun selanjutnya mengirimkan nomor kontak Rahmat yang merupakan orang kepercayaannya di Malaysia. Dia juga mengirimkan lokasi kapal tempat transaksi yang kemudian pesan itu diteruskan Annas ke Mahyudin.

Sore harinya, Annas menelpon Razali M Dia alias Doyok dan memintanya menyiapkan kapal milik Annas yang dikelola Doyok. Kapal itu akan digunakan untuk mengambil sabu ke Penang, Malaysia.

Hari itu juga, Mahyudin menghubungi M Albakir serta Azhari dan mengajak kerjasama menjemput sabu di Penang, Malaysia. Mahyudin juga menjanjikan kepada keduanya upah sebagai Rp 500 ribu per kilogram untuk dibagi dua.

Baca Juga  Pj Ketua DPK PNA Kuala Bireuen Tuntut Caleg Tetap Amanah Setelah Terpilih

Setelah adanya titik pertemuan, pada 6 Juni 2018, Mahyudin menghubungi Annas sekitar pukul 22.00 WIB dan memberitahukan bahwa kapal sudah dalam perjalanan ke lokasi penjemputan. Annas kemudian menghubungi Doyok dan memintanya untuk menunggu serta menerima sabu di Kuala Gelumpang, Aceh Timur.

Usai barang diterima, diperintahkan sabu itu untuk diserahkan kepadanya. Beberapa saat kemudian, Annas juga menghubungi Abu dan mengabarkan bahwa kapal sudah berangkat untuk mengambil sabu.

Penjemputan sabu ke tengah laut itu dilakukan oleh M Albakir serta Azhari. Saat itu, keduanya diketahui sudah mengantongi titik koordinat lokasi transaksi.

Ketika M Albakir Bakir dan Azhari berada di perairan Penang, Malaysia dan sesuai titik koordinat yang ditentukan, kemudian tiba sebuah kapal boat yang mendekati keduanya. Dari kapal itulah, Albakir serta Azhari menerima 50 kilogram sabu. Usai memintahkan barang haram itu ke kapal, mereka kembali ke Kuala Idi, Aceh Timur.

Dalam perjalanan pulang, tepatnya pada 8 Juni 2048, ketika Albakir dan Azhari berada di Selat Malaka, Perairan Idi, Aceh Timur, sore hari kapal mereka diberhentikan oleh kapal patroli polisi. Saat digeledah oleh petugas dari Mabes Polri dan Bea Cukai, ditemukanlah sabu seberat 50 kilogram dan petugas pun menangkap keduanya.

Baca Juga  Seorang Pelajar di Aceh Tamiang Tewas Bunuh Diri

Petugas kemudian melakukan pengembangan atas kasus ini dan menangkap Annas, Mahyudin serta Razali alias Doyok. Mereka ditangkap di lokasi di Aceh Timur.

Pada 28 Januari lalu, kelima terdakwa disidang di PN Banda Aceh dengan agenda pembacaan tuntutan. Sebanyak empat terdakwa dituntut hukuman mati dan seorang lainnya yakni Razali dituntut hukuman penjara seumur hidup.

“Menuntut terdakwa Mahyudin dengan tuntutan hukuman mati,” kata JPU di PN Banda Aceh kemarin.

Senin (18/3) kemarin, Majelis Hakim PN Banda Aceh pun memvonis atau memutuskan keempat terdakwa dengan hukuman mati. Sementara seorang terdakwa lain, Razali, divonis dengan hukuman seumur hidup.

Komentar

Berita Terbaru