oleh

PBB : Jumlah Pengungsi Rohingya Hampir 500 Ribu Jiwa

PENANEGERI, Desk Internasional- PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa) menyatakan bahwa jumlah pengungsi Rohingya yang melarikan diri dari Myanmar telah mendekati jumlah 500.000 orang pengungsi, Jumat (22/9).

Dengan jumlah pengungsi Rohingya dari Myanmar yang tiba di wilayah tenggara Bangladesh makin bertambah mendekati setengah juta orang pengungsi Rohingya, maka badan-badan bantuan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa berupaya meningkatkan penyampaian bantuan yang dapat menyelamatkan jiwa pengungsi  ke dua kamp pengungsian resmi, di mana masalah kesehatan berkembang dengan cepat.

Atas permintaan pihak berwenang Bangladesh, Kantor Komisi Tinggi Urusan Pengungsi PBB (UNHCR- UN High Commissioner for Refugees) mempercepat pembagian terpal plastik pada sebanyak mungkin pengungsi, agar ada perlindungan dari musim hujan dan angin yang kini mendera di wilayah pengungsian Rohingya di Cox Bazaar di Bangladesh.

“Pada hari Sabtu (23/9), kami berencana untuk mulai mendistribusikan kitchen set, alas tidur, lampu tenaga matahari dan barang-barang bantuan penting lainnya ke 3.500 keluarga awal yang telah dipilih oleh pemimpin masyarakat,” juru bicara UNHCR Andrej Mahecic mengatakan dalam sebuah konferensi pers di Jenewa.

Para relawan juga terus berupaya membantu para pengungsi yang baru tiba ke tempat penampungan darurat terutama di kamp pengungsi di Kutupalong, Bangladesh.

 

Namun sangat penting agar UNHCR memiliki kesempatan untuk menyediakan sanitasi secara memadai dan memastikan struktur bangunan kamp pengungsi dipasang lebih tinggi, agar tanah tidak rentan terhadap banjir.

Secara keseluruhan, lebih dari 700.000 pengungsi Rohingya sekarang diyakini berada di wilayah Bangladesh, dengan jumlah 420.000 orang  para pengungsi Rohingya telah tiba dalam tiga setengah minggu terakhir ini.

Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi Filippo Grandi akan berada di Bangladesh akhir pekan ini untuk melihat langsung skala krisis dan juga bantuan UNHCR, dan bertemu dengan para pengungsi.

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa kamp-kamp pengungsi telah penuh sesak dan ada risiko penyakit yang sangat besar.

“WHO sangat memperhatikan situasi kesehatan di perbatasan antara Myanmar dan Bangladesh, mengingat permukiman yang sangat padat, kebanyakan darurat (spontan),” kata Fadela Chaib, juru bicara WHO di Jenewa.

“Untuk menggelar tanggap darurat, paling tidak karena medan yang sulit dan hujan yang sangat deras, dan fakta bahwa populasi pengungsi yang  tersebar, kerap berpindah dan sering terluka,” tambahnya.

Chaib mengatakan bahwa risiko terbesar terkait dengan air dan sanitasi, dengan kondisi yang buruk meningkatkan risiko penyakit akibat bakteri.

Penyakit Kolera, yang endemik di Bangladesh, tidak bisa dikesampingkan, karena itu  WHO telah menyediakan  tablet pemurni air.

“Tingkat imunisasi di kalangan anak-anak sangat rendah,” katanya, menjelaskan bahwa ketika anak-anak kekurangan gizi dan terpapar unsur-unsurnya, risiko penyakit masa kanak-kanak seperti campak sangat tinggi.

WHO, bersama dengan badan bantuan kemanusiaan lain, baru-baru ini meluncurkan  imunisasi untuk melawan penyakit polio dan campak. Karena kondisi cuaca yang buruk dan masuknya para pengungsi yang terus-menerus, imunisasi tersebut telah diperpanjang.

Sekitar 40 staf WHO telah dikirim ke Bangladesh, termasuk tim epidemiologi pada akhir pekan untuk mendukung penilaian risiko penyakit menular.

Sedangkan badan PBB  World Food Program (WFP) kini telah membantu setidaknya 385.000 orang dengan bantuan makanan mulai hari Jumat (22/9). Bersama dengan mitranya, WFP memberi makan lebih dari 5.000 orang setiap hari di daerah tersebut.

“Situasi ini memprihatinkan dan WFP berada di garis depan yang berusaha memberi bantuan secepat mungkin,” ujar juru bicara Bettina Luescher mengatakan kepada wartawan di Jenewa. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *