oleh

Korut Ancam Uji Coba Bom Hidrogen di Samudra Pasifik

PENANEGERI, Desk Internasional- Korea Utara atau lazim dikenal sebagai DPRK (Democratic People Republic of Korea) mengatakan bahwa Korut dapat menguji bom hidrogen di atas Samudra Pasifik setelah Presiden AS Donald Trump mengancam untuk menghancurkan negara tersebut.

Berbicara di New York City pada hari Jumat (22/9), Ri Yong-ho, menteri luar negeri Korea Utara, mengatakan negaranya dapat mempertimbangkan sebuah tes bom hidrogen dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya di Samudera Pasifik.

Jepang, satu-satunya negara yang pernah mengalami serangan atom pada era perang dunia ke 2 jaman dulu, menggambarkan ancaman dari pihak Korut  itu sebagai “sama sekali tidak dapat diterima”.

Sementara China menanggapi dengan meminta semua pihak untuk menahan diri.

Pada hari Selasa, Presiden Trump mengatakan dalam pidato pertamanya kepada PBB bahwa dia akan “benar-benar menghancurkan” Korea Utara jika Korut mengancam AS dan sekutunya, dan menyebut Kim sebagai “Rocket Man dalam sebuah misi bunuh diri”.

Dalam sebuah pernyataan langka yang secara langsung oleh pemimpin Korut, Kim Jong-un mengatakan bahwa Trump “Tidak layak untuk memegang hak prerogatif dari sebuah komando tertinggi sebuah negara”.

Dia menggambarkan Trump sebagai ” gangster nakal yang suka bermain api”.

Korea Utara, sebuah negara berpenduduk 26 juta orang, bersikeras bahwa kekuatan nuklirnya untuk melindungi negara Korut tersebut.

Korea Utara belum pernah menguji perangkat nuklir di luar perbatasannya sendiri.

Jika Korut akan melakukan tes Uji Coba Bom Hidrogen di Samudera Pasifik, ini akan merupakan tahap baru yang dramatis dan mengkhawatirkan dalam pertarungannya dengan AS atas upayanya untuk menjadi negara bersenjata nuklir.

Kim Jong un mengatakan bahwa ucapan Trump “meyakinkan saya, daripada menakut-nakuti atau menghentikan saya, bahwa jalan yang saya pilih benar dan bahwa itulah yang harus saya ikuti sampai yang terakhir,l”

Kim mengatakan bahwa dia “berpikir keras” tentang tanggapannya dan bahwa Trump “akan menghadapi hasil di luar dugaannya”.

Adalah tidak biasa bagi pemimpin Korea Utara untuk mengeluarkan pernyataan semacam itu atas namanya sendiri.

“Sekarang Trump telah … menghina saya dan negara saya di depan mata dunia, kami akan mempertimbangkan dengan serius dari tingkat tindakan keras garis keras yang sesuai, dalam sejarah,” kata Kim.

AS dan Korea Selatan secara teknis masih berperang dengan Korea Utara karena konflik Korea pada 1950-1953 berakhir dengan sebuah gencatan senjata dan bukan sebuah perjanjian damai. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *