oleh

Kerap Muncul dan Resahkan Warga, BKSDA Aceh Amankan Seekor Buaya Muara di Aceh Selatan

-Aceh-54 views

PENANEGERI, Banda Aceh – Tim BKSDA Aceh Seksi Konservasi Wilayah 2 Subulussalam Resor 15 Tapaktuan bersama warga melakukan upaya pencegahan konflik buaya muara (Crocodylus porosus) yang berpotensi terjadi di kawasan Gampong Ujung Mangki, Kecamatan Bakongan, Aceh Selatan.

Upaya yang dilakukan berupa pemasangan perangkap untuk menangkap buaya tersebut di lokasi yang dimaksud. Alhasil, seekor buaya muara jantan sepanjang 2,8 meter diamankan Senin (4/3) kemarin. Penangkapan biaya ini dipimpin langsung Kepala Resor Resor 15 Tapaktuan, Wirli.

Upaya pencegahan terjadinya konflik satwa liar buaya muara dengan manusia ini dilakukan atas dasar laporan masyarakat pada 23 Februari 2019 tentang adanya kemunculan buaya muara yang terlihat di sekitar tempat tinggal warga.

“Keesokan harinya BKSDA Aceh mengirimkan tim penanggulangan konflik menuju ke lokasi bergabung bersama personel Resot 15 Tapaktuan dan masyarakat disana untuk melakukan upaya penangkapan dengan perangkap,” ujar Kepala BKSDA Aceh, Sapto Aji Prabowo, Selasa (5/3).

Ia menjelaskan, pada 26 Februari 2019, perangkap buaya mulai dipasang di wilayah perairan lokasi buaya itu muncul. Akan tetapi, setelah perangkap terpasang selama kurang lebih 3 hari, tim belum membuahkan hasil sehingga diputuskan untuk kembali ke Banda Aceh.

Baca Juga  Modifikasi Tangki, Mobil dan Sepeda Motor Diamankan di Polsek Jeunieb

“Tetapi masyarakat memohon agar perangkap buaya tetap dipasang sampai buaya muara yang muncul itu dapat ditangkap,” katanya.

Akhirnya, buaya muara tersebut masuk perangkap yang dipasang oleh tim BKSDA Aceh kemarin. Menurut keterangan masyarakat, buaya yang masuk perangkap itu merupakan buaya yang selama ini muncul disekitar pemukiman warga.

“Buaya muara yang ditangkap sepanjang kurang lebih 2,8 meter. Selanjutnya buaya itu dibawa ke Kantor BKSDA Aceh di Banda Aceh untuk diamankan sampai melihat rencana kedepannya apakah akan dilepasliarkan kembali ke habitatnya jika ada lokasi yang memungkinkan,” ungkapnya.

Atau bahkan, sambung Sapto, akan dititipakn ke Lembaga Konservasi yang ada di Aceh untuk manjadi bagian dari upaya mengedukasi masyarakat tentang arti penting satwa liar bagi kehidupan di bumi dengan berwisata pendidikan konservasi di lembaga itu.

“Masyarakat sangat mengapresiasi atas upaya yang sudah dilakukan tim BKSDA Aceh untuk mencegah terjadinya konflik satwa dan menghilangkan kecemasan atas kemunculan buaya tersebut disekitar pemukiman mereka,” tambahnya.

Buaya muara (Crocodylus porosus) merupakan salah satu jenis satwa liar yang dilindungi dari Kelompok Mamalia Famili Crocodylidae berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.106/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 tentang Perubahan Kedua Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.20/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar Yang Dilindungi.

Baca Juga  Jelang Lebaran, Permintaan Ayam Potong Meningkat Tajam

Dalam katergori IUCN, buaya muara berstatus Least Concern/tingkat risiko rendah dengan penyebaran atau distribusi di hampir seluruh kawasan hutan di Pulau Sumatera dengan distribusi populasi terbesar mulai dari Perairan Australia, Bangladesh, Brunei Darussalam, Kamboja, India, Indonesia, Malaysia, Myamar, Palau, Papua New Guinea, Philipina, Pulau Salomon, Sri Lanka, Vanatua hingga Vietnam, dengan kemungkinan telah punah di Thailand dan Singapura.

BKSDA Aceh sangat berterimakasih atas apa yang telah dilakukan oleh masyarakat Gampong Ujung Mangki, Kecamatan Bakongan, Aceh Selatan dengan melaporkan kemunculan Buaya muara itu, sehingga upaya pencegahan sehingga tidak sampai menimbulkan dampak negatif baik bagi satwa maupun masyarakat.

Komentar

Berita Terbaru