oleh

Kasus Istri Gugat Cerai Suami di Bireuen Meningkat

PENANEGERI, Bireuen – Kasus istri menggugat cerai suami yang ditangani Mahkamah Syariah di Kabupaten Bireuen meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

Sejauh ini, istri yang menggugat cerai suami paling menonjol mencapai 334 perkara, sementara suami menggugat cerai istri sebanyak 182 perkara.

Ketua Mahkamah Syariah Bireuen Drs Amiruddin, SH MH melalui Panitera, Drs Syarwandi, Minggu (14/4) mengatakan, kalau tahun 2018 perkara yang diterima di Mahkamah Syariah Bireuen 799 perkara.

“Yang sangat menonjol istri gugat cerai suami paling menonjol mencapai 334 perkara, meningkat tajam, sedangkan di tahun 2017 hanya 230 perkara,” ungkapnya.

Faktor utama penyebab meningkatnya perkara cerai istri gugat suami ini kebanyakan, suami tidak bertanggung jawab serta menyia-nyiakan istri, di samping tidak memberikan nafkah hidup secara patut.

“Faktor lain, perselisihan antara suami istri yang tidak rukun lagi, akibat adanya pihak ketiga (selingkuh) serta faktor ekonomi,” terang Syarwandi.

Dari 799 perkara yang diterima di Mahkamah Syariah Bireuen mulai Januari hingga Desember 2018, antara lain 182 perkara talak cerai, 334 perkara gugat cerai, 12 perkara harta bersama.

Baca Juga  Kantor Pos Cabang Bireuen Juga Terima Paket Tabloid Indonesia Barokah

Di samping itu dua perkara penguasaan anak, satu perkara pengesahan anak, 3 perkara perwalian, 220 perkara isbat nikah, 4 perkara dispensasi kawin, 8 perkara kewarisan, 58 perkara penetapan ahli waris, dan 8 perkara lain-lain.

Selanjutnya dari 799 perkara yang diterima di tahun 2018, 787 perkara termasuk sisa perkara tahun 2017 yang sudah berhasil diputus pada tahun 2018 dan hanya menyisakan perkara tahun 2018 yang sedang dalam proses peradilan tahun 2019 sebanyak 184 perkara.

“Kalau perkara yang telah diputuskan tahun 2018 ada 138 perkara cerai talak, 381 perkara gugat cerai suami, ditambah sisa perkara di tahun 2017,” jelasnya.

Lalu, tambah Syarwandi, 8 perkara terkait harta bersama satu perkara penguasaan anak, 2 perkara perwalian, 197 perkara isbat nikah, 6 perkara dispensasi kawin, 3 perkara pewarisan.

“Begitu juga penetapan ahli waris ada 48 perkara, 7 perkara lain serta 789 perkara dikabulkan, 14 perkara ditolak, 14 perkara tidak diterima, dan 3 perkara yang harus dicoret,” pungkasnya.

Komentar

Berita Terbaru