oleh

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo Tampil dalam acara FGD di Senayan

PENANEGERI, Jakarta – Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo tampil sebagai pembicara dalam sebuah acara ‘Forum Group Discussion’ (FGD) di Fraksi PKS DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (27/9).

FGD ini bertemakan ‘Pancasila dan Integrasi Bangsa’.

Dalam acara ini, turut hadir sejumlah tokoh seperti Profesor Mahfud MD dan sastrawan Taufiq Ismail. Ada pun tokoh yang hadir dari Fraksi PKS ialah Ketua F-PKS Jazuli Juwaini, Wakil Ketua Majelis Syuro PKS Hidayat Nur Wahid, dan Sekjen PKS Mustafa Kamal.

“Kita harus membahu sebagai warga negara bersatu menjaga NKRI dari seluruh pihak yang merongrong ideologi bangsa. Kita ingin Indonesia semakin maju, aman, adil, kuat, yang disegani bangsa lain,” kata Jazuli dalam sambutannya.

Usai acara FGD itu Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menjelaskan kepada para wartawan yang hadir bahwa dirinya siap dipanggil DPR RI untuk menjelaskan pernyataannya mengenai adanya pembelian senjata api sebanyak 5.000 buah dari institusi non militer.

Panglima TNI juga mengatakan sudah mengklarifikasi pernyataannya tersebut kepada Presiden Joko Widodo dalam pertemuan di Bandara Halim Perdanakusuma semalam.

Hal itu disampaikannya usai menjadi pembicara dalam focus group discussion di Fraksi PKS Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (27/9).

Jenderal Gatot menjelaskan bahwa informasi intelijen hanya boleh disampaikan kepada Presiden sebagai atasan langsung Panglima TNI, dan tidak kepada publik.

Jederal Gatot mengatakan bahwa pernyataannya mengenai 5.000 senjata yang seharusnya tidak dipublikasikan itu bukan merupakan informasi intelijen.

“Informasi intelijen kan hanya boleh disampaikan ke atasan saya yaitu Presiden. Tidak boleh ke publik, Menkopolhukam dan Menteri Pertahanan pun tidak,” tegasnya.

Menurutnya informasi intelijen memiliki formulasi khusus sehingga bisa disebut demikian.

“Informasi intelijen itu formulasinya “si a di bi da me”, yaitu siapa pelakunya, apa yang dilakukan, kapan, di mana, bagaimana, dan seterusnya. Tapi yang saya sampaikan itu baru akan, belum terjadi, sehingga belum termasuk informasi intelijen,” tegas Jenderal Gatot.

Jadi pernyataannya mengenai adanya institusi yang bakal impor 5.000 senjata merupakan bukanlah konsumsi publik.

Jenderal Gatot pun menegaskan bahwa ‎dirinya hanya akan menjelaskan informasi yang diperolehnya hanya kepada Presiden maupun DPR RI.

“‎Saya hanya akan menyampaikan apa yang saya tahu kepada Presiden atau saya dipanggil oleh DPR. Di luar itu saya tidak bisa menyampaikan,” paparnya.

Usai memberikan ceramah dalam acara Fraksi PKS di DP kurang lebih 40 menit, Jenderal Gatot kemudian pamit kepada seluruh hadirin karena harus segera ke Istana Negara untuk bertemu dengan Presiden Joko Widodo.

“Pak Ketua Fraksi, saya tepat jam 15.00 WIB sudah di Istana. Jadi saya kira sekian dan terima kasih,” pungkas Gatot, Rabu (27/9), kepada Ketua F-PKS Jazuli Juwaini, di depan para peserta FGD dan juga wartawan yang hadir.

Ketika Jenderal Gatot bersalam-salaman usai hadir pada acara FGD itu, hadirin pun membalasnya dengan penuh rasa hormat, “Hidup Panglima !,” ujar para hadirin dan wartawan yang hadir. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *