oleh

Libur Sekolah Bukan Libur Belajar

Opini : Muhammad Akbar, S.Pd

PENAOPINI – Penyebaran virus Corona (Covid 19) telah merambak dan masuk di Indonesia. Data yang di lansir dari website resmi Covid-19 (www.covid-19.go.id) Senin sore 23/03/2020 telah mencapai 579 positif Corona dan terdapat 30 orang yang dinyatakan sembuh dan jumlah kasus kematian mencapai 49 orang.

Berbagai wilayah di Indonesia telah menginformasi tentang penyebaran Covid 19 ini, termasuk di Kota Makassar Sulawesi Selatan dan terdapat 2 kasus yang postif mengedap Virus Corona bahkan terus bertambah.

Salah satu dampak dari penyebaran virus corona ini adalah proses pembelajaran di sekolah-sekolah mulai diliburkan dari Senin (16 Maret 2020) yang lalu. Diberbagai tingkatan mulai dari SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi baik negeri maupun swasta.

Berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah, pihak sekolah dan perguruan tinggi untuk menjalankan proses pembelajaran, salah satunya menggunakan via online dengan menggunakan berbagai aplikasi. Untuk menghindari penyebaran covid 19 ini. Menurut saya, hal ini perlu untuk di respon dan didukung bersama, agar proses belajar mengajar tetap berlangsung. Walaupun terdapat kekurangan, tapi paling tidak ini menjadi jalan alternatif terbaik untuk saat ini.

Dalam percapkapan saya dengan siswa SMP di Makassar beberapa hari yang lalu, Ia terasa senang ketika saya menyampaikan tentang surat edaran pemkot Makassar agar sekolah SMP dan sederajat di liburkan, demi menghindari penyebaran virus corona dikalangan siswa dan pelajar.

Begitupun dengan surat edaran pemprov Sulawesi Selatan agar meliburkan pelajar SMA dan sederajat. Berbagai perguruan tinggi pun telah mengeluarkan surat edaran agar aktivitas perkuliahan di berhentikan secara tatap muka dan beralih kepada via online dan ada juga beberapa yang menunda perkuliahan untuk sementara waktu.

Yah, begitulah kondisi para pelajar kita hari ini baik dikalangan SD, SMP, SMA dan bahkan perguruan tinggi. Ketika mereka mendegar kata libur, secara sentak mereka sangat gembira. Sebagai orang yang berkecimpun dalam dunia pendidikan, saya merasakan ada yang salah dengan cara pandang (worldview) para pelajar kita dalam belajar atau menuntut ilmu. Mereka mengira bahwa belajar itu hanya dilingkup sekolah dan kampus. Diluar dari itu bukan tempat untuk belajar.

Makanya, tidak mengherankan jika kita melihat para siswa dan mahasiswa kita, ketika mereka kembali dari sekolah dan kampusnya, mereka tidak pernah lagi membaca buku, mengulangi ilmu, menghafal ilmu apatah lagi mengamalkan dan menyapaikan ilmu yang ia dapatkan. Karena mereka lebih asyik untuk berkeliaran, santai-santai, main game dan lainnya.

Cara pandang (worldview) seorang pelajar adalah tolak ukur yang paling penting, apakah dia akan menjadi seorang pembelajar sejati atau hanya ikut-ikutan belajar, karena aturan sekolah dan perguruan tinggi. Seorang penuntut ilmu hendaknya menjadikan ilmu sebagai kebutuhan mendasar, mencintai ilmu setinggi mungkin dan berusaha untuk menggapainya.

Olehnya itu cara pandang pelajar hari ini harus diperbaiki. Utamanya peran guru dan orang tua, agar memberikan pemahaman yang benar bahwa belajar itu tidak diikat dengan tetorial tempat seperti sekolah dan kampus, tetapi belajar itu adalah kebutuhan dan dilakukan dimana saja, utamanya dirumah dan lingkungan. Serta menanamkan cinta ilmu kepada peserta didik dan anak-anaknya.

Bahkan sepanjang kita masih hidup, harus belajar dan menuntut ilmu. Sebab itu, libur sekolah bukan berarti libur belajar. Makanya, cara pandang seorang pembelajar adalah mereka tidak akan berhenti dalam menuntut ilmu, membaca buku, menghafal, menganalisa dan mengamalkan ilmunya gara-gara libur sekolah dan kampusnya. Karena kebutuhan mereka dengan ilmu adalah bagaikan kerongkongan kering yang sedang membutuhkan air untuk membasahinya, maka dimanapun ia bisa mendapatkannya, maka ia pasti akan berusaha mencari dan meraihnya.

Maka dari itu, wahai para pelajar, mahasiswa dan generasi muda jangan sia-siakan waktu liburmu di tengah penyebaran virus corona ini dengan perbuatan yang tidak bermanfaat, keluyuran tiap malam, main game, tidak pernah baca buku dan lainnya. Tapi isilah dengan kebaikan dan perbuatan yang manfaat. Karena kewajiban belajar tidak hanya di sekolah dan di kampus. Maka teruslah belajar.

Hanya dengan belajar dan menuntut ilmu yang akan merubah setiap keadaan seseorang, akan mengangkat derajatnya ke yang lebih tinggi dan menjauhkan dirinya dari gelapnya kebodohan. Belajar pasti lelah dan capek, betul. Tapi hidup ini akan terasa hampa jika tidak dihiasi dengan rasa lelah dan perjuangan.

Al Junaid rahimahullah mengatakan, “Tidaklah seseorang mencari sesuatu dengan sungguh-sungguh dan penuh kejujuran, melainkan ia akan meraihnya. Jika ia tidak seluruhnya, ia pasti meraih sebagiannya.”

Kecintaan terhadap ilmu akan menjadi tolak ukur, seberapa besar semangat kita dalam belajar, membaca buku, menganalisa dan mengamalkan ilmu. Tanpa kecintaan yang besar terhadap ilmu, kita tidak akan punya perhatian untuk meraih, mengengam, memeluknya dan menjadikannya ruh dalam diri kita.

Maka belajarlah, bacalah sejarah kegemilangan dan perjuangan para ulama salaf dalam semangat mereka menuntut ilmu. Bagi mereka, jarak dan usia tidak menjadi penghalang untuk mempelajari ilmu. Sebagaimana yang dilakukan oleh Jabir bin Abdullah ketika mendengar ada satu hadis yang diriwayatkan oleh seorang sahabat yang berada di Syam (Suriah) dan Jabir berada di Hijaz (Makkah).

Karena kecintaanya terhadap ilmu yang sangat besar dan membara dalam jiwanya. Maka Jabir melakukan perjalanan selama kurang lebih sebulan lamanya dari Makkah ke Suriah menggunakan unta. Untuk memastikan tentang keberadaan dan kebenaran tentang gambaran padang mahsyar. (Disebutkan oleh Imam Bukhari dalam Kitab al-Adab al-Mufrad).

Jika alasan usia pun menjadi penghambat bagi kita untuk belajar, maka mari kita dengarkan untaian hikmah seorang ulama yang dikenal sebagai penulis kitab terbesar sepanjang sejarah. Imam Ibnu Aqil Al-Hanbali ketika usianya mencapai 80 tahun, ia bersenandung:

“Semangatku tidaklah luntur di masa tuaku. Begitu pula semangatku dalam ibadah tidaklah usang. Walau terdapat uban di rambut kepalaku, namun tidak melunturkan semangatku. Hanya Allah yang memberi taufik untuk terus semangat dalam belajar.”

Maka, malulah pada diri kita yang masih memiliki keluasan waktu dan usia yang masih muda. Masih sangat lalai dan tidak memiliki kecintaan yang besar tehadap ilmu dan ibadah. Akhirnya, umur kita menjadi mubassir dan terbuang sia-sia tanpa menghasilkan pahala dan karya apapun.

Maka pantas Imam Ibnu Aqil menorehkan sebuah karya terbesar di dunia sepanjang sejarah, dengan menulis kitab Al-Funun, sebagian mengatakan sebanyak 800 jilid dan ada yang mengatakan 400 jilid. Imam adz-Dzahabi berkata: “Belum pernah ada di dunia ini kitab yang lebih besar darinya. Seseorang pernah menceritakan kepadaku bahwa dia pernah mendapati juz yang empat ratus lebih dari kitab tersebut.” (Tarikh Islam 4/29).

Lihat pula semangatnya Abu Muhammad At Tabban dalam awal-awal belajar. Ia habiskan seluruh malamnya untuk belajar. Karena begitu sayang, Ibunya sampai melarang ia membaca di malam hari seperti itu. Caranya agar bisa terus belajar, Abu Muhammad mengambil lampu dan diletakkan di bawah baskom sehingga dirinya dikira sudah tidur. Jika ibunya telah tidur, ia mengambil kembali lampu tersebut dan ia melanjutkan belajarnya di malam hari.

Maka tidak mengeharan jika para ulama mampu meraih puncak keilmuan dan karyanya, seperti Imam Ibnu Aqil dan ulama lainnya. Karena semangat mereka dalam belajar dan menuntut ilmu yang sangat besar dan itu tidak kita miliki hari ini. Bahkan tidak ada waktu mereka yang terbuang sia-sia, tanpa diisi dengan hal-hal yang manfaat utamanya membaca dan memperdalam ilmu.

Suatu ketika Imam Ibnu Aqil Al-Hanbali pernah berkata: “Sungguh tidak halal bagiku untuk menyia-nyiakan sesaat pun umurku, bahwa ketika mulutku sudah tidak aktif bermudzakarah atau munadzarah dan penglihatanku tidak kugunakan untuk menelah, maka aku tetap mengaktifkan fikiranku, disaat aku sedang istirahat.”

Maka sadarlah wahai diri, telah banyak waktu yang engkau sia-siakan, dosa dan maksiat yang engkau perbuat, kelalaian dan ketidakpedulian terhadap ilmu menjadi sebab atas kegelapan dan kebodohan dalam dirimu. Karena hanya dengan belajar dan ilmulah yang akan memberikan cahaya dan kedudukan yang tinggi tehadapmu.

Wahai generasi muda, kapan kita tersadar jikalau bukan sekarang. Maka bangkitlah dari tempat tidurmu, hanya dengan kesadaran, kita akan bergerak untuk menggapai samudera ilmu. Siapkanlah dirimu untuk berjuang dan berlelah-lelah, karena hanya dengan kelelahanlah engkau akan mendapatkan manis dan indahnya hidup. Maka renungilah nasehat Imam Syafi’I :

“Berlelah-lelahlah, manisnya hidup baru terasa setelah lelah berjuang.
Aku melihat air menjadi keruh karena diam tertahan.
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, akan keruh menggenang.
Singa, jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa.
Anak panah, jika tak tinggalkan busur tak akan kena sasaran.
Biji emas bagaikan tanah sebelum digali dari tambang.
Kayu gaharu tak ubahnya kayu biasa jika di dalam hutan.”

Teruslah berlelah-lelah berjuang, luruskan niat dan kuatkan tekad serta tinggikan cita-cita. Mulailah untuk melangkah, sebab kita tidak akan sempai pada tujuan, jika tak berani keluar untuk mengayunkan kaki kita. Kuatkan kesabaran dalam perjuangan, bersabar dalam menuntut ilmu, belajar, membaca buku, bersabar untuk menahan kantuk dan nyenyaknya tidur.

Karena, kelelahan yang sebentar akan menghasilkan kesenangan yang panjang. Sebagaimana nasehat pemimpin penaklut eropa, Thariq bin Ziyad, “Barangsiapa bersabar dengan kesusahan yang sebentar saja maka ia akan menikmati kesenangan yang panjang.”

Begitupun dengan nasehat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita agar selalu bersemangat dalam melakukan sesuatu dengan penuh perjuangan dan menjauhi sifat kemalasan, “Semangatlah dalam hal yang bermanfaat untukmu, minta tolonglah pada Allah, dan jangan malas (patah semangat).” (HR. Muslim no. 2664).

Sejarah perjuangan para salaf dalam menuntut ilmu adalah panduan dan contoh terbaik bagi generasi muda. Jikalau teladan itu kita ikuti dengan baik, maka yakinlah akan lahir para ulama yang hebat, para ilmuwan dan cendekiwan muslim. Utamanya generasi muda agar lebih membakar semangatnya dalam menuntut ilmu, karena kekuatan seorang pemuda hanya di ukur oleh dua hal yaitu ilmu dan ketakwaannya.

Sebagaimana nasehat Imam Syafi’i: “Barangsiapa belum merasakan pahitnya belajar walau sebentar, Ia akan merasakan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya. Dan barangsiapa ketinggalan belajar di masa mudanya, maka bertakbirlah untuknya empat kali karena kematiannya. Demi Allah, hakekat seorang pemuda adalah dengan ilmu dan takwa.”

Olehnya itu, para pelajar dan mahasiswa yang masih berlibur agar senantiasa bermuhasabah dan memperbaiki diri dalam belajar. Termasuk para guru dan orang tua agar mengevaluasi proses pembelajaran yang telah dilakukan. Apakah sudah menanamkan nilai-nilai adab dalam diri peserta didik dan anak-anaknya? Memberikan pehamaman tentang ilmu, yang sifatnya fardhu ain dan fardhu kifayah?

Karena masalah yang juga kita hadapi dalam dunia pendidikan hari ini adalah para guru dan siswa tidak mengetahui tentang mana ilmu yang sifatnya farhdu ain dan fardhu kifayah. Akhirnya, cara mengajar dan belajar tidak memiliki kerangka yang benar. Karena tidak mengetahui mana yang lebih dahulu dan wajib dipelajari dan mana yang sifatnya fardhu kifayah. (Hal ini telah di jelaskan panjang oleh Imam Al-Ghazali dalam Kitabnya Ihya Ulumuddin dan di intisarikan oleh para ulama termasuk Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi dengan Kitab Minhajul Qashidin).

Sebagai contoh, bila seorang anak menginjak dewasa (dalam padangan Islam dewasa itu ketika seseorang telah baligh sekitar 15 tahun). Maka kewajiban pertama atasnya adalah mempelajari dua kalimat syahadat, memahami maknannya, menerima, membenarkan serta mengikutinya. Bila waktu shalat telah tiba, maka dia wajib mempelajari thaharah dan shalat. Jika ia hidup sampai bulan ramadhan, maka di wajib mempelajari tentang puasa. Bila dia mempunyai harta dan sudah berputar satu tahun, maka dia wajib mempelajari zakat begitu pun dengan haji tiba dan termasuk mampu, maka dia wajib mempelajari manasik. Dan ilmu ushul lainnya seperti aqidah, adab dll.

Begitupun dengan masalah yang harus di tinggalkan, maka ia sesuai dengan terbaharuinya situasi dan kondisi, karena orang buta tidak wajib mengetahui apa yang haram terhadapnya atas melihatnya. Orang bisu tidak wajib mengetahui perkataan yang haram atasnya. Sama halnya ketika ia tinggal di daerah yang dimana khamar mewabah dan sutra dipakai, maka di wajib mengetahui keharamannya.

Dan masih banyak yang lainnya, termasuk jika ia hidup di negeri yang bid’ah mewabah, maka dia wajib mengetahui kebenaran. Bila dia saudagar di sebuah wliayah yang mana riba dipraktikkan, maka dia wajib mempelajarinya untuk menghindarinya. Karena itu, ilmu yang fardhu ain adalah kewajiban setiap pribadi seseorang untuk mempelajarinya.

Sedangkan ilmu yang fardhu kifayah adalah semua ilmu yang dibutuhkan dalam rangka tegaknya urusan kehidupan, seperti ilmu warisan, hisab, matematika, ekonomi, pengobatan dan kedokteran serta ilmu yang lainnya.

Mempelajari ilmu-ilmu umum termasuk yang di atas adalah fardhu kifayah di mana kaum muslimin wajib mempelajari dan menguasainya dengan baik agar bisa memetik buahnya dan memberikan manfaat dan kebaikan bagi dirinya sendiri dan kaum muslimin demi tegaknya syariat Islam.

Karena hal ini adalah fardhu kifayah maka wajib dipelajari oleh salah satu kaum muslimin, jika seandainya tidak memiliki orang-orang yang menguasai ilmu-ilmu ini, maka mereka berdosa, dan bila satu orang sudah menunaikannya, maka ia sudah cukup dan kewajiban tersebut gugur atas yang lainnya.

Maka siapkan diri kita menjadi seorang pembelajar sejati, menguasai ilmu yang fardhu ain dan fardhu kifayah. Ilmu bisa di dapatkan dengan beberapa hal sebagaimana nasehat Imam Syafi’I: cerdas, haus ilmu, sabar, pengorbanan biaya, bimbingan guru dan waktunya lama.

Hal di atas sangatlah penting dipahami oleh guru dan orang tua begitupun seorang pelajar dalam menuntut ilmu. Agar ia bisa mencapai kesempurnaan ilmu dan mengambil manfaat seluas-luasnya. Maka, libur sekolah dan kampus akibat wabah covid-19 ini bukan untuk bermalas-malasan dan tidak lagi belajar.

Semoga tulisan di atas, kita bisa mengambil manfaat dan pelajaran tentu dengan analisa, berfikir dan mentafakkuri kisah dan nasehat-nasehat para ulama dalam belajar dan semangat mereka menuntut ilmu. Jaga diri kita dan keluarga dari virus ini dengan berdiam diri dirumah dan memperbanyak, doa, istighfar, ibadah, membaca buku, belajar dan bermuhasabah kepada Allah.

***********

Makassar, 23 Maret 2020

Penulis: Muhammad Akbar, S.Pd
(Penulis Buku, Pengurus Madani Institute, Pimpinan Mujahid Dakwah Media dan Pembina Daar Al-Qalam)

Demikian Semoga Bermamfaat…
@Wallahu ‘alam bishowab…

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *