oleh

OKI Menyatakan Yerusalem Timur sebagai Ibukota Palestina

PENANEGERI, Internasional – Organisation of Islamic Cooperation atau Organisasi Kerjasama Islam (OKI), telah mengumumkan bahwa Yerusalem Timur adalah sebagai ibu kota Palestina, dan meminta masyarakat internasional untuk mengakui Yerusalem Timur sebagai Ibu Kota Palestina

Pada sebuah pertemuan puncak yang diadakan di Turki pada hari Rabu (13/12), seminggu setelah Presiden A.S Donald Trump mengumumkan Yerusalem sebagai ibukota Israel, kelompok pemimpin Muslim dalam OKI meminta semua negara untuk “mengenal Negara Palestina dan Yerusalem Timur sebagai ibukota yang diduduki”.

Dalam sebuah pernyataan, OKI menambahkan bahwa 57 anggota OKI tersebut tetap berkomitmen untuk “perdamaian yang adil dan komprehensif berdasarkan solusi dua negara (Two State Solution)”.

OKI juga meminta PBB untuk “mengakhiri pendudukan Israel” di Palestina dan menyatakan bahwa pemerintahan Trump bertanggung jawab atas “semua konsekuensi dari tidak mencabut dari keputusan ilegal ini”.

Keptusan itu adalah ketika Presiden A.S Donald Trump secara tegas mengakui Yerusalem sebagai ibu Kota Israel, dan secara bertahap akan memindahkan Kedubes A.S dari Tel Aviv ke Yerusalem.

“Kami menganggap bahwa pernyataan berbahaya ini, yang bertujuan untuk mengubah status hukum kota, tidak berlaku lagi dan tidak memiliki legitimasi,”demkikian bunyi pernyataan OKI (Organisasi Kerjasama Islam) seperti dikutip dari kantor Berita Al Jazeera, hari Kamis (14/12).

Pemimpin dari 57 anggota Organisasi Kerjasama Islam kini telah mengakui Yerusalem Timur sebagai ibukota negara Palestina yang diduduki dan meminta masyarakat internasional untuk melakukan hal yang sama, demikian menurut pertemuan pertemuan darurat OKI tersebut pada hari Rabu (13/12).

OKI telah mengadakan sebuah pertemuan luar biasa di Istanbul untuk membahas pengakuan kontroversial Presiden AS Donald Trump terhadap Yerusalem sebagai ibukota Israel pekan lalu. Trump juga mengumumkan bahwa Kedutaan Besar AS akan dipindahkan dari Tel Aviv ke kota suci tersebut.

Pada hari Rabu OKI menolak langkah Trump sebagai “batal demi hukum” dan mengatakan “deklarasi berbahaya” Presiden menandai penarikan AS dari proses perdamaian Israel-Palestina.

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan menyatakan bahwa “aliansi baru” telah dibentuk untuk menentang deklarasi Yerusalem oleh Presiden Trump, yang dia sebut sebagai “tidak valid dalam pemahaman kita, dalam mentalitas dan hati nurani kita.”

Presiden Erdogan mengatakan bahwa A.S “tidak dapat lagi bertindak secara tidak memihak” sebagai mediator antara Israel dan Palestina, dan bahwa negara-negara lain perlu diidentifikasi untuk menggantikan AS dalam peran tersebut.

“Kami bertekad untuk melindungi dan melestarikan status historis dan kesucian Yerusalem,” kata Presiden Erdogan dalam sebuah pidato untuk menutup pertemuan di Istanbul, Turki tersebut.

Berbicara sebelumnya pada hari Rabu (13/12), Yousef al-Othaimeen, Sekretaris Jenderal OKI, menolak keputusan A.S tersebut dan mendesak para pemimpin Muslim untuk bekerja sama untuk memberikan tanggapan yang terpadu terhadap kepindahan tersebut.

“OKI menolak dan mengutuk keputusan Amerika,” katanya. “Ini adalah pelanggaran hukum internasional … dan ini adalah provokasi perasaan Muslim di dunia.”

“Ini akan menciptakan situasi ketidakstabilan di wilayah ini dan di dunia.” katanya.

Sedangkan  Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengatakan bahwa A.S telah “mendiskualifikasi” dirinya dari perundingan damai Israel-Palestina di masa depan setelah membuktikan “biasnya mendukung Israel”.

Seperti telah diumumkan secara luas, bahwa Presiden Trump mengumumkan pada 6 Desember 2017 bahwa A.S secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan akan memulai proses perpindahan kedutaannya ke kota Yerusalem tersebut.

Keputusan tersebut melanggar hukum internasional, menurut Presiden Palestina Mahmoud Abbas.

“Kami tidak akan menerima peran apapun untuk Amerika Serikat dalam proses perdamaian, mereka telah membuktikan bias penuh mereka untuk Israel,” kata Presiden Palestina, Mahmoud Abbas.

“Yerusalem dan akan selalu menjadi ibu kota Palestina.” tegasnya.

Warga Palestina melihat Yerusalem Timur sebagai ibu kota negara masa depan.

Sedangkan menurut Israel, Yerusalem, tidak dapat dibagi. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *