oleh

PBB Prihatin Kekerasan yang Makin Meningkat di Rakhine

PENANEGERI, Desk Internasional – Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres sangat prihatin atas bencana kemanusiaan yang terjadi di Myanmar barat setelah pembunuhan hampir 400 orang, kebanyakan Muslim Rohingya – dalam peristiwa kekerasan terburuk selama ini di Myanmar.

“Sekretaris jenderal sangat prihatin dengan laporan ekses selama operasi keamanan yang dilakukan oleh pasukan keamanan Myanmar di Negara Bagian Rakhine dan mendesak pengekangan dan ketenangan untuk menghindari bencana kemanusiaan,” demikian bunyi sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh kantor Sekjen PBB pada hari Jumat, (1/9).

Sekjen Antonio Guterres menyatakan sangat prihatin dengan laporan tindakan keras keamanan yang menewaskan ratusan Muslim Rohingya.

Kekerasan tersebut telah menyebabkan puluhan ribu muslim Rohingya melarikan diri melintasi perbatasan ke Bangladesh, sementara puluhan orang yang putus asa telah tenggelam berusaha menyeberangi sungai perbatasan dengan kapal darurat.

Laporan tentang pembantaian dan pembakaran desa secara sistematis telah menimbulkan kekhawatiran bahwa kekerasan di Rakhine telah berada di luar kendali.

Guterres mengatakan bahwa adalah tanggung jawab pemerintah untuk memberikan keamanan dan membiarkan badan bantuan menjangkau mereka yang membutuhkan.

Dewan Keamanan PBB telah mengadakan rapat pertemuan secara tertutup pada hari Rabu untuk membahas kekerasan tersebut, namun tidak ada pernyataan resmi mengenai krisis tersebut.

Sementara itu, Mevlut Cavusoglu, Menteri Luar Negeri Turki, mendesak Bangladesh untuk membuka pintunya karena melarikan diri dari Rohingya, menambahkan bahwa negara Turki akan membayar biaya tersebut.

Tidak hanya itu, Negara Turki juga akan meminta agar Organisasi Kerjasama Islam untuk membantu para pengungsi Rohingnya.

“Kami juga memobilisasi Organisasi Kerjasama Islam,” katanya di provinsi Mediterania Antalya.

“Kami akan mengadakan pertemuan puncak mengenai Arakan [negara bagian Rakhine] tahun ini. Kita perlu menemukan solusi yang menentukan untuk masalah ini,” ujar Cavusoglu menambahkan. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *