oleh

Mengenal 9 Bahasa yang Digunakan Rakyat Aceh

PENANEGERI, Aceh – Indonesia memang terkenal sebagai negara yang kaya akan budaya dan juga bahasa. Hal ini disebabkan karena wilayah Indonesia sangatlah luas, belum lagi lokasinya yang strategis membuat Indonesia menjadi tempat persinggahan bangsa-bangsa lain yang sedang berlayar mengarungi lautan sehingga muncul berbagai macam budaya baik asli dari masyarakat lokal ataupun hasil percampuran dari budaya lain.

Di kawasan Aceh saja ada 9 bahasa yang biasa digunakan oleh masyarakatnya. Bahasa-bahasa tersebut pun memiliki ciri khas masing-masing. Berikut bahasa yang kerap digunakan oleh masyarakat Aceh.

Bahasa Aneuk Jamee
Masyarakat Aceh Barat Daya dan Aceh Selatan merupakan penutur dari bahasa aneuk jamee. Selain dikenal sebagai bahasa aneuk jamee bahasa ini juga dikenal dengan nama baiko. Hal ini disebabkan karena dalam bahasa aneuk jamee banyak terdapat kata dengan huruf vokal o.

Bahasa Aceh
Bahasa Aceh merupakan bahasa yang paling banyak digunakan karena ada sekitar 70% orang Aceh yang menuturkan bahasa ini. Kendati demikian bahasa ini memiliki dialek yang berbeda-beda seperti dialek Aceh Besar, Aceh Selatan, dan Aceh Pidie.

Bahasa Kluet
Suku Kluet menganggap bahasa kluet sebagai bahasa ibu. Bahasa kluet banyak digunakan oleh warga masyarakat Aceh Selatan. Beberapa wilayah yang menjadi penutur terbanyak bahasa kluet antara lain seperti Kecamatan Kluet Tengah, Kluet Utara, Kluet Timur dan Kluet Selatan.

Bahasa Alas
Bahasa alas banyak digunakan oleh warga kabupaten Aceh Tenggara, penduduk sekitar hulu sungai Singkil dan penduduk yang mendiami kawasan sekitar gunung Leuser. Jika dicermati, bahasa alas terdengar mirip dengan bahasa yang digunakan oleh suku Karo yang mendiami kawasan Sumatera Utara.

Bahasa Gayo
Bahasa gayo merupakan bahasa yang sangat mirip dengan bahasa melayu kuno. Beberapa wilayah yang menuturkan bahasa gayo antara lain adalah Aceh Tenggara, Aceh Tengah, dan Aceh Timur atau lebih tepatnya wilayah Lokop. Bahasa gayo dianggap sebagai bahasa ibu oleh masyarakat Aceh.

Bahasa Devayan
Walaupun bahasa devayan merupakan bahasa ibu dari masyarakat Singkil namun sebagian besar masyarakat Singkil justru menggunakan bahasa aceh, bahasa minang ataupun bahasa aneuk jamee sehingga penutur bahasa devayan menjadi sangat sedikit. Bahkan selain ketiga bahasa tersebut masyarakat Singkil yang mendiami wilayah Subulussalam juga biasa menggunakan bahasa pakpak/bahasa dairi terutama untuk para pedagang.

Bahasa Haloban
Masyarakat kabupaten Singkil adalah masyarakat yang menuturkan bahasa haloban. Jika dibandingkan bahasa Aceh lainnya, bahasa haloban merupakan bahasa dengan penutur sangat sedikit karena hanya warga kepulauan Banyak dan lebih tepatnya Pulau Tuanku saja yang menggunakan bahsa ini. Jika tidak ada upaya pelestarian bahasa ini maka diprediksikan bahasa haloban akan segera punah.

Bahasa Tamiang/Teumieng
Bahasa teumieng adalah bahasa melayu dengan dialek berbeda yang dituturkan oleh masyarakat Aceh kawasan paling timur atau sekarang disebut dengan kabupaten Aceh Tamiang. Namun di kawasan ini juga tidak 100% menggunakan bahasa teumieng dalam komunikasi sehari-hari melainkan ada sejumlah kecamatan diantaranya Kecamatan Manyak Payed, Bendahara dan Banda Mulia yang menggunakan bahasa Aceh dalam berkomunikasi.

Selain itu ada juga masyarakat Kuala Simpang yang menggunakan bahasa campuran antara bahasa tamiang dan bahasa Indonesia dengan dialek melayu yang sangat kental.

Bahasa Simeulue
Bahasa simeulue memiliki penutur sebanyak 60.000 orang. Bahasa ini memiliki dua dialek yakni dialek sigulai dan dialek devayan. Dialek sigulai digunakan oleh masyarakat kecamatan Simelulue Tengah, kecamatan Tepah Selatan dan kecamatan Simeulue Timur sedangkan dialek devayan digunakan oleh masyarakat kecamatan Simeulue Barat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *