oleh

Kegiatan GAMIFest dan Indonesiana Terus Berlanjut Diwilayah Tengah Aceh

PENANEGERI, Gayo Lues – Wujud kebersamaan membangun kawasan Gayo-Alas, kegiatan GAMIFest dan Indonesiana akan terus dilaksanakan setiap tahunnya diwilayah Tengah Aceh, yang dibungkus dalam Festival Budaya, dimana casingnya Budaya dan intinya harapan pembangunan disemua lini kehidupan masyarakat dari Pemerintah Pusat.

Hal itu disampaikan Bupati Gayo Lues, H Muhammad Amru, dihadapan perwakilan dari beberapa Kementerian serta Forkopimda Aceh Tengah, Bener Meriah dan Aceh Tenggara, saat acara penutupan kegiatan GAMIFest dan Indonesiana, yang berlangsung di Stadion Seribu Bukit, Blangkejeren, Sabtu (24/11).

Bahkan sambungnya, Kabupaten yang menjadi tuan rumah dalam kegiatan tersebut, terus berganti setiap tahunnya.

“tahun 2018 ini tuan rumahnya Aceh Tengah, 2019 besok Gayo Lues, 2020 tuan rumahnya Aceh Tenggara dan begitu seterusnya,” papar Amru.

Untuk diketahui bersama papar Amru, Kawasan Gayo dan Alas harus dibangun secara khusus. Pasalnya, kawasan ini memiliki kelebihan tersendiri, baik dari alam maupun budayanya yang berbeda, dengan Kabupaten lain yang ada dipesisir Aceh. Kawasan ini juga memiliki Taman Nasional Gunung Leuser sebagai Paru-paru dunia.

Baca Juga  Menjelang Maulid Nabi, Lost Kutapanjang Padat Pembeli

“Diwilayah Tengah Aceh ini, ada tiga Kabupaten dikenal sebagai penghasil Kopi, yakni, Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues dengan Kopi Pantan Cuacanya. Bahkan, diwilayah ini berjejer sederetan Hutan Pinus. Ditambah dengan keseniannya, seperti, Didong di Aceh Tengah dan Bener Meriah, kemudian, di Gayo Lues, selain Tari Saman juga ada Tari Bines, yang secara spesifik hanya dimainkan oleh wanita-wanita cantik di Negeri ini. Semua itu, tentu tidak dimiliki oleh daerah lain. Di Aceh Tengah misalnya, kita juga memiliki Danau Laut Tawar yang dikenal dengan jenis ikannya yang gurih, yakni disebut Ikan Depik,” papar Amru.

Makanya, program ini diciptakan dalam pertemuan, terkait pemeliharaan Warisan Kebudayaan dan Alamiah Dunia, yang dikuti oleh Konfrensi Umum UNESCO pada 16 November 1972, “kita memiliki Tari Saman yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia Tak Benda. Pengakuan tersebut ditandatangani pada 24 November 2011 lalu di Bali,” ungkap Muhammad Amru.

Disamping itu, tambah Amru, promosi keempat wilayah ini memiliki ciri khas dalam bentuk busana dan bahasa.

Baca Juga  Masyarakat Diimbau Tidak Menebang Hutan

“Empat Kabupaten ini Masing-masing memiliki ukiran busana adat tersendiri. Dalam bahasa daerah Gayo disebut dengan Pakaian Kerawang dan bahasa Alas disebut Pakaian Mesirat,” tuturnya.

Oleh sebab itu, kepada Pemerintah Pusat melalui Dirjen Kebudayaan, dirinya memohon agar dapat membantu Pemkab Gayo Lues membangun Saman Center, sebagai pusat Kebudayaan Gayo Lues.

Terkait hal itu, Deputi Koordinasi Kementrian Koordinator PMK, Pamuji Lestari MSC, mengutarakan, penyelenggaraan GAMIFest diharapkan bisa berdampak pada masyarakat di Dataran Tinggi Gayo-Alas (DATIGA), baik di bidang Ekonomi, Sosial dan Infrastruktur. Apalagi sambungnya, Tari Saman merupakan tarian yang mencerminkan kebersamaan yang dinamis, kompak dan harmonis.

“Kami sangat mendukung usulan dari Bapak Bupati Gayo Lues, yang ingin mendirikan Saman Center di Kabupaten julukan Negeri Seribu Bukit ini,” ujarnya.

Pamuji menambahkan, upaya meningkatkan ekonomi masyarakat di  wilayah Tengah Aceh, hendaknya bisa didirikan Coffee Center dan Fakultas Kopi.

“Ini untuk meningkatkan kualitas kopi yang ada di Dataran Tinggi Gayo-Alas. Hal ini bisa diusulkan kepada Presiden RI,” tandasnya.

Komentar

Berita Terbaru