oleh

PBB Perkirakan Jumlah Pengungsi Rohingya akan Segera Tembus 300 Ribu Jiwa

PENANEGERI, Desk Internasional-  PBB Menyatakan bahwa situasi penuh kekerasan di Rakhine, Myanmar bisa menyebabkan eksodus sekitar 300.000 orang Rohingya.

Jumlah pengungsi diperkirakan bisa dua kali lipat dari jumlah kini sebanyak 146.000 orang minoritas Muslim yang teraniaya yang telah melarikan diri dari pasukan keamanan Myanmar.

Dipayan Bhattacharyya, juru bicara Bangladesh untuk Program Pangan Dunia (WFP) di Bangladesh memperkirakan : sebanyak 300.000 Muslim Rohingya dapat melarikan diri dari kekerasan di Myanmar barat laut, ke negara Bangladesh.

Hal ini karena situasi dan kondisi warga Myanmar keturunan Rohingya yang kekurangan dana, menipisnya persediaan makanan darurat, bagi para pengungsi yang makin putus asa.

Menurut perkiraan yang dikeluarkan oleh pekerja Perserikatan Bangsa-Bangsa di wilayah perbatasan Bangladesh Cox’s Bazar, kedatangan para pengungsi sejak pertumpahan darah terakhir, dimulai dua minggu lalu, kini telah mencapai 146.000 jiwa Rohingya.

Karena itu, menurut Dipayan Bhattacharyya, juru bicara Bangladesh untuk Program Pangan Dunia (WFP) di Bangladesh, kondisi ini telah meningkatkan perkiraan jumlah pengungsi yang diperkirakan akan segera melonjak dari 120.000 jiwa pengungsi menjadi 300.000 jiwa pengungsi.

“Mereka mengalami kekurangan gizi, mereka telah terputus dari makanan normal selama mungkin lebih dari sebulan,” katanya kepada kantor berita Reuters. “Mereka jelas terlihat lapar, trauma,” tambahnya, Kamis (7/9).

Lonjakan pengungsi, diantaranya banyak yang sakit atau terluka, telah menguras sumber daya lembaga bantuan Internasional yang telah membantu ratusan ribu pengungsi akibat gelombang kekerasan di Myanmar.

Banyak pengungsi yang tidak memiliki tempat berlindung, dan lembaga bantuan berupaya menyediakan pasokan air bersih, sanitasi dan makanan.

Bhattacharyya mengatakan bahwa para pengungsi sekarang tiba dengan kapal dan juga melintasi perbatasan darat dari berbagai titik keberangkatan dari wilayah Myanmar.

Pekerja PBB lainnya di wilayah tersebut memperingatkan perkiraan tersebut bisa segera terjadi, mengingat kekacauan dan kurangnya akses ke wilayah di sisi Myanmar tersebut,  di mana militer Myanmar dilaporkan masih melakukan “operasi pembersihan”.

Sumber tersebut menambahkan angka 300.000 mungkin merupakan skenario terburuk.

Kekerasan terbaru dimulai saat gerilyawan Rohingya menyerang puluhan pos polisi dan sebuah pangkalan militer. Bentrokan berikutnya dan serangan balik militer menewaskan sedikitnya 400 orang dan memicu eksodus massal penduduk desa ke Bangladesh.

Kantor Berita Al Jazeera – dalam sebuah kunjungan yang disetujui oleh pemerintah di negara bagian Rakhine – telah mengunjungi beberapa desa milik kaum Rohingya dan desa non-Muslim.

Kantor Berita Al Jazeera melihat tingkat kehancuran yang tak terbayangkan. “Semua desa telah hancur,” lapor Kantor Berita Al-Jazeera dari ibukota Myanmar Naypyidaw.

“Kami mendengar laporan bahwa pertempuran masih berlangsung,” lanjut laporan tersebut.

Juru bicara PBB Stephane Dujarric mengatakan pada hari Rabu dari New York bahwa WFP (World Food Programme) mengajukan dana sebesar $ 11.3m untuk membantu para pengungsi Rohingya yang membanjir masuk di kamp-kamp pengungsian.

Dujarric menggambarkan wanita dan anak-anak yang tiba di sana sebagai “lapar dan kekurangan gizi”.

Krisis di negara Rakhine merupakan krisis terbesar yang dihadapi pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi, dan penanganannya telah menjadi sumber kekecewaan di antara pendukung demokrasi di Barat.

Dalam sebuah pernyataan pada hari Rabu (6/9), Su Kyi hanya menyalahkan “teroris” karena “adanya gunung es kesalahan informasi yang salah” atas perselisihan di Rakhine. Suu Kyi tidak menyebutkan tentang Rohingya yang telah melarikan diri. (*)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *