oleh

Latihan Bersama Angkatan Laut China-Rusia Dimulai di Korea Utara

PENANEGERI, Desk Internasional- China dan Rusia telah memulai latihan Angkatan Laut bersama di perairan dekat perbatasan Rusia-Korea Utara.

Latihan bersama AL China dan Russia ini dimulai pada hari Senin (18/9) dari pelabuhan Vladivostok di tenggara Rusia, merupakan bagian kedua dari program China dan Rusia ‘Joint Sea-2017’ yang dimulai pada bulan Juni 2017.

Kegiatan bersama Angkatan Laut kedua negara yakni China dan Rusia tersebut mencakup latihan penyelamatan kapal selam dan latihan anti-kapal selam. Latihan ini disebutkan tidak terkait langsung dengan meningkatnya ketegangan di Korea Utara, demikian kantor berita Xinhua melaporkan.

Sedangkan di pihak lainnya, Korea Selatan dan Amerika Serikat juga melakukan latihan militer bersama di Semenanjung Korea di mana pada hari Senin (18/9) kedua negara AS dan Korsel telah melakukan latihan pengeboman yang melibatkan enam pesawat AS dan empat jet tempur Korea Selatan, demikian dijelaskan oleh Song Young-moo, menteri pertahanan Korea Selatan.

Latihan gabungan yang diselenggarakan oleh AS dan Korsel sekarang sedang dilakukan “dua sampai tiga kali dalam sebulan akhir-akhir ini”, kata Song Young-moo, menteri pertahanan Korea Selatan.

Ketegangan telah meningkat di Semenanjung Korea dalam beberapa pekan terakhir, menyusul uji coba nuklir keenam Korea Utara dan paling kuat sampai pada tanggal 3 September.

Dewan Keamanan PBB (DK PBB) telah secara bulat menjatuhkan sanksi baru kepada Korea Utara pekan lalu setelah sebuah pertemuan pada 11 September dalam menanggapi krisis tersebut.

Korea Utara atau lazim disebut DPRK (Democratic Republik of Korea) telah mengklaim tindakan sanksi DK PBB tersebut, termasuk larangan terkait perdagangan tekstil dan pembatasan pasokan minyak, justru akan mempercepat program senjata nuklir Korea Utara.

“Langkah yang meningkat dari AS dan pengikutnya untuk menjatuhkan sanksi dan tekanan pada DPRK hanya akan meningkatkan langkah kita menuju penyelesaian akhir dari kekuatan nuklir negara,” demikian sebuah pernyataan di media pemerintah Korea Utara pada hari Senin, (18/9)

Kim Jong-un, pemimpin Korea Utara, menyatakan bahwa DPRK membutuhkan program senjata nuklir untuk mencegah AS menyerang negara DPRK.

AS dan Korea Selatan secara teknis masih berperang dengan Korea Utara (DPRK) karena konflik Korea pada 1950-1953 berakhir dengan sebuah gencatan senjata, dan bukan berakhir karena sebuah perjanjian damai. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *