oleh

PBB Berupaya Bangun Jalan untuk Akses Kamp pengungsi Rohingya

PENANEGERI, Desk Internasional – PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) tengah berupaya membangun jalan untuk mencapai pengungsi Rohingya yang kini secara darurat berkemah di daerah berlumpur yang rawan banjir, di lokasi-lokasi pengungsian darurat di Bangladesh.

Badan migrasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (International Organization for Migration – IOM) dan mitranya tengah bergegas membangun jalan di Cox’s Bazar Bangladesh untuk memperbaiki akses bantuan kemanusiaan ke daerah perbukitan, dimana ratusan ribu pengungsi Rohingya menetap di kamp-kamp darurat.

Lokasi pengungsian dimana orang-orang Rohingya telah menetap sangat padat dan berada di daerah yang sulit dicapai, dengan drainase yang tidak mencukupi dan sedikit atau tidak ada akses jalan.

Hal ini dilaporkan oleh Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) pada hari Jumat 10 November 2017, seperti dirilis oleh situs resmi PBB, Jumat (10/11).

Beberapa jalan yang ada sangat berlumpur dan tidak padat, sehingga sangat sulit menjangkau pengungsi untuk memberikan layanan yang mereka butuhkan.

Sejak 25 Agustus, diperkirakan 613.000 pengungsi Rohingya tiba di Cox’s Bazar, melarikan diri dari kekerasan di Myanmar. Populasi pengungsi di wilayah ini sekarang lebih dari 826.000 jiwa.

IOM kini berupaya mengkoordinasikan pengelolaan lokasi di sebuah lokasi yang sekarang menampung sekitar 423.000 orang pengungsi.

Pejabat IOM mengatakan bahwa orang-orang mendaki berjam-jam di bawah terik matahari, sering membawa beban berat dari titik distribusi, untuk mencapai tempat penampungan mereka.

Bukit curam dan jalur berbahaya mengakibatkan anak-anak, orang tua dan orang-orang cacat seringkali tidak dapat bergerak di sekitar lokasi pengungsian.

Pada bulan Oktober 2017, IOM telah membangun sekitar 850 meter jalan menuju Balukhali untuk memungkinkan badan-badan kemanusiaan memberikan bantuan guna menyelamatkan nyawa setidaknya 50.000 jiwa pengungsi.

“Jalan ini memiliki akses yang jauh lebih baik bagi pengungsi dan pelaku kemanusiaan,” kata Petugas Proyek IOM Water, Sanitation and Hygiene (WASH) Stephen Waswa Otieno.

“Kontraktor sekarang dapat mengirimkan bahan-bahan di dalam lokasi, yang memungkinkan kami membangun infrastruktur baru yang penting. Misalnya, salah satu mitra kami baru saja membangun sebuah pusat distribusi baru, membawa bantuan lebih dekat kepada keluarga yang membutuhkannya,” catatnya.

IOM saat ini sedang mengerjakan enam proyek lainnya, memberikan akses lebih banyak dari jalan utama di luar lokasi, dan di dalam lokasi. Hal ini juga membangun lima jembatan, yang akan memungkinkan orang dan kendaraan untuk melintasi kanal dan sungai di berbagai wilayah di lokasi.

Badan ini juga berupaya untuk mengurangi ancaman tanah longsor di lahan yang baru saja didiami dimana banyak tempat penampungan bertengger di lereng bukit yang curam.

Tim IOM telah mendistribusikan semacam kantung khusus yang bisa diisi oleh pengungsi dengan tanah dan digunakan untuk membuat dinding dan teras penahan. Cara ini juga bisa digunakan untuk mengangkat tempat penampungan dari lantai tanah berlumpur, membantu agar tetap kering, terutama bila terjadi banjir bandang.

Para pengungsi pendatang baru juga mendapatkan layanan medis berupa imunisasi campak.

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Dana Anak-anak PBB (UNICEF) meningkatkan upaya imunisasi di kamp-kamp yang penuh sesak dan tempat penampungan sementara yang dekat dengan perbatasan dengan Myanmar sebagai tanggapan atas peningkatan jumlah kasus campak yang mungkin muncul di antara pengungsi Rohingya yang baru tiba, juga komunitas warga sekitar lokasi pengungsian.

“Anak-anak sangat berisiko terkena wabah campak dan penyakit menular lainnya yang diakibatkan oleh kondisi masyarakat yang padat, kekurangan gizi dan kekurangan air dan sanitasi di kamp dan tempat lainnya,” kata Edouard Beigbeder, Perwakilan UNICEF Bangladesh.

“Untuk menghentikan wabah yang lebih luas lagi, penting agar upaya terkoordinasi segera dilakukan untuk melindungi sebanyak mungkin anak-anak.”

Badan-badan PBB dan mitranya akan mengelola vaksin campak dan rubella kepada hampir 360.000 orang dalam kelompok usia enam bulan sampai 15 tahun diantara kedatangan Rohingya baru di Cox’s Bazar dan komunitas tuan rumah mereka.

Pada tanggal 4 November, satu kematian dan 412 kasus campak yang dicurigai telah dilaporkan terjadi di antara populasi rentan yang tinggal di Cox’s Bazar, Bangladesh.

“Sebagai bagian dari upaya vaksinasi ditingkatkan, 43 situs layanan kesehatan tetap, 56 tim vaksinasi dan tim vaksinasi di titik masuk perbatasan utama akan mengelola vaksin MR ke populasi berusia enam bulan sampai 15 tahun,” kata Perwakilan WHO untuk Bangladesh N Paranietharan. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar