oleh

LKNU: Saatnya Indonesia Bebas TBC, Mulai dari Nahdiyin

PENANEGERI, Jakarta – Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) menggelar acara Peringatan Hari TBC (HTBC) Se-Dunia Tahun 2019, pada hari Kamis (21/03) di Gedung PBNU Lantai 7, Jalan Kramat Raya No.164, Jakarta Pusat.

Kagiatan yang diselenggarakan oleh LKNU ini dengan slogan, “Saatnya Indonesia Bebas TBC, Mulai dari Nahdiyin”. Solgan tersebut, diadopsi dari tema HTBS, yakni “Saatnya Indonesia Bebas TBC, Mulai dari Saya”.

Menurut Ketua Umum PBNU Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, NU memiliki komitmen tinggi dalam membantu pemerintah dalam mengeliminasi TBC di NKRI.

“Sebagai bagian dari bangsa ini dan memiliki massa terbanyak, setiap warga NU wajib memulai dari dirinya sendiri untuk melawan TBC. NU telah menyatakan berjihad melawan TBC,” ujarnya.

Menurut Siroj, jika seluruh rakyat Indonesia – dari Aceh sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote – menyatakan hal yang sama, Indonesia pasti akan segera terbebas dari penyakit TBC.

“Tak ada jalan lain bahwa seluruh anak bangsa, dari berbagai sektor, harus memiliki komitmen untuk melawan TBC,” ujar Siroj.

Seperti diketahui, NU melalui LKNU terus berpartisipasi aktif dalam penanggulangan tuberkulosis (TBC) di Indonesia.

Hal ini sejalan dengan target prioritas Kementerian Kesehatan saat ini, yaitu eliminasi TBC, penurunan stunting (anak balita pendek akibat kekurangan asupan gizi), dan peningkatan mutu serta capaian imunisasi.

Terkait penanggulangan TBC ini, LKNU telah bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan—dalam hal ini adalah Subdirektorat TBC—yang didanai oleh Global Fund sebagai Sub-Recipient Khusus (SRK) pada periode 2018-2020.

Kegiatan LKNU sebagai SRK, antara lain, adalah melakukan kegiatan penemuan kasus, pendampingan pasien TBC, memberikan edukasi kepada masyarakat luas, dan melakukan advokasi pada setiap level kebijakan.

Berbagai kegiatan tersebut merupakan peran nyata LKNU dalam mendukung pemerintah menuju eliminasi TBC.

Selain ada beberapa hal yang ingin disampaikan oleh LKNU kepada pada kegiatan tersebut, yaitu mendorong semua masyarakat Nahdlatul Ulama (NU) untuk ikut serta dalam upaya pemberantasan penyakit menular dan mematikan yang masih ada di Indonesia, yakni tuberkulosis (TBC).

Selain itu LKNU juga sebelumnya telah melakukan serangkaian kegiatan. Kegiatan tersebut, pertama akselerasi penemuan kasus baru melalui investigasi kontak dan skrining (penapisan) massal di setiap kabupaten/kota wilayah kerja LKNU.

Kegiatan ini berlangsung selama Januari-Maret 2019. Sejak Januari 2019 hingga saat ini, kader terlatih telah melakukanskrining terhadap 100.000 dan menemukan hampir 1.000 kasus baru.

Kedua, lomba cerita sukses dan foto bagi kader TBC sebagai motivasi kader dalam menjalankan perannya yang digelar selama Februari-Maret 2019.

Ketiga, penampilan drama tradisional “Investigasi Kontak” dalam peluncuran Investigasi Kontak untuk penemuan kasus TBC. Drama ditampilkan oleh kader LKNU berkolaborasi dengan Perhimpunan Organisasi Pasien (POP) TBC dan Aisyiyah di pelataran Candi Borobudur pada 10 Maret 2019.

Keempat, gelar wicara (talkshow) bertema “Saatnya Indonesia Bebas TBC, Mulai dari Saya – Nahdliyin.” Kelima, perayaan puncak HTBS 2019 di Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat, pada 27 Maret 2019. LKNU menyampaikan kontribusi komunitas dalam penemuan kasus dan melaksanakan sosialisasi edukasi melalui pameran LKNU.

Menurut TB Technical Advisor LKNU yang juga Co-Founder Global Health Initiative Indonesia Dr Esty Febriani, untuk acara gelar wicara LKNU yang dihadiri oleh peserta dari berbagai sektor termasuk media massa, Ketua Umum PBNU Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj memaparkan komitmen NU terhadap penanggulangan TBC di Indonesia.

Selain itu, sejumlah narasumber juga akan menyampaikan paparan tentang pentingnya keterlibatan komunitas, terutama peran NU sejauh ini dalam penanggulangan TBC di Indonesia, serta bagaimana strategi penanggulangan TBC di Indonesia yang akan disampaikan oleh wakil dari pemerintah, dan uraian tentang apa saja bahaya TBC terhadap masyarakat akan disampaikan oleh ahli di bidang TBC.

“Kita bersyukur, posisi Indonesia kini berada pada di urutan ketiga di dunia, setelah India dan Cina, sebagai negara dengan kasus TBC terbanyak. Sebelumnya, sesuai laporan WHO Global Report 2018, Indonesia masih berada di urutan kedua. Ini artinya, upaya kita semua membuahkan hasil dan kita optimistis, semua pemangku kepentingan, termasuk LKNU, bersama pemerintah akan mewujudkan Indonesia bebas TBC,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua LKNU Hisyam Said Budairy mengatakan, bersamaan dengan gelar wicara, LKNU ingin menyampaikan kepada public mengenai peran LKNU dalam penemuan dan pendampingan kasus TBC.

“Kami ingin agar semua kegiatan LKNU bisa juga tersosialisasikan kepada public, terutama kampanye terkait TBC bisa dengan mudah terpapar di tengah masyarakat,” kata Hisyam.

(Penulis: Heryanto/Red)

Komentar

Berita Terbaru