oleh

Lembaga Perlindungan Anak Bireuen Bantu Keluarga Muallaf

PENANEGERI, Bireuen – Lembaga Perlindungan Anak Bireuen ikut menjenguk serta membantu peralatan sekolah untuk keketiga buah hati, Siti Ainsyah Sianipar (35) seorang mualaf, di Dusun Keutapang Ramphak, Desa Cot Buket, Peusangan, Bireuen, Kamis (6/2).

Ketua Lembaga Perlindungan Anak Bireuen, Saiful Amri mengatakan, setelah membaca berita yang dirilis melalui media online Penanegeri.com kemarin, dirinya tergerak hati untuk melihat langsung kondisi keluarga ibu Siti Ainsyah Sianipar.

Menurutnya, selain ingin mendengar langsung kronologis peristiwa yang menimpa Siti, pihaknya juga menyalurkan bantuan peralatan sekolah berupa tas, buku serta bantuan dana donasi dari hamba Allah di Jakarta.

“Kalau kita dengar ceritanya memang sangat menyayat hati, apa lagi dengan kondisi kehidupannya yang  serba kekurangan, ditambah harus menghidupi anak-anaknya yang masih kecil dan mereka sedang sekolah, sementara Ia  mengalami buta,” terangnya.

Kita juga berharap, pihak pemerintah setempat terutama pihak Baitul Mal serta Dinas Sosial Bireuen untuk dapat membantu keluarga Ibu Siti Ainsyah, karena Ia dari kalangan mualaf, patut diperhatikan dengan serius.

“Pemerintah daerah wajib berperan terhadap Ibu Siti Ainsyah, sebab Ia mualaf dan selama ini beliau tak pernah tersentuh bantuan apapun, termasuk dari desanya. Ini perlu dikaji ulang, termasuk Dinsos Bireuen, karena Ia memiliki anak yang sedang sekolah,” pintanya.

Disamping itu, kami juga berharap kepada perangkat gampong serta Disdukcapil Bireuen agar selektif mungkin dalam penghapusan data warga masyarakat, apalagi selama ini diduga masih ada calo yang ikut bermain dengan petugas di Disdukcapil Bireuen.

Sementara itu, Sit Ainsyah Sianipar masih berharap ketiga buah hatinya itu bisa mencapai cita-cita, walaupun kondisi beliau saat ini sangat butuh perhatian dari semua pihak, karena tak mampu bekerja lagi setelah mengalami buta.

Diberitakan sebelumnya, Siti Ainsyah Sianipar (35), dan sebelum memeluk agama Islam tahun 2015, Ia bernama Krisina Boru Sianipar.

Wanita yang begitu tegar dengan sejuta tusukan penderitaan itu harus pasrah, dan kini harus menghidupi ketiga buah hatinya dengan kondisi penglihatan kedua matanya gelap (buta) setelah ditinggalkan suaminya, warga Desa Cot Buket, Kecamatan Peusangan, Bireuen.

Namun yang begitu menyakitkan baginya, usai pisah dengan suaminya, data kependudukannya, telah terhapus dan ikut dinyatakan kalau Siti Ainsyah ini telah meninggal dunia, sehingga Ia tidak bisa berobat menggunakan jasa BPJS.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *