oleh

Lima Militan Bersenjata di Marawi Tewas

KOTA MARAWI – Sedikitnya lima orang bersenjata dari pihak militan Maute dan sekutu mereka tewas setelah baku tembak dengan pasukan pemerintah Filipina di Marawi pada hari Selasa (12/9), kata laporan militer Filipina.

Gugus Tugas Gabungan Militer (Join Task Force) pemerintah Filipina di Marawi mengatakan pertempuran tersebut meletus pada pukul 01:19 waktu setempat, antara Marinir Filipina melawan militan di bagian kota Marawi sebagai ibukota propinsi Lanao del Sur itu.

Pasukan Filipina berhasil menewaskan lima tersangka militan dalam serangan menjelang fajar di tempat persembunyian mereka di Kota Marawi yang terkepung.

Pertempuran tersebut meletus kurang dari 12 jam setelah Presiden Rodrigo Duterte mengunjungi daerah pertempuran utama di Kota Marawi, 800 kilometer selatan Manila, kata Letnan Kolonel Jo-Ar Herrera, juru bicara militer, seperti dikutip situs berita  inquirer, Rabu (13/9).

“Kehadiran Presiden baru-baru ini di daerah pertempuran utama telah menambah semangat di pasukan kita dalam keinginan kuat mereka untuk mengakhiri krisis di Marawi,” kata Brigadir Jenderal Rolando Bautista, komandan Gugus Tugas Militer Marawi.

Lebih dari setengah juta orang juga telah mengungsi dalam konflik di Marawi tersebut, yang dimulai pada 23 Mei ketika pasukan pemerintah berusaha untuk menangkap seorang pemimpin Negara Islam setempat.

Sebuah pernyataan dari JTF (Join Task Force) Militer Filipina di  Marawi mengatakan lima tersangka orang-orang bersenjata terbunuh dalam bentrokan

“[Hanya] dua mayat diambil sementara dua lainnya ditinggalkan di lokasi [bentrokan] karena keadaan berbahaya,” katanya.
Penggunaan teknologi

Tentara juga menemukan beberapa senjata api, termasuk dua senjata bertenaga tinggi, dan sepasang kacamata penglihatan malam.

Letnan Kolonel Jo-ar Herrera dari kantor urusan sektor Infanteri Divisi 1 mengatakan bahwa kacamata penglihatan malam menunjukkan bahwa orang-orang bersenjata (militan) dan sekutunya memiliki akses terhadap teknologi dalam memerangi pemerintah.

Dia mengatakan bahwa pemerintah belum menentukan dari mana kacamata penglihatan malam (night vision) itu berasal.

“Kami masih belum tahu apakah mereka mendapatkan ini dari tentara yang dibunuh atau mereka sudah melakukan ini saat pertempuran dimulai (pada 23 Mei),” kata Kolonel Herrera.

Semenyara, Brigadir Jenderal Rolando Bautista, komandan JTF Marawi, mengatakan dorongan Prsedien Duterte selama kunjungannya ke kawasan ini pada hari Senin telah “meningkatkan” semangat juang “tentara Filipina yang melawan orang-orang bersenjata militan Maute dan sekutu mereka.

“Kehadiran Presiden baru-baru ini di daerah pertempuran utama memberi tanda pada pasukan kita, atas keinginan kuat mereka untuk mengakhiri krisis di Marawi,” kata Brigjen Bautista. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *