oleh

Lantamal I Kembali Gagalkan Penyelundupan 60 Ton Beras Ketan di Perairan Aceh Tamiang

PENANEGERI, Aceh Tamiang – Sebanyak 60 ton pulut (beras ketan) asal negara Thailand yang hendak diselundupkan ke wilayah Aceh Tamiang kembali digagalkan petugas Lantamal I Belawan di muara Air Masin, Kecamatan Seruway, Kabupaten Aceh Tamiang, Sabtu, (4/11) malam sekitar pukul 23.30 WIB.

Puluhan ton beras pulut tersebut diangkut menggunakan satu unit kapal kargo kayu KM Bintang Timur GT. 60 No. 275/QQD. Selain menangkap boat beserta barang bawaan pulut ilegal, Lantamal I yang berada di bawah Komando Armada Kawasan Barat (Koarmabar) juga mengamankan tujuh orang ABK.

Informasi diperoleh Penanegeri.com dari sejumlah nelayan menyebutkan, sempat terdengar beberapa kali letusan senjata diperairan muara Air Masin. Selanjutnya datang kapal patroli TNI AL merapat ke KM Bintang Timur yang belum diketahui isi muatannya. Selanjutnya, petugas TNI AL menggiring kapal motor ukuran besar tersebut dibawa ke perairan Belawan.

“Ternyata petugas sedang mengejar KM Bintang Timur itu, karena tidak mau berhenti mungkin diberi tembakan peringatan,” ujar seorang nelayan yang minta namanya tidak disebutkan kepada Penanegeri.com usai pulang melaut dari perairan Seruway, Minggu (5/11).

Dantim Intel Lantamal I, Mayor (Mar) Bambang, yang dihubungi Penanegeri.com, Minggu (5/11) membenarkan pihaknya baru saja menangkap satu unit kapal motor bermuatan beras ketan ilegal dan sejumlah barang bawaan lainnya yang belum dibongkar. Dijelaskan, kapal yang ditangkap bernama KM Bintang Timur GT. 60 No. 275/QQD. Selain kapal dan muatan, tujuh orang ABK juga turut diamankan petugas Lantamal I Belawan.

“KM Bintang Timur membawa sekitar 60 ton pulut dan 4 karung pupuk cap matahari dengan kode pupuk 13 13 21 dan 20 80 20 beserta tujuh orang ABK-nya, masing-masing berinisial, ES (34), AE (35), Sel (44), Suh (36), AK (44), AH (20) dan Mis (42). Para ABK sebagian warga Aceh Tamiang dan warga Sumatera Utara,” terangnya.

Dijelaskannya, pengkapan KM Bintang Timur tersebut dilakukan oleh Tim Western Fleet Quick Response (WFQR) I setelah mendapat informasi bahwa akan masuk kapal penyelundup diperairan Kuala Air Masin, Aceh Tamiang pada saat air laut pasang tinggi. Kemudian Dantim Intel langsung merespon dan berkoordinasi dengan Tim WFQR I dan langsung membentuk tiga tim yang di pencar diperairan Tamiang.

Lantamal I

Sementara itu, pihaknya juga mendapat informasi di perairan Idie Rayeuk dan Peureulak Aceh Timur ada kapal yang akan memasukkan barang selundupan dari Thailand berupa burung, ayam, bibit pohon kurma, beras ketan bahkan narkoba jenis sabu. Satgas memperkirakan pasang tertinggi air laut di perairan Aceh Tamiang sekitar pukul 00.00 WIB.

Pada pukul 23.30 WIB Tim 3 yang berada di perairan Kuala Air Masin melihat siluet 3 unit kapal kargo kayu sedang berlayar menuju muara sungai Air Masin, kemudian Tim langsung merapat dan memberi perintah agar segera berhenti.

“Namun ke tiga kapal tersebut tidak menghiraukan perintah petugas. Kemudian Tim memberi tembakan peringatan, namun kapal juga tidak mau berhenti. Bahkan kapal kargo yang paling besar KM Bintang Timur berusaha menabrak boat yang digunakan Tim,” terangnya.

Karena situasi tersebut, Sambung Dantim Intel, terpaksa memberi tembakan ke arah haluan kapal dan Tim menuju arah buritan kapal dan segera menaiki kapal. Berdasarkan keterangan dari ABK, bahwa kapal tersebut sudah 26 hari berada di Pelabuhan Satun Thailand dan berangkat dari sana pada hari Jumat (4/11).

“Pengakuan dari ABK inisial ES bahwa KM Bintang Timur milik Haji Hambali warga Desa Seumantoh, Karang Baru, Aceh Tamiang. Sementara muatan kapal berupa beras ketan (pulut) sekitar 60 ton milik Koceng warga Desa Air Masin, Kecamatan Seruway, Aceh Tamiang,” bebernya menirukan peryataan ABK.

Lebih lanjut Bambang menyampaikan, seorang nakhoda kapal diketahui bernama Nasrul warga Desa Teluk Kepayang, Sungai Iyu, Kecamatan Bendahara lebih dulu melarikan diri saat petugas belum mencapai kapal target dia melompat ke laut dan lolos dari kejaran petugas.

“Dari hasil pemeriksaan terhadap dokumen-dokumen KM Bintang Timur tidak ditemukan adanya dokumen muatan barang (manivest barang),” pungkasnya sembari mengatakan, dalam kurun dua pekan ini pihaknya telah mengamankan dua kali aksi penyelundupan pulut pertama 40 ton dan yang kedua 60 ton.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar