oleh

Isnilon Hapilon dan Milisi Maute masih Bertahan di Marawi

PENANEGERI, Desk Internasional – Setelah militer Filipina mengatakan pekan lalu bahwa mereka menduga bahwa pemimpin senior Abu Sayyaf Grup, Isnilon Hapilon telah meninggalkan Kota Marawi, namun baru-baru ini Menteri Pertahanan Delfin Lorenzana pada hari Senin (3/7) mengatakan bahwa Isnilon Hapilon sebagai salah satu teroris paling dicari di dunia tetap bersembunyi di kota Marawi yang tengah dikepung tersebut.

“Menurut informasi terbaru kami, dia masih berada di dalam Marawi, dia bersembunyi di dalam salah satu masjid di Marawi. Saya rasa ini mungkin benar,” kata Lorenzana dalam sebuah konferensi pers di MalacaƱang.

Kepala pertahanan mengatakan Hapilon belum kembali ke pulau asalnya di Basilan, menurut informasi dari aset sipil militer tersebut.

“Ada tiga pejuang dari Marawi yang tiba di Basilan lebih dari seminggu yang lalu, tapi Isnilon bukan salah satunya, jadi kita masih percaya bahwa dia masih di Marawi,” katanya.

Milisi Kelompok Maute yang dipimpin oleh Isnilon Hapilon dan Maute Bersaudara (Maute Brothers) yakni Omar Maute dan Abdullah Maute diyakini masih bertahan di sekitar 1.500 buah bangunan di wilayah Marawi di Filipina Selatan setelah berminggu-minggu pertempuran sengit antara pihak milisi dan tentara Filipina yang menyebabkan ratusan orang tewas.

Militer Filipina telah bertempur selama ini untuk berusaha mengusir milsi Maute yang bertahan di kota Marawi, serangan demi serangan artileri dan serangan udara siang-malam telah menyebabkan area di pusat kota Marawi menjadi puing-puing.

Presiden Rodrigo Duterte bulan lalu berjanji untuk menghancurkan militan, namun beberapa tenggat waktu telah lewat.

Konflik bersenjata ini telah menyebabkan puluhan orang tewas dan memaksa 400.000 orang lainnya dari rumah mereka.

Milisi Maute yang bersenjata tersebut dipimpin oleh Isnilon Hapilon, salah satu pria paling dicari di dunia, yang diyakini masih hidup dan bersembunyi di sebuah masjid, kata Menteri Pertahanan Delfin Lorenzana dalam sebuah konferensi pers di Manila.

“Operasi kliring (pembesihan) sulit dilakukan karena adanya IED (improvised explosive devices) atau peledak improvisasi, jebakan-jebakan yang ditinggalkan oleh para teroris,” kata juru bicara militer Pemerintah Filipina, Letnan Kolonel Jo-ar Herrera.

Sebanyak delapan puluh dua jiwa tentara dan polisi dan 39 warga sipil tewas dalam konflik selama berminggu-minggu di Marawi, papar Letkol Herrera.

Sekitar seratus gerilyawan masih bercokol di kota tersebut kemungkinan mereka menggunakan rute air untuk membawa amunisi dan mengevakuasi milisi yang terluka, taktik ini membantu mereka menahan serangan militer Filipina selama berminggu-minggu.

Sekitar 300 jiwa milisi bersenjata diduga telah terbunuh sejauh ini sepanjang jalannya pertempuran di Marawi.

Lorenzana mengatakan bahwa komandan militer menginginkan sebuah operasi cepat, “tapi musuh juga sangat cerdas dan banyak akal”.

Presiden Duterte juga masih memberlakukan darurat militer di wilayah Mindanao, Filipina Selatan. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *