oleh

Masyarakat Agara Gelar FGD Penyambutan HUT RI Ke-72 dan Sosialisasi Bendera Alam Peudeng

-Pena Berita-76 views

PENANEGERI, Aceh Tenggara – Sejumlah Tokoh masrakat, tokoh adat dan tokoh agama di wilayah Kabupaten Aceh Tenggara (Agara) menggelar Forum Group Diskusi (FGD) yang bertujuan untuk membangkitkan jiwa nasionalisme masyarakat dalam menyambut HUT RI Ke-72 dan sosialisasi bendera Alam Peudeung, di Cafe Saiman, Desa Gumpang Jaya Kecamatan Babussalam, Aceh Tenggara, Jumat (28/7).

Informasi diperoleh Penanegeri.com menyebutkan, FGD tersebut dihadiri Kepala Kesbangpolinmas Kabupaten Agara, Drs Dharmaputra dan Ketua ormas Peta Agara, Nawi Sekedang, SE serta puluhan tokoh dan sejumlah perwakilan mahasiswa setempat.

Kepala Kesbangpolinmas Agara dalam sambutannya menyampaikan, wawasan kebangsaan adalah cara pandang bangsa Indonesia mengenai diri dan lingkungannya, mengutamakan persatuan dan kesatuan wilayah dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Dalam pelaksanaan FGD itu sejumlah tamu undangan yang hadir memberikan tanggapan yang mendukung terselenggaranya acara tersebut, diantaranya Ridwan Sekedang yang menyampaikan, pada perayaan HUT RI ke-72 di Benteng Kutari harus dikibarkan bendera Merah Putih dan bendera Alam Peudeung karena sejarah perjuangan Benteng Kutari merupakan bagian dari perjuangan Sultan Iskandar muda.

“Mari kita dukung bendera Alam Peudeung, jangan kita mau memakai bendera yang masih berbau separatis,” himbaunya.

Kepala Desa Kutari, Rasidun menyampaikan, sebagai Kades Kutari sangat berterimakasih karena peringatan HUT RI Ke-72 bertempat di Benteng Kutari.

“Saya setuju bendera Alam Peudeung dijadikan bendera resmi Provinsi Aceh dan saya minta agar bendera Alam Peudeung dicetak lebih banyak untuk dikibarkan di Desa Kutari,” ujarnya.

Hal senada juga dismpaikan Kepala Desa Gumpang Jaya, Nurjaman yang sepakat mengibarkan bendera Merah Putih dan bendera Alam Peudeung di desa kita masing-masing.

“Sebenarnya perjuangan para Syuhada Benteng Kutari tidak ubahnya dengan perjuangan Kota Surabaya namun sayangnya Benteng Kutari terkesan tidak dirawat sehingga sejarah perjuangan Benteng Kutari dikhawatirkan akan hilang,” tandasnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *