oleh

Istri Hakim Jamaluddin Jadi Tersangka Pembunuhan, Pengacara: Belum Tahu

PENANEGERI, Medan – Istri hakim PN Medan Jamaluddin, ZH, ditangkap polisi bersama dua orang suruhannya oleh polisi atas kematian suaminya tersebut. Namun pengacaranya sampai saat ini belum tahu penetapan tersebut.

“Sampai saat ini saya belum tahu. Belum diberitahukan kepada (kita) penasihat hukumnya,” kata penasihat hukum ZH alias Zuraida Hanum, Onan Purba, Selasa (7/1/2020) dikutip dari laman detikcom.

Onan bercerita, sejak malam tadi hingga pukul 04.30 WIB, pihaknya masih mendampingi ZH saat diperiksa di Mapolrestabes Medan.

Setelah selesai kemudian pulang, dan paginya diketahui sudah ada rekonstruksi di rumah ZH dan Jamaluddin, di Medan Johor, Medan.

“Sampai tadi pagi kan dia masih diperiksa di Polrestabes Medan. Sampai pukul 04.30 WIB masih kita dampingi, belum ada informasi apapun. Setelah selesai, kemudian tim kita disuruhnya pulang oleh ZH. Dia (ZH) menyuruh kita Istirahat aja dulu, kalau ada hal-hal penting nanti di telepon. Kata ZH, kepada tim kita,” sebut Onan.

Selanjutnya, pendamping (ZH) pulang istirahat. Ternyata, dalam perjalanannya pagi tadi malah sudah dilakukan rekonstruksi di rumahnya.

“Rupanya di dalam perjalanannya tim kita tidak tahu rupanya pagi itu juga dilakukan rekonstruksi di rumahnya. Jadi saya dapat informasi dari ‘udara’ lah. Kemudian saya suruh anggota ke sana untuk mencari kebenaran formalnya, Ternyata sampai di sana, ternyata ZH tidak ada di rumah. Kosong rumah. Yang ada hanya seperti keluarga saja,” ujar Onan.

Sesampai di rumah, pihak keluarga tersebut menyebutkan jika mereka (ZH dan polisi) sudah ke Kutalimbaru.

“Sampai di rumah. Mereka bertanya, tim bilang penasihat hukumnya. Jadi, informasi mereka yang di rumah itu, setahunya mereka (ZH dan polisi) sudah ke Kutalimbaru. Berarti kan itu TKP,” sebut Onan.

Onan mengaku dari situlah pihaknya mengetahui hal tersebut.

“Jadi satu hal yang bikin perasaan saya tidak enak, kalau memang begitu, sudah ada memang rekonstruksi begitu, dan mau di bawa. Apa salahnya, diberitahukan kepada penasehat hukum. Inilah kadang-kadang, kerja sama terhadap penyidik dan pengacara ini seolah-olah tidak pernah terjalin dengan baik,” tambah Onan.

Padahal, kata Onan, mereka (polisi) bisa menghubungi pihaknya. Misalnya lakukan sesuatu kan bisa disampaikan.

“Nah, ini kenapa disembunyikan,” sebut Onan.

“Kalau itu saya keberatan. Tapi entah apa kebijakannya, terserah mereka. Kemudian, kenapa si ZH pun tidak pernah menghubungi kita. Ada apa. Sejak habis pemeriksaan hingga saat ini, sudah bolak-balik kita komunikasi tapi tidak ada jawaban,” sebut Onan.

Jadi, sebagai penasehat hukum pihaknya menunggu informasi yang benar secara langsung. “Kita menunggu informasi secara langsung kepada kita apakah dari pihak penyidik jika dia ditahan, berarti ada surat perintah penahanan yang ditinggalkan pada keluarga,” sebut Onan.

Lalu pihaknya dampingi dia sebagai tersangka, bukan lagi sebagai saksi. “Jadi, secara moral saya syukur kepada polisi kalau memang sudah ditemukan pelakunya. Kita bukan membela kesalahannya, tapi kita membela hukumnya. Walaupun kami belum tahu pasti, kami mengucap syukur kepada polisi kalau memang sudah benar itu pelakunya. Terlepas, itu klien saya atau siapa,” ujar Onan.

“Upaya ke depan, kalau memang dia (ZH) membantah tidak ikut, tapi diikut-ikutkan oleh orang lain, saya ajukan praperadilan. Kalau dia membantah, tapi kalau dia mengaku juga. Hukumnya kita bela. Namun, selama pemeriksaan saya ikuti, dia belum pernah mengatakan siapa pelakunya, dan dia bersikukuh dia tidak tahu,” ujar Onan. (*/dtc)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *