oleh

PBB : ISIS/ISIL Lakukan Kejahatan Internasional di Mosul

PENANEGERI, Desk Internasional – Laporan PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa) dalam situs berita resmi PBB menyimpulkan bahwa kelompok ISIL/ISIS telah melakukan ‘kejahatan internasional’ selama pertempuran di Mosul, Irak.

Kelompok Negara Islam Irak dan Levant (ISIL / Da’esh/ISIS) dinyatakan telah melakukan pelanggaran serius dan sistematis di Irak yang berarti adalah “kejahatan internasional” selama pertempuran sembilan bulan untuk Mosul, antara kelompok teroris itu dan pasukan pemerintah Irak, demikian sebuah laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam kesimpulannya.

“Mereka yang bertanggung jawab harus menjawab  kejahatan keji mereka,” kata Komisioner Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (UN High Commissioner for Human Rights ) Zeid Ra’ad Al Hussein, seperti  yang dimuat dalam rilis resmi situs PBB, menyebutkan adanya pembunuhan ala eksekusi pada warga sipil, penderitaan yang ditimbulkan pada keluarga masyarakat, dan penghancuran harta benda, terutama selama periode dari bulan November 2016 sampai Juli 2017.

Laporan tersebut, dirilis pada hari Kamis (2/11) oleh Misi Bantuan PBB untuk Irak atau UN Assistance Mission for Iraq (UNAMI) dan oleh Kantor Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia PBB atau The Office of the UN High Commissioner for Human Rights (OHCHR), yang mendokumentasikan penculikan massal warga sipil, penggunaan ribuan orang sebagai perisai manusia, penembakan yang disengaja pada tempat tinggal warga sipil, dan penembakan tanpa pandang bulu bagi warga sipil yang mencoba melarikan diri dari kota Mosul.

Pada bulan Juli 2017, Pasukan Keamanan Irak atau Iraqi Security Forces (ISF) dan kelompok bersenjata yang berafiliasi merebut kembali kota yang telah berada di bawah kendali ISIL/ISIS sejak bulan Juni 2014 lalu.

Laporan PBB tersebut menemukan setidaknya sejumlah 2.521 orang warga sipil tewas dalam operasi militer selama sembilan bulan tersebut, sebagian besar akibat serangan ISIL/ISIS, termasuk 741 orang yang dieksekusi.

Laporan tersebut mencatat bahwa sejak tahun 2014, setidaknya ditemukan 74 kuburan massal yang telah ditemukan di wilayah yang sebelumnya dipegang oleh ISIL/ISIS di Irak itu. Selain itu, pada tanggal 26 Oktober 2017, Korps Pertahanan Sipil 9 (Civil Defence Corps) melaporkan bahwa mereka telah menemukan sisa-sisa jenazah 1.642 orang warga sipil dari bawah reruntuhan di Mosul.

Laporan tersebut mengisahkan bahwa pada awal November 2016, di wilayah Mosul di bawah kendali ISIL/ISIS, anggota kelompok tersebut menggunakan pengeras suara untuk mengumumkan bahwa penduduk daerah yang direbut kembali oleh ISF (Iraq Security Forces) dianggap sebagai “target yang sah” karena ‘kegagalan’ mereka untuk berperang melawan Kekuatan pemerintah

Perwakilan Khusus Sekjen PBB untuk Irak, Ján Kubiš, mengatakan bukti menunjukkan bahwa ISIL/ISIS melakukan kekejaman massal terhadap warga sipil dan Mosul itu sendiri, sebuah kota yang mereka klaim sebagai ibukota mereka, namun untuk itulah, pada kenyataannya, mereka melakukan penghancuran terakhir dan disengaja.

“Pemerintahan teror Da’esh tidak menyelamatkan siapa-siapa, menimbulkan penderitaan yang tak terkatakan pada penduduk tak bersenjata yang hanya bersalah karena mereka tinggal di wilayah yang berada di bawah kendali ISIL,” katanya.

“Tindakan jahat mereka tidak berhenti untuk membunuh dan meneror warga, karena mereka sengaja menghancurkan monumen budaya dan agama, termasuk menara miring ikon kota Al-Hadba,” tambah Jan Kubiš.

Laporan tersebut meminta masyarakat internasional, termasuk Dewan Keamanan PBB dan Dewan Hak Asasi Manusia, untuk mengambil tindakan untuk memastikan bahwa mereka yang bertanggung jawab atas kejahatan internasional seperti genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan perang bertanggung jawab.

Laporan tersebut juga mendesak pihak berwenang Irak untuk menyelidiki dugaan pelanggaran dan pelanggaran hak asasi manusia oleh Iraqi Security Forces (ISF) dan pasukan terkait, selama operasi militer tersebut.

Laporan ini mencatat 461 kematian warga sipil akibat serangan udara selama fase paling intensif dari serangan yang dipimpin ISF mulai 19 Februari 2017 lalu. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *