oleh

Jurnalis di Lhokseumawe Kecam Penulis Opini “Parasit Demokrasi”

-Aceh-103 views

PENANEGERI, Aceh Utara – Lintas organisasi wartawan di Kota Lhokseumawe dan Aceh Utara, mengecam opini “Parasit Demokrasi” yang ditulis seorang dosen Universitas Malikussaleh. Artikel itu dinilai menyudutkan dan melecehkan profesi jurnalis.

Ketua AJI Kota Lhokseumawe Agustiar Ismail di dampingi jurnalis lainnya dalam konferensi pers di Lhokseumawe, Jumat (5/7) menyebutkan, tulisan itu dinilai kurang bijak, apalagi penulisnya seorang akedemisi.

Opini dengan judul “Parasit Demokrasi” ini ditulis Kepala UPT Kehumasan dan Hubungan Eksternal Universitas Malikussaleh, Teuku Kemal Fasya, yang terbit di halaman opini sebuah surat kabar (koran) lokal, Kamis (4/7).

“Kita menyesalkan sikap seorang Kemal Fasya yang kurang bijak dan notabenenya adalah seorang akademisi dan pengamat yang selama ini menjadi sumber para wartawan,” sesal Agustiar.

Tulisan opini yang menyanjung seorang wartawan anti amplop itu bagus. Namun, tambah Agustiar, Kemal Fasya dalam opini itu menyebut bahwa dia menitipkan amplop untuk wartawan melalui seorang wartawan senior, itu memalukan, apalagi yang bersangkutan anggota AJI.

Baca Juga  Pasutri di Langsa Ditangkap Setelah Buat Laporan Palsu

Meski demikian, pihaknya sangat menjunjung tinggi kebebasan berpendapat baik di media sosial maupun media massa. Juga mengapresiasi Kemal Fasya yang telah berkarya melalui opini, karena beropini atau berpendapat merupakan hak asasi semua orang.

Sementara, Deni Andeva perwakilan IJTI menyebutkan, persoalan beropini di media massa sangat dihargai, tapi harus lebih cerdas melihat persoalan, sehingga tidak berbenturan dengan etika dan kehormatan orang lain.

Hal senada juga disampaikan Ketua Umum DPP-PWA Maimun Asnawi, semestinya jika ingin menulis pendapatnya tentang “Parasit Demokrasi”, tidak seharusnya mengambil pintu masuk dengan menjelek-jelekkan para wartawan.

Menurutnya, cukup banyak bahan dan sudut pandang lain yang tidak kalah menarik yang dapat disampaikan di tulisan itu.

“Sekarang saya bertanya, apakah Kemal Fasya dan seluruh orang yang ada di Unimal itu jauh lebih baik dari kaum kami para jurnalis,” ucap Maimun setengah bertanya.

“Jangan munafik, semua kita tidak sempurna, ada saja kesalahan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Konon lagi bagi mereka yang duduk di posisi tertentu dalam sebuah lembaga, seperti Kemal Fasya di Unimal,” timpalnya.

Baca Juga  Wanita yang Pingsan di Pinggir Jalan di Aceh Utara Bukan Korban Kejahatan

Menurut lintas organisasi wartawan, beropini atau berpendapat, merupakan hak asasi manusia sebagaimana yang termaktub dalam undang-undang, baik secara lisan dan atau tulisan melalui media cetak maupun elektronik, dengan memperhatikan nilai-nilai agama, kesusilaan, ketertiban, kepentingan umum dan keutuhan negara.

Adapun lintas organisasi wartawan yang ada di Kota Lhokseumawe dan Aceh Utara tersebut yakni, Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Dewan Pengurus Pusat Persatuan Wartawant Aceh (DPP-PWA), Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) dan Pewarta Foto Indonesia (PFI).

Berikut bagian kutipan opini Kemal Fasya yang dinilai menyudutkan wartawan itu dengan menyebut di antaranya, ‘ketika wartawan bodrex lebih banyak berkerumun pada momen-momen (meugang puasa dan meugang lebaran) seperti itu’.

Kemudian, ‘para parasit demokrasi ini sebenarnya sama seperti kuman atau virus zoonotik yang memengaruhi nilai-nilai personal dan publik, yang secara evolutif akan merusak psikologi manusia.’

Selanjutnya, ‘fenomena seperti itu semakin sulit ditemukan di era disrupsi dan resesi seperti saat ini, ketika seluruh pekerjaan kerap bisa dikuantifikasi dengan uang.’ Dan opini itu juga menulis, ‘banyak wartawan, amplopnya diambil, berita tak pernah dituliskan.

Baca Juga  Pemerintah Aceh Harus Mendukung Pengusaha Lokal

Oleh karenanya, para wartawan menganggap tulisan itu melecehkan harkat serta martabat wartawan Aceh, khususnya wilayah Lhokseumawe dan Aceh Utara dan melukai hati wartawan. Persoalan itu bukan hal sepele, tetapi masalah serius.

Lebih lanjut disebutkan, jika dikatakan banyak wartawan, maka yang bersangkutan juga harus menyebutkan siapa orangnya dan dari media mana.

Atas dasar ini, para jurnalis mengecam keras opini “Parasit Demokrasi” dan meminta Kemal Fasya segera meminta maaf kepada wartawan secara tertulis dan dimuat di media massa di mana opini tersebut diterbitkan.

Kemudian, mendesak Rektor Unimal Dr Herman Fithra mencopot jabatan Kemal Fasha sebagai Kepala UPT Kehumasan dan Hubungan Eksternal Universitas Malikussaleh.

Komentar

Berita Terbaru