oleh

Ketika Muhammad Azam Warga Bireuen Terenggut Keceriaannya 

PENANEGERI, Bireuen – Di saat kebanyakan anak sedang asyik-asyiknya belajar berjalan, dan mulai berbicara terpatah-patah serta tertawa bersama orangtuanya, namun sayang hal ini tak bisa dilakukan Muhamad Azam (2), yang kini harus terbaring menunggu Mukjizat Tuhan.

Kondisi sakit yang diderita Muhammad Azam, anak semata wayang Zainal Akmal (29) dan Sutarti (29) warga lorong Jeumpa, Desa Juli Uruk Anoe, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen ini begitu meyedihkan.

Saat ini, kondisi kepala Muhammad Azam semakin lama semakin membesar, dan diduga menderita penyakit Hidrosefalus. Belakangan Muhammad Azam harus menghabiskan hari-harinya dengan hanya terbaring.

Awal kisah pertama hingga Muhammad Azam harus terenggut keceriaannya terjadi ketika Ia menginjak umur 13 bulan. Muhammad Azam mengalami demam dan sempat dibawa ke Puskesmas.

“Sebelumya Muhammad Azam sudah bisa tertatih berjalan, namun setelah itu Ia sempat sakit demam, lalu ia harus menerima kenyataan seperti ini, bahkan suarannya pun menghilang,” Kata Sutarti kapada Penanegri.com, Kamis (20/12) dengan mata berkaca.

Seiring waktu, Muhammad Azam sudah pernah dilakukan pemeriksan juga dan mendapat pengawasan pihak dokter rumah sakit umum daerah (RSUD) dr Fauziah Bireuen, hingga diminta untuk dilakukan operasi pembuatan bypass, mengurangi pengumpulan cairan otak yag berlebihan di kepalanya.

Baca Juga  Zulfikar Apayub : Pemuda Dituntut Menjadi Pilar Utama Perubahan Pembangunan Daerah

Namun sang ibu Muhammad Azam, Sutarti merasa keberatan. Sebab ia sangat terenyuh (sedih), apabila buah hatinya, Muhammad Azam harus dipasang selang khusus untuk mengalirkan cairan tersebut dari bagian kepala ke dalam rongga perutnya.

“Awalnya pernah diminta untuk dilakukan operasi, karena jalan satu-satnya hanya dengan cara harus menjalani operasi pemasangan selang, agar cairan di kepalanya dapat kebuang,” kenang sang ibu.

Tapi Sutarti begitu sedih membayangkan, kalau anaknya harus menjalani operasi seperti itu, apalagi kalau dilihat kondisi anaknya tersebut, sehingga Ia mengurungkan niatnya seperti anjuran dokter.

Kala itu, kami sempat berkonsultasi, apakah tidak ada cara lain selain memasang selang tersebut, misalnya dengan pemberian obat-obatan. Tapi dokter mengaku tidak ada obat kalau untuk penyakit tersebut, dan jalan satu-satunya harus menjalani operasi.

“Karena saya menolak, pihak dokter meminta kami membuat surat pernyataan menolak penanganan operasi terdahap Muhammad Azam,” terangnya.

Selama itu pemerikasan dan pengawasan terhadap Muhammad Azam, pihak rumah sakit Bireuen tetap rutin, namun setelah adanya surat pernyataan itu, pengawasan rumah sakit terhenti hingga sekarang.

Baca Juga  249 Calhaj Bireuen Belum Periksa Kesehatan Tahap Kedua

Diceritakan Sutarti, belakangan Ia hanya pasrah dan hanya berobat dengan cara rukiyah ke tempat-tempat abu di dayah, dan usaha itu sedikit ada perubahan, meski tidak begitu sempurna.

Ia dan suaminya juga pernah melakukan konsultasi dengan dokter khusus saraf, di Banda Aceh, untuk usaha penyembuhan, dianjurkan berobat ke Malaysia. Namun kondisi itu tidak memungkin, disamping tak memiliki biaya serta tidak ada sanak saudara di Malaysia.

Menurut Sutarti, pertama saat Muhammad Azam lahir kondisinya sehat, dan hanya terlihat bencolan kecil di bagian kepala bagian kanan.

Untuk menjaga makanan, sambung Sutarti, dirinya tetap membuat nasi yang telah digiling halus, termasuk memberikan susu, disamping makanan lain yang dianggap bermanfaat.

Ketika Penanegeri.com mengujungi kediaman mereka, Sutarti yang sempat menamatkan bangku kuliahaya di Umuslim Peusangan, Bireuen itu terlihat tetap tabah dan tegar, menerima kondisi Muhammad Azam apa adanya, serta tetap dijaga dengan baik.

Meski kondisi anaknya seperti itu, Sutarti dan suaminya terlihat tabah, dan tetap bersyukur dikaruniai buah hati oleh Yang Maha Kuasa. Pun masih ada asa agar Muhammad Azam dapat sehat sehingga normal seperti anak-anak lainnya.

Baca Juga  Ketua Fraksi Partai Aceh Kunjungi Magfirah dan Bayinya di Rutan Bireuen

”Bahagianya karena sudah diberi kepercayaan Allah untuk merawat Muhammad Azam. Sebagai orangtua, tentunya harapan saya adalah kesembuhan dari Allah dengan usaha apa adanya,” ungkapnya berlinang air mata.

Terlepas dari itu, tentu Sutarti sangat berterimakasih atas dukungan dan warga yang telah menjenguk anaknya selama ini, tentu bisa berdampak pada kesembuhan sang Muhammad Azam.

Komentar

Berita Terbaru