oleh

Mediasi Segera Dilakukan untuk Redakan Ketegangan antar sebagian warga Kokoda dan Key

PENANEGERI, Sorong – Pasca keributan antar warga sendiri yang melibatkan beberapa orang warga suku Kokoda dan warga Key, maka apkam (aparat keamanan) berhasil bertindak cepat untuk meredakan keributan dan ketegangan antar warga sendiri itu tersebut.

Apkam pun dengan segera melakukan mediasi antar warga di kedua pihak yang sempat bertikai agar situasi bisa tenang dan reda.

Seperti telah diberitakan PenaNegeri, pada Jumat dini hari ini tanggal 24 Januari 2020 sekitar pukul 24.30 WIT di Jln. Melati Raya Komplek BTN Melati Raya, Kelurahan Klasabi, distrik Sorong Manoi, kota Sorong, Provinsi Papua Barat telah sempat terjadi keributan antara masyarakat suku Kokoda Km 8 dengan masyarakat suku Key yang berdomisili di komplek BTN Melati Raya yang disebabkan karena adanya keributan antara warga bernama Ipul Wugaje dengan beberapa pemuda suku Key yang tinggal di Jln. Selat Obi.

Namun untungnya apkam bertindak cepat dan tepat dalam melerai keributan antar warga sendiri ini, hingga bisa mereda, bahkan apkam juga dapat segera mengupayakan nasihat dan mediasi kepada warga di kedua sisi agar tidak lagi ada pertikaian, serta mengharap pada segenap warga agar segera berkomunikasi dengan apkam apabila ada masalah yang timbul antar warga sendiri.

Setelah berhasil melerai keributan pada dini hari ini, maka dengan tak menunggu lama agar masalah tak berlarut-larut, maka pada Jumat pagi ini (24/1) pukul 07.15 WIT di rumah Essau Gogoba (Ketua LMA Kokoda) dilakukan pertemuan antara aparat keamanan dengan masyarakat suku Kokoda.

Dalam upaya meredakan keributan antar warga ini, Kapten Inf Arujin (Pasi Intel Kodim 1802/Sorong) menasihati kepada para warga agar tidak ada ribut-ribut lagi.

“Karena permasalahan ini sebenarnya berawal dari kesalahpahaman saja sehingga kita semua menjadi korban. Sebagai aparat kami tidak berpihak kepada salah satu pihak sehingga seharusnya aparat berada di tengah namun karena situasi dan kondisi terdapat aparat yang berada di belakang masa,” papar Kapten Arujin dengan bijak.

“Kita semua saling mengenal sehingga perlu kita menjaga keamanan. Apabila situasi aman kita dapat menjalankan aktivitas dengan nyaman dan berjalan lancar. Apabila terdapat kesalahpahaman kami harapkan semua warga tanpa terkecuali dapat menghargai aparat keamanan yang ada di lapangan yang hanya berupaya meredakan konflik keributan antar warga. Jangan mudah terprovokasi,” pesan Kapten Arujin dengan nada tegas dan bijak.

Untuk itu maka warga diharap dapat tanpa segan segera menyampaikan kepada Babinsa dan Bhabinkamtibmas apabila terdapat permasalahan antar warga sendiri

“Di tahun 2020 mari kita tingkatkan silaturahmi dengan seluruh komponen masyarakat. Apabila timbul permasalahan maka semua pihak supaya dibicarakan terbuka kepada aparat agar tidak memperpanjang permasalahan ini,” pesannya.

Sedangkan Bhabinkamtibmas yang hadir kepada warga menjelaskan pula bahwa permasalahan ini sebenarnya berawal dari keributan orang-perorang saja sehingga sebagian besar masyarakat yang berkumpul disini tidak tahu permasalahan sebenarnya.
Pihak aparat keamanan juga menegaskan tetap berada sebagai pihak netral, hanya demi keamanan bagi segenap warga.

Dalam kesempatan ini Essau Gogoba (Ketua LMA) juga menyatakan hal ini sudah terjadi dan akan dijadikan instrospeksi diri supaya kedepan tidak terjadi hal-hal seperti ini.

“Sebelum kita bertindak perlu kita pelajari setiap permasalahan supaya tidak salah dalam melangkah.Kami mengharapkan supaya disampaikan kepada pihak sebelah untuk menghentikan pertikaian ini, apabila ada korban supaya disampaikan.Kami tetap akan bekerjasama dengan aparat keamanan untuk menjaga situasi di kota Sorong, ” ujarnya.

Sementara dalam arahannya, AKP Moch Sad Bugis (Kasat Binmas Polres Sorong kota berpesan pada warga, “Mari kita saling mengenal satu sama lain, ada tokoh pemuda, adat dapat menyelesaikan permasalahan dengan baik supaya dapat beraktivitas secara normal agar terjadi keharmonisan kerukunan di kota Sorong,” pesannya.

Menambahkan pesan kepada warga, Kapten Inf Arujin (Pasi Intel Kodim 1802/Sorong) juga berpesan kepada warga bahwa, “Jika kedepan apabila terdapat permasalahan supaya RT, RW dan Lurah dilibatkan dalam pertemuan penyelesaian masalah supaya permasalahan tidak luas,” pesannya.

Untuk itu warga pun perlu menahan diri, dan segera berkomunikasi dengan aparat jika ada masalah antar warga.

Aparat keamanan datang ke TKP hanya bertindak sebagai penengah supaya tidak jatuh korban.

Aparat keamanan (apkam) juga berpesan dan menasihati kepada kedua unsur warga yang sempat ribut : “Mari kita menjaga situasi di wilayah kota Sorong sehingga aktivitas masyarakat dapat berjalan dengan baik” pesan bijak Apkam.

Pertemuan untuk upaya mediasi juga dilakukan di Rumah Ketua RT antara aparat keamanan dengan masyarat suku Key.

Bhabinkamtibmas Klasabi meminta kepada tokoh suku Key untuk menunjuk perwakilan guna menghadiri pertemuan dengan pihak suku Kokoda di Polres Sorong kota.

Setelah pertemuan antara apkam dan kedua pihak yang sempat ribut-ribut usai, maka pada pukul 09.30 WIT situasi di TKP kondusif dan tidak ada konsentrasi masa lagi

Akibat ribut-ribut pertikaian dini hari ini amat disayangkan beberapa orang warga dari Kokoda dan Key sama-sama ada yang mengalami luka-luka yakni : Tete Yuli Usage luka jena Parang di bagian Bahu dan telinga, Fredi Muruai : kena parang tangan kiri, Doglas : kena panah wayer bagian kaki kanan, Awesi Usage : luka di bagian perut kena panah wayer, Fiktor Gogoba : lengan kanan kena wayer, Yermias : kena pukul balok di bagian lengan tangan.

Korban luka juga dialami warga bernama Ugi luka pada lengan kanan karena terkena panah wayer, M Kasim luka pada bahu kanan karena terkena panah wayer, Firmansyah luka pada kaki kanan karena terkena lemparan batu, Iki luka pada dahi karena terkena lemparan batu.

Juga yang amat disayangkan sekitar 10 unit rumah mengalami rusak ringan pada bagian kaca karena terkena lemparan batu.

Keributan dan aksi saling serang antara masyarakat suku Kokoda Km 8 dengan masyarakat suku Key yang berdomisili di komplek BTN Melati Raya ini sekali lagi amat disayangkan, karena keributan ini terjadi hanya bermula dari ribut antara seorang warga Ipul Wugaje dengan beberapa pemuda suku Key.

(Reportase oleh : Wawan, kontributor redaksi di Papua)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *