oleh

Pasukan Myanmar Tembaki Warga Sipil Rohingya yang Lari Mengungsi

PENANEGERI, Desk Internasional – Pasukan Myanmar menembaki warga sipil dari etnis Rohingya yang tengah melarikan diri dari serangan militer Myanmar di Provinsi Rakhine dekat dengan perbatasan Bangladesh.

Penjaga perbatasan Bangladesh (BGB-Border Guard Bangladesh) mengatakan bahwa tentara Myanmar telah menembakkan mortir dan senapan mesin ke warga sipil Rohingya yang berusaha melarikan diri dari konflik di wilayah Rakhine yang semakin memanas.

Sedikitnya sejauh ini 92 orang tewas dalam kekerasan di wilayah Rakhine yang makin bergolak karena konflik.

Tentara Myanmar melepaskan tembakan ke arah warga sipil Rohingya yang melarikan diri kebanyakan warga sipil itu terdiri dari wanita dan anak-anak saat mereka berusaha melintasi perbatasan ke Bangladesh dan berusaha meloloskan diri dari kekerasan yang meningkat di Rakhine.

Pada hari Sabtu (26/8) seorang wartawan kantor berita AFP di pos perbatasan Ghumdhum, Bangladesh, menghitung lebih dari selusin mortir dan rentetatan tembakan senapan mesin yang tak terhitung jumlahnya yang ditembakkan oleh pasukan keamanan Myanmar di bukit terdekat kepada sekelompok besar para pengungsi mulism Rohingya, saat para pengungsi muslim Rohingya dengan jeritan putus asa berusaha untuk menyeberang mengungsi ke Bangladesh.

Belum ada laporan pasti apakah ada warga sipil muslim Rohingya yang terkena tembakan militer Myanmar, tapi warga sipil panik dan behamburan untuk menghindari serangan tersebut.

“Mereka telah menembaki warga sipil, kebanyakan wanita dan anak-anak, bersembunyi di perbukitan di dekat garis nol,” ujar kepala stasiun Border Guard Bangladesh (BGB) Manzurul Hassan Khan mengkonfirmasi.

“Mereka menembakkan senapan mesin dan peluru mortir tiba-tiba, menarget warga sipil, mereka belum berkonsultasi dengan BGB,” tambahnya.

Anita Schug dari Dewan Rohingya Eropa, berbicara dari kota Swiss Solothurn, mengatakan kepada kantor berita  Al Jazeera bahwa organisasinya dapat memverifikasi laporan tersebut.

“Kami memiliki video dari lapangan dan kami dapat membagikannya jika diminta untuk mengonfirmasikan bahwa berita ini benar,” katanya.

“Militer Burma bersama dengan ekstremis Rakhine yang dipersenjatai dengan pisau, pedang, parang dan senjata menyerang warga sipil Rohingya yang tidak berdosa yang sama sekali tidak bersenjata.”

Ribuan Muslim Rohingya Terjebak

Pengungsi Rohingnya wanita dan anak-anak,[Wai Moe/AFP/Getty Images]
Ribuan Muslim Rohingya melarikan diri dari kekerasan di Myanmar telah terjebak di perbatasan dengan Bangladesh saat pertempuran baru meletus di negara Rakhine yang bergolak.

Bentrokan dimulai pada hari Jumat (25/8) antara pasukan keamanan Myanmar dan pemberontak Rohingya yang menewaskan sedikitnya 92 orang, termasuk 12 tentara, konflik ini telah memaksa warga sipil untuk melarikan diri.

“Banyak orang Rohingya mencoba memasuki negara tersebut, namun kami memiliki kebijakan tanpa toleransi tidak ada yang diizinkan,” ujar Mohammad Ali Hossain, wakil komisaris distrik Cox’s Bazar dekat perbatasan Myanmar, mengatakan kepada kantor berita Reuters.

Kemudian pada hari Sabtu (26/8), Mohammad Nur seorang pemimpin Rohingya di sebuah kamp yang tidak terdaftar di Cox’s Bazar mengatakan kepada kantor berita AP melalui telepon bahwa dia mendengar sekitar 100.000 orang Rohingya berkumpul di sepanjang perbatasan untuk mencoba memasuki Bangladesh. Angka itu tidak bisa dikonfirmasi.

Tembakan senjata terdengar di bagian utara negara bagian Rakhine pada hari Sabtu (26/8) saat bentrokan antara kedua belah pihak terus berlanjut.

Pejabat Bangladesh secara teratur menganjurkan pendekatan yang sulit terhadap pengungsi dalam wawancara resmi, namun biasanya akhirnya membiarkan mereka lolos.

Seorang wartawan AFP di tempat kejadian mengatakan ratusan orang Rohingya berhasil menyeberangi perbatasan Myanmar-Bangladesh pada Sabtu pagi (26/8) saat patroli perbatasan beristirahat karena hujan deras, dengan beberapa orang berenang melintasi sungai Naf di perbatasan Myanmar-Bangladesh.

Seorang dokter bangsal darurat mengatakan dua orang Rohingya yang telah ditembak di Myanmar memasuki Bangladesh dan dibawa ke rumah sakit.

“Salah satunya, berusia 25 tahun, meninggal beberapa jam setelah dia dirawat di sini,” kata dokter tersebut tanpa menyebut nama.

Ratusan ribu pengungsi Rohingya sudah berada di Bangladesh dan 87.000 telah tiba sejak Oktober 2016, setelah sebuah serangan oleh pemberontak membunuh sembilan pasukan keamanan dan mengakibatkan sebuah tindakan keras di negara bagian Rakhine.

Aung San Suu Kyi, pemimpin de facto Myanmar, “mengecam keras” serangan brutal “Jumat (25/8) oleh teroris terhadap pasukan keamanan di negara bagian Rakhine”.

“Saya ingin memuji anggota polisi dan pasukan keamanan yang telah bertindak dengan sangat berani dalam menghadapi banyak tantangan,” kata Suu Kyi.

Pemerintah mengatakan telah mengevakuasi pejabat, guru, dan ratusan penduduk desa non-Rohingya ke pangkalan militer dan kantor polisi.

Titik pusat kerusuhan Jumat (25/8) adalah kota Rathedaung. Daerah tersebut telah mengalami peningkatan jumlah tentara dalam beberapa pekan terakhir, dengan laporan yang menyaring pembunuhan oleh kelompok-kelompok gelap, desa-desa yang diblokade tentara, dan pelanggaran.

Dalam sebuah posting  di Twitter Milisi Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) mengaku bertanggung jawab atas serangan hari Jumat (25/8) namun tidak menyebutkan jumlah korban atau jumlah pejuang yang terlibat.

ARSA, menuduh pasukan Myanmar melakukan pembunuhan dan pemerkosaan, mengatakan pada hari Jumat bahwa pihaknya “melakukan tindakan defensif” di lebih dari 25 lokasi yang berbeda.

Pemerintah telah mengumumkan kelompok ARSA tersebut sebagai organisasi “teroris”.

Pengamat khawatir serangan terbaru tersebut akan memicu respons tentara yang lebih agresif dan memicu bentrokan komunal antara kaum Muslim dan kaum Buddha Rakhine.

Karena di wilayah Rakhine ini terdapat komunitas kaum Muslim dan komunitas kaum Buddha.

“Kekerasan harus berhenti di Rakhine kami mengjhimbau semua orang, semua pihak agar menahan diri ! ” seru Yanghee Lee, utusan khusus PBB untuk hak asasi manusia di Myanmar, mengatakan di Twitternya.

Muslim Rohingya ditolak kewarganegaraan di Myanmar dan diklasifikasikan sebagai imigran ilegal dari Bangladesh, meskipun Muslim Rohingya menyatakan bahwa mereka sudah tinggal di wilayah Rakhine  sejak berabad-abad silam.

Sekitar 1,1 juta orang etnis Rohingya muslim tinggal di Myanmar.

Perlakuan buruk terhadap Muslim Rohingya, yang sering digambarkan sebagai minoritas teraniaya di dunia, telah muncul sebagai isu Hak Asasi Manusia di Myanmar yang paling diperdebatkan, teramsuk mendapat sorotan dunia Internasional selama beberapa dekade belakangan ini. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *