oleh

Nikmatnya Rujak Manis Kutablang Bireuen

Bireuen Warga Bireuen akan merasa lengkap jika menjelang berbuka puasa menyediakan segelas rujak manis untuk keluarganya.

Aneka campuran buah yang terdapat pada rujak manis khas Aceh ini menjadi sebuah tradisi tersendiri, apalagi bila sempat mencicipi rujak khas Kutablang, Bireuen yang terkenal sejak tahun 70-an silam.

Rujak manis Kutablang, Bireuen yang diolah dari berbagai sari buah, termasuk “buah kumbang” dan sawo ranum ini menjadi hidangan favorit masyarakat untuk berbuka.

Kendati, belakangan ini, banyak warga yang mengadopsi racikan rujak Kutablang, namun olahan rujak manis milik keluarga almarhum Jakfar, atau lebih dikenal dengan sapaan pak guru ini tentu jauh lebih nikmat dari puluhan pemilik rujak manis lainnya.

Terlepas hadirnya sejumlah pedagang lain yang memadati kawasan itu, tetapi masyarakat kawasan Bireuen, Lhokseumawe dan Sigli, termasuk dari Banda Aceh sudah mengenal rujak manis ala pak guru itu.

Rujak manis Kutablang, tak hanya didapat pada saat bulan puasa Ramadhan, namun racikan rujak manis milik Jakfar yang kini mulai dikelola oleh anaknya, Muhammad Taufik ini juga tetap dijual dan laris pada hari-hari biasa.

Baca Juga  Kompol Jatmiko Jabat Waka Polres Bireuen

Kedai berdinding papan kayu dengan luas sekitar 5×7 meter persegi memberikan pemandangan tersediri bagi pelanggannya, apalagi kawasan itu dekat dengan jembatan dan aliran sungai Krueng Tingkeum, Kutablang.

Rujak manis Kutablang yang menyegarkan tenggorokan itu ternyata hanya menghandalkan gula putih murni, tanpa adanya campuran bahan lainnya.

Muhammad Taufik kepada Penanegeri.com, Rabu (22/5) mengaku, kalau hari biasa untuk proses rujak akan tetap diramu buah-buahan menjadi rujak manis, maka  satu  hari akan menghabiskan gula pasir sekitar 50 kilogram gula pasir.

“Tapi kalau bulan Ramadhan seperti sekarang ini, dengan cuaca panas menyengat dalam sehari bisa menghabiskan 150 kilogram gula pasir, timun satu ton untuk dua hari ditambah buah lainnya seperti tahun ini, takaran gula asli yang dibutuhkan bisa tiga kali lipat,” sebutnya.

Namun sebaliknya, bila cuaca kurang mendukung, mendung dan hujan deras, maka pelanggan dipastikan juga berkurang, bahkan kurang laku.

Selama bulan puasa, permintaan rujak memang sedikit meningkat dari bulan-bulan lainnya, namun penjualannya tetap dilakukan pada sore harinya.

Baca Juga  Panitia Turnamen Bola Voli Darma Wanita Antar Bank Aceh Syariah Se-Aceh di Bireuen Sulit Dikonfirmasi Media

Pantuan Penanegeri.com menjelang berbuka, warga sudah memadati tempat penjualan rujak milik almarhum cek gu itu dengan harga jual Rp 10 ribu per kantong plastik.

“Harga ini bertahan sudah cukup lama walaupun harga bahan naik, apa lagi pada bulan Ramadhan harga bahan mahal dan susah didapat, tapi sudah ada langganan atau pemasok dari seputaran Bireuen,” ujar Taufik.

Pada momen Ramadhan, permintaan melonjak tinggi dari har-hari biasa. Hal ini ditandai banyaknya pembeli lokal atau luar daerah yang rela antri dari pukul empat sore hingga menjelang azan magrib hanya untuk mendapatkan beberapa bungkusan rujak manis.

Banyak pelanggan mengungkapkan cita rasa rujak manis Kutablang, Bireuen itu beda dengan yang biasa ditemui di pasaran. Selain manis, aroma buah yang begitu terasa hingga menimbulkan keinginan untuk mencicipinya hingga puas.

“Ada perbedaan rasa dengan rujak manis lainnya. Tapi ricikan rujak yang satu ini jauh berbeda, terutama aroma dan rasa yang dihasilkan setelah diramu menjadi rujak.  Luar biasa nikmatnya,” ujar Zulfadli seorang warga Kota Juang, Bireuen.

Komentar

Berita Terbaru