oleh

Laporan Hasil Wawancara Dengan Para Korban Selamat Dari Kekejian KKSB Nduga

PENANEGERI, Mimika –  Berikut ini adalah laporan hasil wawancara kontributor PenaNegeri pada hari Kamis malam tanggal 6 Desember 2018, pukul 20.00 s.d. 22.30 WIT bertempat di Hotel Serayu, Jln. Yos Sudarso, Kota Timika, Kabupaten Mimika, Papua.

Wawancara ini dilakukan dengan para korban selamat dari peristiwa pembantaian sadis nan keji yang dilakukan oleh Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) Nduga.

Para korban selamat yang berhasil diwawancarai terdiri dari 4 (empat) orang dari 8 (delapan) orang yang ditampung di hotel Serayu, Timika, Mimika.

Kontributor Pena Negeri, di lapangan berhasil mewawancarai empat korban selamat yakni : Jimmy Aritonang, seorang laki-laku suku Batak, 32 Th, sebagai tukang bangunan, kemudian Ayub, dari Morowali, yang juga berprofesi tukang bangunan, kemudian korban selamat bernama Awan Maulana alias Irawan asal Garut, 22 Th, Teknisi Telkomsel dan korban selamat bernama Simon Tandi  asal Toraja, 44 Th, yang berprofesi sebagai juru masak atau Koki.

Dari wawancara terhadap korban yang selamat, diperoleh informasi bahwa  para korban mengalami hal-hal keji diluar batas kemanusiaan sebelum dieksekusi  di Bukit Kabo.

Setelah disatroni gerombolan KKSB  para karyawan proyek jembatan disuruh oleh gerombolan KKSB untuk membuka baju dan hanya memakai celana dalam pada kondisi suhu yang dingin, mereka kemudian tangannya diikat lalu dibawa ke atas bukit untuk dieksekusi.

Sebelum dieksekusi gerombolan KKSB berupaya menggali keterangan dan memaksa para pekerja mengaku bahwa mereka adalah aparat TNI yang menyamar.

Interogasi dilakukan disertai dengan tindak kekerasan antara lain dengan menendang kepala para korban.

Eksekusi oleh gerombolan KKSB terhadap para tukang karyawan pembangunan jembatan ini dilakukan tidak secara random, artinya dilakukan satu per satu dengan sasaran yang dipilih-pilih.

Menurut korban selamat, para korban yang postur badannya besar dan tegap dipilih terlebih dahulu oleh gerombolan KKSB untuk dieksekusi terlebih dahulu.

Eksekusi dengan cara ditembak dilakukan dari jarak dekat, tetapi KKSB rupanya tidak melakukan dengan cermat, sehingga ada korban yang ditembak lebih dari sekali dan ada yang tidak ditembak tetapi pura-pura mati, sehingga sebagian diantara para korban ada yang berhasil lolos melarikan diri dalam keadaan hidup.

Namun nahas, sebagian yang melarikan diri dapat ditangkap lagi oleh KKSB dan langsung dieksekusi oleh KKSB dengan cara digorok atau disembelih lehernya secara langsung hingga korban tewas.

Selain itu KKSB ternyata juga kurang terlatih dalam menembak, karena walaupun dari jarak dekat, namun banyak korban yang lolos dari tembakan, atau terkena tembakan pada bagian-bagian tubuh yang tidak mematikan.

Sebelum terjadinya insiden pembantaian tersebut sudah terlihat keberadaan KKSB di lokasi pembangunan proyek jembatan di Nduga, mulai tanggal 19 November 2018.

Para pekerja melihat anggota KKSB melintas membawa senjata dan meminta perusahaan untuk menghentikan pengerjaan proyek.

Korban selamat mengatakan bahwa KKSB di sana kemungkinan datang dari luar, bukan asli warga disitu, tetapi mayoritas warga orang asli Papua (OAP) disana diduga adalah simpatisan yang mendukung dan menyokong KKSB.

Perusahaan PT Istaka Karya juga tidak meminta pengamanan dari aparat keamanan TNI-Polri pada saat pengerjaan proyek, padahal lokasinya merupakan daerah rawan.

Pihak Kodam XVII/Cenderawasih juga menyatakan bahwa PT Istaka Karya tidak pernah meminta pengamanan dari jajaran Kodam untuk pengerjaan proyek di Nduga.

Diketahui perusahaan hanya menggunakan tenaga pengamanan dari warga lokal sebanyak 8 (delapan) orang tetapi tidak bisa berbuat apa-apa melawan KKSB ketika insiden terjadi.

Sebelum kejadian, pihak perusahaan juga tidak berusaha melaporkan keberadaan KKSB di sekitar wilayah itu kepada aparat keamanan TNI Polri, dan justru melakukan tindakan pendekatan sendiri kepada KKSB antara lain dengan memberi bantuan bahan makanan, dan menurut keterangan pekerja juga memberi bantuan sumbangan dana untuk peringatan 1 Desember sebesar Rp 50 juta agar pengerjaan proyek tidak diganggu oleh KKSB.

Pekerja diinfokan oleh salah satu staf di manajemen perusahaan bahwa uang tersebut dititip melalui koordinator lapangan tetapi tidak diketahui apakah dananya diserahkan kepada KKSB atau tidak.

Sedangkan satu-satunya Pos Aparat keamanan terdekat dari lokasi kejadian adalah pos TNI Mbua yang jaraknya sekitar 10 km dari TKP.

Hal ini menyebabkan KKSB leluasa melakukan aksi mereka dan bebas mengintimidasi warga tanpa ada perlindungan sama sekali dari aparat keamanan.

Segala aktivitas KKSB di wilayah itu sangat sulit untuk terdeteksi oleh pihak aparat keamanan karena jauh letaknya dari pos TNI.

Sedangkan fasilitas transportasi berupa kendaraan dan sarana komunikasi berupa HP satelit tidak tersedia di pos TNI Mbua.

Pada saat kejadian tidak ada alat komunikasi yang dapat digunakan untuk mengontak induk satuan guna meminta bala bantuan.

Juga dari insiden ini diketahui bahwa persediaan bekal amunisi KKSB cukup banyak karena mampu melakukan tembakan yang terus menerus selama 12 jam dari jam 5 pagi sampai jam 5 sore, dengan interval hanya beberapa menit jeda tembakan.

Tembakan KKSB ke pos baru mereda setelah jam 5 sore. Setelah jam 5 sore tembakan terdengar satu-dua kali (bukan rentetan lagi) dalam interval waktu tertentu ke arah pos.

Tembakan baru berhenti sama sekali pada pukul 9 malam (21.00 WIT).

Kemungkinan pada waktu itu persediaan amunisi KKSB sudah menipis sehingga tidak menembak lagi ke pos, hanya melempari batu saja.

Keputusan Danpos (komandan pos) keamanan untuk mundur meninggalkan pos Mbua pada malam hari saat KKSB lengah dan lelah adalah keputusan yang tepat.

Karena pada saat itu bekal amunisi TNI sudah menipis, apabila habis amunisi dan tetap tinggal di pos maka rawan di serbu oleh KKSB dan massa simpatisannya yang jumlahnya jauh lebih besar dan dapat menggunakan senjata tajam atau panah selain senjata api.

Apabila terjadi demikian maka seluruh senjata milik TNI di pos Mbua tentu akan direbut oleh KKSB.

Keputusan Danpos TNI di pos Mbua pada saat kritis terbukti mampu menyelamatkan sisa personel yang masih hidup dan mengamankan materiil berupa senjata inventaris pos.

Para korban selamat tidak mengetahui jumlah yang tepat berapa teman mereka yang terbunuh di atas bukit Kabo karena mereka saat itu hanya berpikir untuk menyelamatkan diri sendiri dan lari jauh-jauh dari TKP.

Kondisi para korban selamat yang ditampung di hotel Serayu di Timika, Mimika saat ini pada umumnya dalam kondisi sehat dan tidak menunjukkan gejala trauma psikis yang berat pasca insiden kekerasan KKSB di Nduga.

Sedangkan korban selamat yang terluka, saat ini mendapatkan perawatan kesehatan di RS Caritas, SP2, Kuala Kencana.

Adapun korban meninggal, jenazahnya divisum di area hanggar Airfast, Bandara Mozes Kilangin Timika untuk proses identifikasi jenazah.

Seluruh korban baik yang hidup maupun meninggal masih dalam penanganan perlindungan aparat kepolisian Polres Mimika dan Polda Papua dengan pengawalan ketat oleh personel Brimob Polda Papua.

Demikian hasil wawancara terhadap korban selamat dilaporkan oleh reporter Kontributor Pena Negeri di Papua.

(Liputan laporan wawancara terhadap korban selamat oleh kontributor Pena Negeri di Papua : Wawan)

Komentar

Berita Terbaru